Bhogadetta Gugur
KISUTA.com – Bhogadetta menghujani Arjuna dan Krishna dengan panah. Tapi panah Arjuna berhasil merusakkan baju perang Supratika dan mulai melukai gajah perkasa itu. Menyadari gajahnya tidak bisa lagi menahan serangan Arjuna, Bhogadetta segera melontarkan tombak ke arah Krishna. Arjuna menangkis serangan itu dengan panah dan mematahkannya menjadi dua. Kemudian, Bhogadetta menyerang Dananjaya dengan tombak. Kali ioni serangan tombak itu berhasil mengenai ketopong Arjuna.
Setelah membetulkan ketopongnya, Arjuna membidikkan busurnya dan berseru: “Bhogadetta, pandanglah dunia ini untuk kali yang terakhir dan bersiaplah menemui ajal!”
Bhogadetta adalah kesatria yang sudah sangat lanjut usia. Rambutnya sudah memutih. Keriput di wajah membuat tampak garang seperti singa. Saking tuanya alisnya sampai jatuh menutupi mata. Ia harus mengikatnya dengan kain sutra ke dahi supaya tetap bisa melihat. Bhogadetta tidak hanya dikenal karena keberanian. Ia juga dikenal karena kemurnian hati dan sikap. Banyak orang menganggapnya sebagai salah satu orang besar pada zamannya. Orang memberinya gelar “Sahabat Batara Indra” untuk menyebut keagungan Bhogadetta.
Kata Arjuna pada kesatria besar itu: “Lihatlah ke sekeliling untuk yang terakhir kalinya.” Ia rentangkan busur dan lontarkan anak panah yang langsung mematahkan busur Bhogadetta. Kantong panah dan baju perang Bhogadetta pun ikut berantakan terkena panah Arjuna.
Pada waktu itu, semua kesatria yang terjun ke medan perang mengenakan baju perang. Seni membidik bagian-bagian sambungan dan yang selalu bergerak dipelajari secara khusus oleh para kesatria dan merupakan bagian penting dalam pelatihan keprajuritan. Setelah semua senjatanya terlucuti, Bhogadetta menggunakan tongkatnya untuk menyerang Arjuna. Serangan mematikan itu disertai dengan mantra Waishnawa. Jika serangan itu mengena, Arjuna pasti mati. Tapi Krishna tiba-tiba memasangkan badannya menghadang serangan itu. Di badan Krishna, serangan itu berubah menjadi kalung yang berkilau. Karena disertai mantra pemberian Batara Wisnu, serangan itu tidak bisa melukai penjelmaan Batara Wisnu sendiri, tapi berubah menjadi kalung permata di leher Krishna.
Arjuna memprotes: “Janardana, mengapa engkau memasangkan badanmu menjadi sasaran serangan musuh. Engkau berjanji tidak akan ikut campur dalam perang ini. Mengapa engkau melakukan ini?”
Jawab Krishna sambil tertawa: “Arjuna yang terkasih, engkau tidak mengerti. Jika mengenaimu, serangan itu pasti akan menghabisi nyawamu. Mantra serangan itu berasal dariku dan karena mengenaiku maka mantra itu kembali pada pemilik yang sebenarnya.” Kemudian, Partha melontarkan anak panah yang menembus kepala gajah perkasa itu seperti ular yang masuk ke dalam sarang semut.
Bhogadetta memerintahkan gajahnya untuk maju menerjang Arjuna. Tapi raksasa itu tetap diam saja tidak bergerak. Perintahnya yang menggema keras sia-sia saja. Ibarat seorang laki-laki yang telah kehilangan seluruh kekayaannya dan istrinya pun akan tidak mengindahkannya, gajah itu tetap tidak bergerak.
Seperti gunung besar Supratika tidak bergerak selama beberapa saat. Kemudian secara tiba-tiba ia roboh ke tanah dengan suara menyayat menahan sakit yang amat sangat.
Arjuna sebenarnya merasa sayang harus membunuh binatang raksasa yang mengagumkan itu. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Untuk menghabisi Bhogadetta, ia harus merobohkan gajahnya terlebih dulu. Serangan tombak Arjuna berhasil mengenai kain sutra yang digunakan Bhogadetta untuk menahan alisnya agar tidak menjuntai menutup mata. Bhogadetta tidak bisa lagi melihat. Arjuna segera melemparkan tombak bermata bulan sabit, tepat membelah dada Bhogadetta. Raja dan kesatria tua itu roboh dan tewas seketika seperti pohon besar yang tumbang terkena badai. Kalungnya yang keemasan tampak seperti bunga-bunga pada pohon tang tumbang. Tewasnya Bhogadetta membuat pasukan Kurawa panik.
Saudara-saudara Sengkuni, Wrisna, dan Achala, menyerang Arjuna dengan sengit. Mereka mengeroyok Arjuna dari belakang dan depan. Tapi, tidak lama kemudian, kereta kuda mereka hancur berantakan dan mereka sendiri tewas. Alangkah gagah dan tampannya dua kesatria yang mati muda itu. Jenazah kedua kesatria yang tegar menantang bahaya dan tidak lari meninggalkan gelanggang seperti para kesatria lain itu nampak bercahaya. Sengkuni sangat marah melihat kedua saudaranya yang pemberani dan dia sayangi terbunuh. Dia pun menyerang Arjuna dengan sengit. Dia gunakan semua senjata tipuan yang merupakan keahliannya. Tapi, dengan mudah Arjuna menangkis serangan senjata-senjata gaib itu. Bahkan, Sengkuni dipaksa lari tunggang langgang dengan kudanya.
Kemudian pasukan Pandawa menyerang dan memorak-porandakan pasukan Durna sampai saat matahari terbenam. Demikianlah, perang hari kedua belas berakhir. Durna memerintahkan supaya perang dihentikan.
Bala tentara Kurawa yang hari itu banyak menelan kekalahan kembali ke perkemahan mereka dengan rasa kecewa. Di sisi lain, pasukan Pandawa kembali ke kemah mereka dengan semangat yang berlimpah. Para kesatria berkumpul di sekitar api unggun, membicarakan kehebatan Arjuna dan para pahlawan lain yang memimpin kemenangan mereka hari itu.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


