Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Rencana Menculik Yudhistira

Kamis, 30 April 2015

KISUTA.com - Segera setelah mengangkat Durna menjadi mahasenapati Kurawa, Duryudana, Karna, dan Dursasana merundingkan sebuah rencana. Kemudian, rencana tersebut disampaikan Duryudana kepada Durna. Katanya:

"Guru, kami ingin engkau menangkap Yudhistira hidup-hidup dan menyerahkannya kepada kami. Hanya itu yang kami inginkan. Hanya itu yang kami inginkan darimu dalam perang ini."

Mendengar teencana itu, hati Durna sangat senang. Sebenarnya ia tidak ingin membunuh para Pandawa. Meskipun demikian, untuk memenuhi kewajibannya kepada para Kurawa, dengan penuh kesetiaan ia bergabung dengan pasukan Kurawa untuk melawan Pandawa. Ia menyayangi putra-putra Kunti, terutama Yudhistira yang berhati bersih. Maka, ketika mendengar bahwa Duryudana ingin menangkap Yudhistira hidup-hidup, ia merasa sangat lega."

Kata Durna: "Semoga engkau diberkati Yang Esa. Rencanamu untuk tidak membunuh Yudhistira sungguh mulia. Hatiku sangat senang mendengarnya. Memang benar, Yudhistira adalah orang yang tidak punya musuh. Gelar Ajatsatru yang diberikan rakyat kepadanya memang terbukti dalam rencanamu yang sangat baik ini. Ketika engkau memutuskan untuk menangkapnya hidup-hidup, kemasyuharannya yang sudah luar biasa akan semakin berlipat-lipat."

Lanjut Durna: “Aku tahu apa maksudmu. Engkau ingin mengalahkan Pandawa dalam perang ini dan memberikan apa yang menjadi hak mereka. Kalian bisa hidup dalam damai dan penuh kasih persaudaraan. Aku bisa melihat dengan jelas rencanamu untuk menangkap Yudhistira hidup-hidup.”

Durna sangat gembira dan katanya lagi: “Yudhistira memang manusia yang paling beruntung di muka bumi ini. Para dewa menghujankan berkat yang melimpah pada putra Kunti yang berbudi luhur itu. Ia selalu berhasil merebut hati, bahkan musuh sekalipun.”

Namun demikian, niat Duryudana untuk menangkap Yudhistira hidup-hidup sama sekali lain dengan yang dibayangkan Durna. Setelah Durna menyetujui rencana tersebut dan berjanji untuk melakukan yang terbaik untuk menangkap Yudhistira, ia mulai mengungkapkan niat yang sebenarnya.

Tidak ada untungnya jika Yudhistira terbunuh, malahan amarah para Pandawa akan semakin memuncak. Perang akan berlangsung lebih sengit dan Duryudana tahu itu artinya sama saja dengan kekalahan pihaknya. Bahkan, jika perang terus dilanjutkan sampai kedua belah pihak hancur lebur, Krishna masih akan tetap hidup. Ia pasti akan mengangkat Drupadi atau Kunti untuk menduduki tahta kerajaan.

Di sisi lain, jika Yudhistira tertangkap hidup-hidup, pikir Yudhistira perang akan lebih cepat selesai dan kemenangan pasti akan ada di tangan Kurawa. Ia bisa memanfaatkan keluhuran budi dan kesetiaannya pada jalan dharma. Tampaknya tidak sulit untuk membujuk Yudhistira untuk bermain dadu kembali dan mengirimkan Pandawa ke hutan lagi.

Pertempuran yang telah berlangsung selama sepuluh hari sudah cukup untuk membukakan mata Duryudana bahwa perang hanya akan membawa kehancuran, alih-alih harapan yang diinginkan kedua belah pihak. Setelah mengetahui niat yang sebenarnya, mahaguru itu sangat kecewa. Dalam hati, ia mengutuk Duryudana. Namun demikian, apa pun niat yang ada di balik rencana itu, hati Durna cukup senang, karena Yudhistira tidak perlu dibunuh.

Kabar bahwa Durna berjanji untuk menangkap Yudhistira hidup-hidup segera terdengar di perkemahan Pandawa melalui mata-mata mereka. Para Pandawa sadar bahwa ketika mahaguru itu menjanjikan sesuatu, keandalannya dalam ilmu perang yang sulit dicari padanannya dan keberaniannya membuat rencana itu perlu ditanggapi secara sangat serius. Maka, mereka pun mulai menyusun formasi yang sedemikian rupa untuk memastikan Yudhistira tidak akan terabaikan tanpa pengawalan yang memadai.

Pada hari pertama Durna memimpin, mahaguru itu memperlihatkan ketangkasan dan energi yang luar biasa. Ia bergerak ke sana ke mari menghancurkan pasukan Pandawa seperti api yang membakar kayu bakar. Pergerakannya yang sangat cepat membuat pasukan Pandawa merasa bahwa Durna menyerang dari mana-mana, menghujani mereka dengan hujan panah. Bagaikan dewa kematian, ia mengubah medan laga menjadi panggung pembantaian pasukan musuh.

Ia berhasil memotong formasi pasukan Pandawa menjadi dua bagian. Hari itu ditandai banyak pertempuran antar-para kesatria terkemuka.Sadewa bertempur melawan Sengkuni yang ahli siasat dan tipu muslihat. Ketika kereta mereka hancur, mereka melompat turun. Bagaikan dua bukit yang tiba-tiba bergerak, mereka saling serang dengan gada dalam pertarungan satu lawan satu.

Di tempat lain, Bimasena bertarung melawan Wiwimsati. Kedua kereta kesatria itu hancur berantakan. Salya bertarung melawan kemenakannya, Nakula. Tapi pada akhirnya, kereta Salya terkena hantam dan hancur. Panji-panjinya tersungkur ke tanah dan terpaksa mengakui kekalahan. Kripa berhadapan dengan Dritaketu. Kripa berhasil memukul mundur Dritaketu. Satyaki bertarung sengit dengan Kritawarma dan Wirata bertarung melawan Karna. Abimanyu juga memperlihatkan keberanian yang luar biasa. Ia berhasil memukul mundur Paurawa, Kritawarma, Jayadrata, dan Salya dalam pertaringan satu lawan satu.

Kemudian, terjadi pertarungan yang sangat seru antara Bimasena melawan Salya. Salya berhasil dikalahkan dan dipaksa mundur. Melihat kekalahan itu, pasukan Kurawa kehilangan semangat tempur. Sementara itu, kemenangan Bima membuat gairah semangat pasukan Pandawa semakin berkobar.

Melihat hal itu, Durna memutuskan untuk membangkitkan semangat tempur pasukan dengan menyerang langsung Yudhistira. Dengan kereta emas yang ditarik empat kuda jantan dari lembah Shindu, ia menuju ke arah Yudhistira. Yudhistira menyambut kedatangan Durna dengan melepaskan anak panah bergerigi, yang dihias dengan kitir dari bulu burung garuda. Tapi Durna tidak gentar dan terus maju dengan kecepatan tinggi. Busur Yudgistira berhasil dipatahkan dan Durna semakin mendekat. Dristadyumna berusaha menghadang Durna, tapi sia-sia. Terdengar riuh teriakan pasukan: “Awas, awas Yudhistira akan ditangkap!” Durna sudah semakin dekat.

Tiba-tiba muncullah Arjuna di medan laga. Keretanya membuat bumi berguncang. Keretanya melaju dengan lincah di antara tumpukan tulang dan mayat yang berserakan. Durna menghentikan laju keretanya karena kedatangan Arjuna di arena.

Dengan Gandewa, Arjuna meluncurkan ratusan anak panah yang susul menyusul. Saking cepatnya gerakan Arjuna, tidak ada yang mampu memasang anak panah yang diambil dari kantong dan dipasang pada busur. Seolah-olah dari busur yang masyhur itu meluncur banjir anak panah yang tiada henti. Arena menjadi gelap karena saking banyaknya anak panah yang meluncur di udara.

Akhirnya, Durna mundur dan tidak berhasil membawa Yudhistira. Pertempuran pun berhenti karena saat itu sudah gelap. Pasukan Kurawa kembali ke perkemahan mereka dengan perasaan yang tertahan. Sementara itu, pasukan Pandawa kembali ke perkemahan mereka dengan hat6i bangga. Keswa (Krishna) dan Arjuna berjalan dan saling berbicara di belakang mereka. Demikianlah perang hari kesebelas.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya