Lahirnya Batara Kala
KISUTA.com - Sinar matahari yang menerobos sela-sela dedaunan di puncak Mahendra (Gunung Lawu) menimbulkan sensasi romantisme yang mewah. Batara Guru yang sedang merenung di teras Kahyangan Argo Dumilah usai kekalahannya dengan Nabi Isa Almasih yang membuatnya harus menyingkir dari Jonggringsaloka, merasakan suasana magis yang membuatnya terusik, dan akhirnya mengajak istrinya Batari Uma, berpesiar mengelilingi gunung dengan menaiki Lembu Andini.
Sinar matahari yang menerpa tubuh Batari Uma, melengkapi keindahan batari surgawi itu, membuat parasnya semakin cantik. Batara Guru bangkit nafsunya dan ingin berolah asmara dengan istrinya itu di atas punggung Lembu Andini saat itu juga.
Batari Uma: Aduuh pukulun, nanti dulu...tahanlah hasrat Paduka, malu kita dengan Andini, walau lembu, dia lembu kadewatan, dia bisa antawecana dan tahu menilai perbuatan kita...
Batara Guru: Yayi Uma...jangan pedulikan Andini, dia sudah bersumpah setia mengabdi padaku...aku benar-benar tidak bisa menahan rasaku padamu yayi, turutilah kemauanku...
Batari Uma: Pukulun, paduka itu penguasa Tribuana, dan saya ini ratunya para bidadari lebih baik kita tunda dulu hasrat ini hingga kembali ke Argo Dumilah, lebih pantas hamba melayani paduka di peraduan kita...
(Sekeras apapun Batari Uma mengarahkan hasrat suaminya agar lebih pantas dalam etika kadewatan, Batara Guru tetap bersikeras mengajak Batari Uma menuruti hasratnya. Ia pun memangku istrinya hingga mengeluarkan air mani. Batari Uma menjerit lirih, meronta menghindar hingga air mani itu jatuh ke dalam laut selatan).
Batari Uma: Duuuh Pukulun...menyedihkan sekali paduka lupa pada wewaler..."jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang roso, roso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang ingsun, ingsun jumeneng pribadi"....Jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rasa, rasa pahamilah cahaya, cahaya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Dzat pemberi kehidupan...paduka telah mengumbar nafsu hingga lupa pada tingginya kedudukan paduka untuk bisa mengendalikan nafsu yg bisa merusak tatanan alam...
Batara Guru: Aku hanya ingin menunaikan hasratku...justru karena aku raja dewa, tidak ada yang bisa menghalangi niatku, apalagi engkau sisihanku dan Andini hanya tungganganku...apa salahnya?
Batari Uma (kecewa): Ah, liarnya nafsu paduka serupa liarnya nafsu yaksa, denawa yang mendekati nafsu binatang tanpa tatanan, tanpa kendali...
Kalimat Batari Uma bagaikan kutukan, tiba-tiba bumi berguncang, alam gelap seketika, angin berhembus kencang, daun-daun berterbangan, saat suasana reda, seketika itu juga tumbuh taring pada gigi Batara Guru, layaknya yaksa atau denawa. Batara Guru merasa sangat marah karena malu, diapun mengutuk Batari Uma harus berpenampilan sebagai raseksi jika dirinya bertaring seperti yaksa. Umpatan Batara Guru ini menjadi kenyataan, Batari Uma yang tadinya cantik jelita, tiba-tiba berubah wujud menjadi raseksi yang mengerikan. Batari Uma menjerit dan menangis sejadi-jadinya, Batara Gurupun merasakan penyesalan yang luarbiasa. Ia memacu Lembu Andini dan membawa Batari Uma pulang ke Kahyangan Argadumilah.
Sementara itu, air mani Batara Guru yang terjatuh di laut, membuat air laut bergolak mendidih karena panas. Lama kelamaan, air mani itu menjadi buih yang semakin lama semakin besar, disertai api yang berkobar-kobar. Batara Guru segera mengutus para dewa untuk mengatasi kejadian di laut tersebut. Para dewa utusan pun tiba di laut yang bergolak itu. mereka menghujani buih dengan senjata mereka, namun bukannya hancur namun malah semakin lama semakin besar dan pada akhirnya berubah menjadi raksasa.
Raksasa itu mengamuk, para dewa tidak mampu mengalahkannya dan mereka berlari pulang meminta perlindungan kepada Batara Guru. Raksasa tadi mengejar mereka hingga tiba di Kahyangan Argadumilah.
Batara Guru menghadapi raksasa itu dengan tenang. Raksasa itu bertanya kepada Batara Guru minta diakui sebagai penguasa dunia. Batara Guru memerintahkan raksasa agar menyembahnya terlebih dahulu sebelum permintaannya dijawab. Ketika sang raksasa membungkuk menyembah, Batara Guru segera memangkas rambutnya. Terkejutlah sang raksasa dan ia menengadah, namun secepat kilat ia merasa kedua taringnya dipotong dan lidahnya mengeluarkan bisa akibat ditusuk oleh Batara Guru. Kedua taring yang terpotong itu berubah menjadi dua bilah keris, yang diberi nama Keris Kaladitya dan Keris Kalanadah.
Sang raksasa menjadi lemas tak berdaya bagaikan kehilangan daya kekuatan. Batara Guru mengakui raksasa itu adalah putranya dan diberi nama Batara Kala, karena ia lahir senjakala. Ia memberikan Pulau Nuswa Kambana (Nusa Kambangan) kepada Batara Kala sebagai tempat tinggalnya. Batara Kala menurut dan pergi menuju pulau tersebut.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


