Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Bhogadetta yang Gagah Berani

Senin, 4 Mei 2015

KISUTA.com - Durna terus berupaya menangkap Yudhistira, Tapi akhirnya upayanya gagal.

Duryudana memimpin pasukan gajah yang besar untuk melawan Bima. Bima menahan serangan Duryudana di keretanya dengan panah. Bima melemparkan tombak bermata bulan sabit tepat mengenaim panji-panji dan busur Duryudana. Melihat rajanya terdesak, Raja Angga turun ke gelanggang dengan mengendarai gajah raksasa. Tapi dengan tombaknya, Bimasena berhasil merobohkan gajah itu dan berhasil menewaskan Raja Angga. Melihat itu bala tentara Kurawa menjadi takut dan kebingungan. Mereka membuat gajah-gajah lain panik dan kalang kabut berlarian.

Ketika gajah-gajah berlarian kalang kabut, pasukan kuda juga kesulitan mengendalikan kuda mereka. Tidak sedikit prajurit yang mati ternjak-injak.

Melihat kekacauan yang terjadi pada pasukan Kurawa, raja Pragjotisa, Bhogadetta yang gagah berani naik pitam. Ia segera meloncat naik ke atas gajahnya yang masyhur, Supratika. Ia langsung menyerang Bima. Gajah perkasa itu menerjang dan dengan belalainya yang kuat meremukan kereta Bima. Untunglah, Bima bisa meloncat pada saat yang yepat. Bima tahu benar cara menghadapi gajah. Ia menyelinap ke bawah binatang raksasa itu. Ia hujani bagian-bagian vital gajah itu dengan pukulan sampai melengking kesakitan. Dengan belalainya, Supratika berusaha melepaskan Bima dari kakinya. Dengan gadingnya, Supratika mencoba menangkap dan meremukkan Bima dengan kaki-kakinya. Tapi dengan tangkas Bima menghindar dan masuk di antara kaki-kaki raksasa itu dan terus menghujani bagian-bagian vital dengan serangan. Supratika mengamuk karena kesakitan.

Untuk sementara waktu, Bima aman sembari menunggu ada gajah dari pasukan Pandawa yang datang menyerang Supratika hingga ia punya kesempatan untuk melepaskan diri dari gajah itu. Ketika Bima tidak tampak karena tertutup kaki-kaki raksasa itu, para prajurit mengira Bima tewas. Mereka berteriak: "Bima tewas! Gajah Bhogadetta berhasil membunuh Bima!" Seruan itu menggema di seluruh medan Kurusetra.

Yudhistira mendengar teriakan itu. Ia juga mengira Bima tewas. Ia segera perintahkan pasukannya untuk menyerang Bhogadetta. Raja Dasarma yang juga memiliki gajah raksasa menyerang Bhogadetta. Kedua gajah itu bertarung sengit. Tetapi Supratika memang bukan gajah sembarangan. Dengan gadingnya, ia tusuk gajah raja Dasarma sampai roboh dan mati. Ketika gajah itu bertarung sengit, Bima menggunakan kesempatan untuk menyelinap keluar dari kaki Supratika. Para prajurit Pandawa yang melihat segera berseru gembira ketika melihat Bima selamat.

Sekarang, Bhogadetta mendapat serangan dari segala arah. Tapi, ia tidak gentar. Duduk di atas gajahnya, ia tampak bersinar-sinar seperti api di tengah belantara. Tanpa mempedulikan pasukan yang mengepungnya, ia menerjang maju menuju kereta Satyaki. Dengan belalainya, Supratika menangkap dan menjungkir-balikkan kereta Satyaki. Untunglah, Satyaki bisa menyelamatkan diri. Dengan cekatan, sais keretanya juga bisa menyelamatkan kereta dan kuda. Ia segera membawa keretanya ke arah Satyaki.

Serangan gajah Bhogadetta menciptakan kekacauan di pihak Pandawa. Dengan belalainya, Supratika menagkapi dan membunuh banyak pasukan Pandawa. Bagaikan Batara Indra yang mengendarai Airawata ketika melawan para raksasa, Bhogadetta duduk di atas gajahnya. Supratika terus mengamuk memorak-porandakan bala tentara Pandawa. Serangan tombak yang dilontarkan membuat Supratika semakin buas. Seperti gembala yang menggiring ternak, Bhogadetta terus mendesak pasukan Pandawa. Bima kembali menyerang dengan kereta kuda baru. Supratika mengangkat belalai dan menyemprotkan lendirnya dengan keras ke arah Bima. Serangan itu membuat kuda-kuda Bima ketakutan dan lepas kendali.

Debu mengepul tinggi ke angkasa di tempat pertempuran tidak seimbang itu berlangsung. Arjuna melihat kekacauan yang ditimbulkan Bhogadetta dari tempatnya bertarung melawan pasukan Susarma. Ia khawatir kekacauan itu akan bertambah buruk. Katanya kepada Krishna: "Madhusudana, itu adalah suara Supratika, gajah Bhogadetta. Dengan gajahnya Raja Pragjotisa menjelma kekuatan yang sulit ditandingi. Ia pasti bisa meluluhlantakkan pasukan kita. Kita harus pergi ke sana dan menyelamatkan situasi. Kita telah cukup meremukkan Susarma dan pasukannya. Marilah bergegas ke arah pertempuran Yudhistira melawan Durna.

Krishna segera membawa kereta kuda ke medan pertempuran utama.

Susarma dan saudara-saudaranya mengejar dan berteriak-teriak: "Hai, berhenti! Berhenti!" Sambil berteriak mereka melontarkan tombak ke arah kereta Arjuna.

Arjuna merasa ragu. Pikirnya: “Di satu sisi, Susarma menantangku bertarung sampai mati dan aku tidak suka mundur dari tantangan seperti ini, tapi di sana, di sisi utara formasi pasukan kita tampak hancur berantakan. Pasukan kita membutuhkan bantuan yang segera.”

Sementara Arjuna berpikir, serangan tombak meluncur ke arahnya dan ke arah Janardhana. Dengan marah, ia lontarkan tiga anak panah. Susarma terpaksa mundur.

Tanpa membuang waktu mereka segera menuju tempat Bhogadetta mengamuk. Ketika melihat kereta kuda Arjuna, semangat pasukan Pandawa menyala kembali. Tidak lama kemudian, Arjuna telah berhadapan dengan Bhogadetta. Seperti Dewa Penghancur, Bhogadetta menyerang Arjuna. Tapi dengan tangkas Wasudewa menghindari serangan gajah yang mengamuk itu.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya