Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Lahirnya Batara Wisnu

Jumat, 1 Mei 2015

KISUTA.com - Suara cengkerik yang bersahut-sahutan di temaram senja, bagaikan paduan suara penghias redup malam yang mengantarkan alam romantis di kahyangan Jonggring Saloka. Sanghyang Girinata yang berhasil mendapatkan istri jelita Bathari Uma, seperti tidak menyia-nyiakan kesempatan sebagai suami.

Sesuai permintaan istrinya, Batara Guru atau Sanghyang Girinata selalu membekali dirinya dengan pengharapan dalam doa, saat mengawali naik ke peraduan menunaikan hasratnya sebagai suami.

Pada saat itu Batara Guru memutuskan untuk memiliki keturunan. Siang malam ia bermain cinta dengan Batari Uma seperti layaknya manusia. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang putra yang kelahirannya disertai bau harum semerbak ke seluruh alam. Putra pertama ini diberi nama Batara Sambu yang memiliki sifat jujur dengan perbawa/perlambang ‘awan’ (mega). Setelah Dewasa Batara Sambu bersemayam di kahyangan Suwelagiring, dan dijodohkan dengan Dewi Darmastuti putri dari Sanghyang Ismaya dengan Batari Kanestren.

Setelah kelahiran Batara Sambu, madu asmara Batara Guru sepertinya tak puas direguk, dua tahun kemudian Batari Uma melahirkan putra kedua yang disertai api besar menyala-nyala, menjilat ke angkasa. Putra kedua ini diberi nama Batara Brahma. Batara Brahma yang memiliki sifat semangat yang menyala-nyala dengan perbawa/perlambang ‘api’. Setelah dewasa Ia bersemayam di kahyangan Tursina Geni (Daksina Geni). Batara Brahma dinikahkan dengan putri Sanghyang Nioya, Batari Saci. Batara Brahma dikaruniai banyak putra dan putri, yaitu : Batara Maricibrama, Batara Naradabrama, Batara Bramanasa, Batara Bramasadewa, Batara Bramanasadara, Batara Bramarakanda, Batara Bramanaresi, Dewi Bremani, Dewi Bramanisri, Batara Bramaniskala, Batara Bramanayara, Dewi Bramanista, Dewi Bramaniyari, Dewi Bramaniyodi, Batara Bramanayana, Batara Bramaniyata, Batara Bramanasatama, Dewi Bramanayekti, Dewi Bramaniyuta, Dewi Dresnala, Dewi Dreswati. Dewi Dresnala kelak akan melahirkan Wisanggeni hasil hubungannya dengan Arjuna.

Dua tahun kemudian Batari Uma melahirkan putra ketiga yang disertai hujan deras dan gempa bumi di berbagai belahan dunia. Putra ketiga ini diberi nama Batara Indra. Batara Indra memiliki sifat dengan perbawa/perlambang ‘halilintar’. Setelah dewasa Batara Indra bersemayam di kahyangan Rinjamaya (kahyangan kaindran). Indra dinikahkan dengan Dewi Wiyati putri Sanghyang Nioya, mereka dikaruniai putra dan putri, yaitu : Dewi Tara, Dewi Tari, Batara Citrarata, Batara Citragana, Batara Jayantaka, Batara Jayantara, Batara Harjunawangsa.

Dua tahun kemudian Batari Uma melahirkan lagi seorang putra yang disertai angin dahsyat menerjang alam semesta. Putra keempat ini diberi nama Batara Bayu yang memiliki sifat daya atau kekuatan dengan perbawa/perlambang ‘angin’. Setelah dewasa Batara Bayu bersemayam di kahyangan Panglawung, ia menikah dengan Dewi Sumi putri Batara Soma, cucu dari Sanghyang Pancaresi yang adalah keturunan Sanghyang Darmajaka (Darmakaya) kakak kandung Sanghyang Wenang. Perkawinan Batara Bayu dengan Dewi Sumi dikaruniai empat orang putra, yaitu : Batara Sumarma, Batara Sangkara, Batara Sadarma, dan Batara Bismakara.

Kelahiran ke empat putranya berturut-turut, membuat Sang Girinata mendapat teguran dari ayahandanya Sanghyang Tunggal:

SanghyangTunggal: Anakku ngger Girinata, ketahuilah anakku..melahirkan keturunan memang ibadahmu untuk menyiapkan penghuni kahyangan dan keturunan jalma manusia. Tetapi anakku, kalau kesibukanmu ini tidak didasari kebutuhan akan sosok panutan yang bisa membantumu menjaga keutuhan dunia, apa gunanya?

Sanghyang Girinata: Rama Pukulun maafkan hamba, bukankah anak-anak hamba semuanya memiliki keistimewaan dari doa yang hamba panjatkan sebelum hamba melakukan hubungan asmara dengan yayi Uma...

Sanghyang Tunggal: Anakku Girinata, cobalah kamu lebih premana..di Arcapada, keadaan menjadi Ambondhan tanpo ratu, ngalasake negoro...artinya banyak manusia tidak menghormati peraturan, bertindak kacau. Negara diperlakukan seperti hutan rimba, kekuatan dan kekuasaan banyak di salah gunakan...

Sanghyang Girinata: Apa yang bisa hamba lakukan dengan keadaan seperti itu Rama?

Sanghyang Tunggal: Kamu memerlukan seorang putra yang bisa menitis ke Arcapada, putra yang mampu membenahi tatanan, bijaksana, sakti dan adil. Putramu harus waskita terhadap Sawat ambalang kayu...yaitu munculnya para peramal, juru tenung, tukang sihir yang menguraikan ramalannya tanpa dasar hingga membuat dunia bertambah kacau...putramu juga harus bisa mengenali Setan nggowo Ting, Setan yang berkeliaran membawa lentera, yaitu orang yang berkeliaran kesana kesini untuk menghasut dan berbuat jahat.

Sanghyang Girinata: Berat sekali tugas putra kelima hamba, bekal apa yang bisa berikan untuk kelahirannya rama pukulun?

Sanghyang Tunggal: Untuk itu, lakumu dalam memadu asmara dengan Uma, tidak bisa dilakukan secara biasa, harus dengan laku aji asmaracipta, asmaraturida, asmaragama.

Sanghyang Girinata: Sendika dawuh Rama Pukulun.

Hyang Manikmaya dan Dewi Uma menuruti nasehat Sanghyang Tunggal. Dari lelaku mereka lahirlah putra kelima yang diiringi oleh berbagai macam perubahan cuaca yang menimbulkan bencana alam seperti panas, hujan yang disertai petir, dan angin topan prahara yang sangat dahsyat. Peristiwa tersebut menimbulkan kembali membuncahnya lahar api Candradimuka.

Putra kelima Hyang Manikmaya dan Dewi Uma diberi nama oleh Sanghyang Tunggal dengan nama Batara Wisnu yang memiliki sifat bijaksana, perbawanya adalah manunggalnya empat sifat, yaitu sifat jujur (Batara Sambu), semangat (Batara Brahma), rasa (Batara Indra), dan daya atau kekuatan (Batara Bayu). Setelah Dewasa Batara Wisnu bersemayam di kahyangan Untarasegara, ia menikah dua kali karena kedua istrinya berlainan masa adalah putri dari Batara Wismaka (putra kelima Sanghyang Pancaresi), yang pertama adalah dewi Sri Pujayanti (Dewi Laksmita) dan Dewi Sri Sekar (Dewi Widowati). Dari Dewi Sri pujayanti (Dewi Laksmita), Batara Wisnu dikaruniai putra dan putri, yaitu : Batara Heruwiyana, Batara Ishawa, Batara Bhisawa, Batara Isnawa, Batara Isnapurna, Batara Madura, Batara Madudewa, Batara Madusadana, Dewi Srihuna, Dewi Srihuni, Batara Pujarta, Batara Panwanboja, Batara Sarwedi.

Dari perkawinannya dengan Dewi Sri Sekar, Batara Wisnu dikaruniai tiga orang anak, yaitu : Batara Srigati (pendiri negara Purwacarita, ia menjadi raja Purwacarita bergelar Prabu Sri Mahapunggung), Batara Srinada (pendiri negara Wirata/Wirata kuno, ia menjadi raja Wirata bergelar Prabu Basurata), Dewi Srinadi.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya