Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Tutunggangan Sanghyang Girinata

Minggu, 3 Mei 2015

KISUTA.com - Alkisah di lereng Suralaya, Prabu Pattanam raja bangsa dedemit (jin) di Dahulagiri mempunyai tiga putra yaitu, Andini (Andana), Cingkarabala dan Balaupata. Andini berujud lembu yang memiliki bulu keemasan, bisa terbang secepat kilat dan dari mulutnya bisa menyembur api yg mampu menghancurkan sebuah kota. Karena kesaktiannya, bahkan kotoran lembu Andini pun menjadi barang pusaka yang bisa menyuburkan tanah tandus. Karena itu lembu Andini dipuja-puja bagai dewa bagi masyarakat di Dahulagiri. Cingkarabala dan Balaupata berwujud raksasa kembar bersenjatakan alugora (gada). Mereka sangat rukun seia sekata, saling mendukung dalam mengejar cita-cita. Suatu hari mereka menghadap ayahandanya.

Andini: Kanjeng Rama, ijinkanlah ananda bertiga berupaya merubah nasib kita sebagai bangsa dedemit Rama.

Pattanam: Apa maksudmu Andini?

Andini: Rama mengetahui, bahwa bagi rakyat kita, hamba dan kedua adik hamba yayi Cingkarabala dan Balaupata, begitu dipuja, bahkan disembah-sembah bak dewata.

Pattanam: Itu benar ngger...Rama bangga dengan kalian, tentu itu berkat lelabuhan kalian pada sesama dan alam sekitarnya.

Andini: Ya Rama...jadi pertanyaan hamba, lalu seperti apakah lelabuhan para dewa itu? Kalau rakyat kita memuja kami bagaikan para dewa, bukankah ada kemungkinan kemampuan kami sejajar dengan para dewa itu? Kami ingin menjajal kemampuan Hyang Girinata, kalau kami bisa memenangkan adu kesaktian itu, kamilah putra-putramu yang akan merajai Triloka Rama...

(Kesenyapan menyergap sitihinggil Dahulagiri, angin tiba-tiba berhenti berhembus, segala suara senyap..Sang Prabu merasakan ilapat yang menyergap keheningan pikirnya)

Pattanam: Duh anakku.."Sugih singgih kalah karo kuwasa, sing kuwasa kapengin mukti wibawa, sing mukti wibawa isih ngresula butuh dhuwit, sing sugih dhuwit kapengin singgih, sing singgih kapengin kuwasa, sing kuwasa kapengin mukti wibawa, bola-bali kareping manungsa ora karu-karuwan"...Sadarlah Andini, Kekayaan dan kehormatan kalah dengan kekuasaan. Yang punya kekuasaan ingin dihormati, yang terhormat masih mengeluh butuh uang, yang kaya ingin terhormat, yang terhormat ingin kuasa. Selamanya keinginan manusia selalu tidak karuan...tidak pernah ada rasa syukur...keinginanmu itu muskil dan sangat berbahaya anakku, yang kamu tantang itu Raja Dewa...

Andini: Harus ada yang berani seperti kami Rama, tidak ada ruginya...kalau kami menang, derajad kita akan naik...kalau kami kalah, kami akan menghamba dan tunduk pada Hyang Girinata.

Setelah mendapat restu dari ayahandanya, mereka lalu berangkat menuju puncak Tengguru (kahyangan Jonggringsaloka). Cingkarabala dan Balaupata naik di punggung Andini. Lembu berbulu warna keemasan itu melesat ke angkasa raya bagaikan kilat tatit. Namun sebelum mereka sampai ke puncak Tengguru, di angkasa raya mereka telah dihadang oleh Sang Hyang Manikmaya. Melalui aji Pengabaran, Raja Tribuana itu telah waspada sebelumnya akan kedatangan mereka yang ingin menyerang kahyangan Jonggringsaloka, maka di angkasa mereka pun bertempur.

Andini yang sakti dapat mengeluarkan semburan api dari mulutnya, sedangkan Cingkarabala dan Balaupata kedua senjata mereka yang berbentuk alogora menggelegar seperti halilintar. Namun kesaktian mereka tidak setara dengan Sang Hyang Manikmaya. Cingkarabala dan Balaupata ambruk luruh ke bumi terkena pukulan tumbak pusaka Trengganaweni. Andini sendiri tidak berkutik, tubuhnya pun sama luruh terkena aji Kemayan yang dijapa oleh Sang Hyang Manikmaya. Ketiga putra prabu Pattanam tidak berdaya menghadapi kesaktian Sang Hyang Manikmaya, mereka mengaku takluk dan ingin mengabdi kepada Manikmaya.

Manikmaya: Andini, Cingkarabala dan Balaupata, kalian putra Prabu Pattanam. Aku mengenal ayah kalian sebagai raja yang santun, jauh dari angkara murka walau wujudnya dedemit. Bagaimana kalian putranya berani menantang aku dan menguji kesaktianku?

Andini: Duh pukulun mohon ampun jangan libatkan Rama, tak kurang-kurang beliau memperingatkan hamba untuk tidak melakukan hal ini. Tetapi hamba dan adik-adik hambalah yang bodoh, ingin menguji kemampuan, silau oleh pemujaan rakyat hamba.

Cingkarabala & Balaupata: Rama tidak bersalah pukulun...ampuni kami, jangan libatkan Rama kami.

Manikmaya: Hhmm...ternyata kalian anak-anak yang sangat berbakti dan mencintai sudarma kalian..itu menjadi pertimbanganku untuk mengampuni kalian. Andini, Cingkarabala Balaupata, camkanlah "Ora ana tindak kang luwih dening mbebayani lan ndrawasi marang awake dhewe, kajaba nindakake pagaweyan kanti srempeng sing juntrunge mung ngoyak derenge panguwasa, drajat lan bandha. Pakarti mangkono adate ora mempan pitutur becik lan panemune liyan kang wigati, anane mung rasa melik kang nggendhong lali"...Tidak ada perilaku yang lebih berbahaya daripada bekerja keras tetapi tujuannya mengejar kekuasaan, derajat dan harta. Perilaku demikian biasanya tidak mau mendengarkan nasihat baik dan pendapat orang lain yang sebenarnya penting. Yang ada hanya rasa ingin memiliki...

Andini: Ampuni kebodohan kami pukulun, terimalah bakti kami, paduka dapat memanfaatkan kesaktian dan kesetiaan kami. Tempatkanlah kami sebagai abdi setiamu...di manapun engkau tempatkan kami akan mengabdi dengan segenap jiwa dan raga kami.

Manikmaya: Seperti tadi aku katakan, keputusanku mengampunimu. Lebih karena baktimu pada prabu Pattanam sudarmamu...itu memiliki nilai yang tinggi dariku.

Cingkarabala & Balaupata: Terima kasih pukulun, bakti kami pada ramanda adalah karena sikap beliau yang layak kami jadikan panutan. Beliau penuh kasih, tidak membedakan anak-anaknya, setia pada keluarga dan menjalankan apa yang selalu beliau ajarkan dalam kesantunan.

Andini: Benar pukulun, bakti kami mengikuti tekad Rama Prabu yang pernah terucap..."Suka bungaha yèn kowe ginanjar dening Pangeran: duwe anak, nanging rumasaa yèn anak iku dadi têtanggunganmu gêdhe ing atase kuwajibanmu, mulane aja pêgat ênggonmu nglakoni kuwajiban mau: bapa dadi pangayomaning anak, dibisa murih wêdining anak marang bapa nganti umur 20 taun, sarta dibisa mardi ngajèni marang bapa nganti tumêkaning pati. Dene kuwajibaning bapa dadi paguroning anak nganti umur 10 taun, nglungguhana dadi sudarmaning anak nganti umur 20 taun, sarta dadia sumitraning anak nganti tumêkaning pati, yèn lali mung dèn elikake...Rama prabu mengutarakan kebahagiaannya karena Tuhan menganugerahkan anak pada beliau. Menurut beliau mempunyai anak berarti punya kewajiban untuk bertanggungjawab. Tidak boleh kendor dalam melaksanakan kewajiban tersebut: Ayah adalah pengayom anak. Upayakan supaya sampai umur 20 tahun anak takut kepada ayah dan tetap menghormati ayah sampai mati. Adapun kewajiban bapak sebagai guru adalah sampai anak umur 10 tahun, selanjutnya menempatkan diri sebagai ayah sampai umur 20 tahun, dan terakhir tetap menjadi teman bagi anak sampai mati. Bila anak lupa cukup mengingatkan.

Manikmaya: Luarbiasa...pangestuku selalu untuk Rama dan Ibumu yang secara wadag berujud demit tapi sulistyo ing sanubari. Andini, engkau akan aku tetapkan sebagai titihan abadiku, sehingga engkau selalu berdekatan denganku. Sedangkan kalian Cingkarabala dan Balaupata, kekompakan dan kerukunan kalian adalah kekuatan yang tiada bandingnya. Aku tugaskan kalian menjadi penjaga pintu Selometangkep. Jangan sampai ada jalma yang bisa melewati pintu itu kecuali atas ijinku.

Andini, Cingkarabala & Balaupata : Terima kasih pukulun kami akan estoni dawuh paduka dengan taruhan nyawa kami.

Demikianlah ketiganya diampuni dan diberi tugas oleh Hyang Girinata. Andini yang berwujud lembu dan mempunyai kecepatan yang sangat luar biasa dijadikan kendaraan pribadi Sang Hyang Manikmaya, sedangkan Cingkarabala dan Balaupata diberi tugas menjadi penjaga pintu gerbang Selamatangkep (pintu gaib kahyangan Suralaya atau Jonggringsaloka).*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya