Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Perang Bharatayuda Hari Kedua Belas

Sabtu, 2 Mei 2015

KISUTA.com - Rencana menculik Yudhistira hidup-hidup gagal. Durna membicarakan kegagalan ini dengan Duryudana.

Kata Durna: "Kita tidak bisa menangkap Yudhistira hidup-hidup jika Arjuna ada di dekatnya. Ini bukan keinginanku. Jika dengan sedikit tipu daya kita bisa menjauhkan Arjuna dari Yudhistira, aku bisa menembus formasi Pandawa dan menangkap Yudhistira. Aku berjanji akan menangkap dan membawanya kepadamu, sejauh dia tidak lari meninggalkan medan perang. Jika dia berbuat demikian, itu artinya kita telah memenangkan perang, bukan?"

Mendengar pembicaraan Durna, Raja Trigarta merundingkan masalah ini dengan kakaknya. Mereka menyusun rencana. Mereka bersumpah samsaptaka dan menantang Arjuna untuk bertempur dan dengan demikian menjauhkan Arjuna dari sisi Yudhistira.

Begitulah, sumpah itu diucapkan sesuai dengan tradisi, yaitu duduk mengelilingi api unggun dan mengenakan pakaian dari rumput. Mereka melangsungkan upacara kematian yang menggambarkan seolah-olah mereka telah tewas. Kemudian mereka bersumpah: “Kami tidak akan kembali sebelum membunuh Arjuna. Jika kami lari meninggalkan pertempuran, semoga para dewa menghukum kami seberat-beratnya.”

Setelah mengajukan permohonan di depan api unggun, mereka berjalan ke arah selatan, arah yang diyakini sebagai arah kematian. Mereka menyeru-nyerukan nama Arjuna dan menantangnya bertarung sampai mati. Mereka menjadi pasukan berani mati yang dirancang untuk mencapai apa yang dianggap paling penting oleh Durna.

Arjuna menghadap Yudhistira dan berkata: “Tuanku Raja, aku ditantang untuk melakukan pertarungan sampai mati. Aku harus memenuhi tantangan Susarma dan pasukannya itu. Aku akan hancurkan mereka. Izinkan aku menghadapi tantangan mereka.”

Kata Yudhistira: “Adikku terkasih, engkau tahu rencana Durna. Ingat itu dan lakukanlah apa yang kau anggap baik. Durna adalah mahaguru yang tak terkalahkan, pemberani, kuat, dan amat tangkas dalam berbagai olah senjata. Ia tidak mengenal kata lelah dan tidak ada yang bisa luput dari matanya yang awas.”

Jawab Arjuna: “Tuanku Raja, ini adalah Satyajit. Dia akan melindungimu. Selama ia masih hidup dan ada di sisimu, tidak sesuatu pun yang bakal terjadi padamu.” Setelah berkata demikian, Arjuna meminta pangeran Panchala untuk menjaga Yudhistira. Kemudian, seperti singa lapar Arjuna melompat menyambut tantangan itu.

Ketika mereka melaju mendekati pasukan Raja Trigarta, Arjuna berkata kepada Krishna: “Krishna, lihatlah Raja Trigarta dan pasukannya. Merka berdiri gagah dengan wajah bahagia karena sumpah mereka. Mereka tahu mereka semua pasti akan menemui kematian. Mereka bahagia karena sebentar lagi akan diantarkan menuju surga.”

Hari itu hari kedua belas perang besar ini. Perang berlangsung sengit. Tidak beberapa lama, serangan Arjuna berhasil memukul telak pasukan Trigarta. Mereka buyar terkena hujan panah Arjuna. Susarma berteriak-teriak mengingatkan sumpah mereka.

“Wahai para pahlawan yang perkasa, kita telah bersumpah di hadapan Batara Agni dan di hadapan bala tentara yang lain. Setelah melakukan sumpah itu, tidaklah pantas kalian lari tunggang langgang seperti ini. Jangan biarkan kita menjadi bahan tertawaan orang.” Seruan itu disampaikan dengan sorak-sorai. Mereka kembali menghadapi Arjuna dengan gagah berani.

Kata Arjuna: “Mereka tidak takut mati. Ayo, kita terjang mereka.”

Dengan sais Krishna, kereta Arjuna bergerak seperti layaknya kereta perang Batara Indra dalam perang besar antara para dewa dan raksasa. Mereka melaju ke sana ke mari dan setiap kali mereka selalu berhasil menebarkan kematian di antara pasukan Trigarta. Darah mengalir di mana-mana. Pertempuran berlangsung amat sengit. Kadang kereta dan panji-panji Arjuna tampak tenggelam dalam gelombang hujan panah pasukan Trigarta.

Teriak Krishna: “Arjuna, apakah engkau masih hidup?”

Jawab Arjuna: “Ya” sembari menarik Gandewanya untuk menghadang hujan panah itu.

Medan perang menjadi lautan mayat. Banyak potongan tubuh yang tercabik-cabik. Banyak pula kepala yang terlepas dari tubuh. Pemandangan di medan perang sangat mengerikan.

Sementara Arjuna sibuk meladeni pasukan Trigarta, Durna memerintahkan penyerangan ke tempat di mana Yudhistira berada. Yudhistira bisa membaca gelagat ini. Ia segera memberitahu Dristadyumna. “Durna bergerak mendekatiku. Mintalah pasukanmu untuk bersiaga.”

Putra Drupada itu tidak mau menunggu serangan Durna. Ia maju sendirian dengan keretanya untuk menghadang Durna.

Durna berusaha menghindari Dristadyumna. Dia tahu dia ditakdirkan mati di tangan Dristadyumna. Ia segera mengarahkan keretanya ke arah Drupada. Pasukan Drupada mendapat serangan hebat Durna. Banyak yang terluka dan mati karena serangan itu. Kemudian, Durna kembali bergerak menuju tempat Yudhistira. Para Pandawa tetap tenang. Mereka menyambut kedatangan Durna dengan hujan panah. Satyajit menyerang kereta Durna. Maka, terjadilah pertempuran yang sangat sengit. Wajah Durna tampak seram seperti wajah Dewa Penghancur. Banyak kesatria tewas di tangannya. Di antara yang tewas adalah Wrika, pangeran Panchala dan Satyajit.

Melihat itu, Satanika, putra Wirata maju menghadang Durna. Tidak lama kemudian, kepala Satanika menggelinding di tanah dengan sumping warna keemasan masih utuh di telinga. Katama juga maju menghadang. Ia pun tewas. Kemudian, Washudana menyerbu membalas kematian Katama, tetapi ia juga menemui ajal.

Yudhamanyu, Uttamaujas, Satyaki, dan Srikandi berusaha menghentikan Durna. Tetapi mereka semua berhasil dipukul mundur. Saat itu, Yudhistira sudah hampir berada di dalam jangkauan Durna.

Pada saat kritis itu, Panchala, putra Drupada, mengamuk menyerang Durna dan bertarung dengan amat gigih. Tapi, ia pun mengalami nasib yang sama seperti kesatria yang lain. Ia roboh dari keretanya seperti bintang jatuh.

Melihat kemenangan Durna, hati Duryudana amat senang. Katanya kepada Karna dengan gembira: “Karna, apakah engkau melihat keberanian mahasenapati kita? Semangat tempur pasukan Pandawa pasti akan hilang lenyap. Lihatlah betapa pasukan Pandawa tidak berdaya menahan serangan Durna.”

Karna menggeleng-gelengkan kepala. Katanya: “Jangan terlalu yakin dulu. Para Pandawa tidak akan mudah menyerah. Mereka tidak akan menyerah. Pengalaman pahit yang mereka alami terlalu berat untuk dilupakan. Engkau pernah mencoba meracun, membunuh hidup-hidup mereka. Engkau pernah merendahkan mereka serendah-rendahnya dalam permainan dadu. Kemudian engkau membuang mereka ke hutan selama bertahun-tahun. Mereka tidak akan menyerah. Lihatlah, mereka menggalang kekuatan dan mengerahkan seluruh pasukan untuk menghadang Durna. Lihatlah, di sana ada Bima, Satyaki, Yudhamanyu, Kesatradharma, Nakula, Uttamujas, Drupada, Wirata, Srikandi, Dristaketu, dan kesatria lain. Semuanya berusaha melindungi Yudhistira dan menyerang Durna dengan hebat. Kita tidak boleh diam saja di sini. Meskipun ia sakti mandraguna, kekuatannya tetap ada batasnya. Bahkan serigala yang bersatu padu bisa mengalahkan gajah yang perkasa. Ayo kita bantu Durna. Kita tidak boleh tinggal diam.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya