Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Abimanyu

Jumat, 8 Mei 2015

KISUTA.com - Pagi-pagi benar, Duryudana pergi menemui Durna dengan hati kesal dan marah. Setelah menghaturkan hormat, ia berkata kepada Durna di hadapan para senapati yang lain.

"Brahmana yang kuhormati, kemarin sebenarnya jika engkau mau, Yudhistira sudah bisa ditangkap. Jika engkau benar-benar menghendakinya, tidak ada satu pun yang bisa menghalangimu. Tapi, engkau tidak melaksanakan rencana kita dan membiarkan kesempatan emas itu hilang percuma. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa engkau tidak melaksanakan janjimu. Memang benar kata orang, orang besar memang sulit dimengerti."

Mahaguru Durna amat tersinggung dengan sindiran yang tajam itu.

Katanya: "Duryudana, aku telah berusaha dengan segala kekuatan dan kemampuanku. Rupanya engkau membiarkan diri dikuasai gelombang perasaanmu yang tidak menentu. Jika Arjuna masih hidup, kita tidak akan bisa menculik Yudhistira. Aku sudah jelaskan hal ini sejak semula. Hanya dengan menjauhkan Arjuna dari medan perang kita bisa menjalankan rencana penculikan ini sesuai dengan keinginanmu. Hari ini kita coba lagi."

Dengan berkata demikian, Durna berusaha mengendalikan amarahnya dan berusaha membesarkan hati Duryudana.

Pada perang hari ketiga belas, Raja Susarma dan pasukannya sekali lagi menantang Arjuna untuk bertarung. Arjuna menyambut tantangan itu dan segera menyerang mereka, di selatan medan pertempuran utama. Pertempuran berlangsung lebih sengit daripada kemarin, bahkan mungkin yang paling sengit yang pernah terjadi.

Ketika Dananjaya meninggalkan garis depan utama untuk menghadapi Raja Susarma dan pasukannya, Durna menata ulang pasukannya dalam formasi bunga teratai. Mereka meyerang Yudhistira dengan hebat. Bima, Satyaki, Chekitana, Dristadyumna, Kuntiboja, Drupada, Gatotkaca, Yudhamanyu, Srikandi, Uttamaujas, Wirata, Raja Kekaya, Srinjayas, dan para kesatria lain menghadang Durna. Namun demikian, upaya mereka tampaknya tidak berjalan sesuai harapan karena gencarnya serangan yang dilancarkan Durna.

Abimanyu, putra Arjuna dan Subadra, masih muda tapi sudah dikenal sebagai kesatria mumpuni yang hampir setara dengan ayahnya dan paman mereka. Yudhistira memanggil Abimanyu dan berkata:

"Anakku, Mahaguru Durna berusaha menembus pasukan kita. Arjuna tidak berada di sini. Ia akan sedih jika kita kalah. Tidak ada yang bisa mengalahkan Durna. Hanya engkau yang bisa menahan Durna. Aku berharap engkau bersedia memikul tugas ini."

Jawab Abimanyu: "Ya, Paman. Aku bersedia melakukannya. Ayah pernah mengajarkanku cara menembus formasi itu. Hanya saja aku belum mempelajari cara keluarnya."

Kata Yudhistira: "Anakku yang gagah berani, tembuslah formasi yang kokoh itu dan bukakan jalan agar kami bisa masuk membantumu. Selanjutnya kita semua akan membantumu."

Bima mendukung pendapat Yudhistira: “Aku akan menyusul di belakangmu dan ikut masuk segera setelah engkau berhasil menjebol formasi musuh. Demikian pula dengan Dristadyumna, Satyaki, para pangeran Panchala, Raja Kekaya, dan pasukan Matsyadesa. Yang perlu kau lakukan hanyalah menjebol formasi musuh dan biarkan sisanya kami yang menyelesaikan.”

Kata Abimanyu dengan penuh semangat: “Aku akan memenuhi harapan ayah dan paman. Kupertaruhkan keberanian dan nyawa untuk kemenangan Pandawa.”

Kata Yudhistira memberikan restu: “Semoga, kemampuanmu semakin bertambah.”

Kata Abimanyu kepada Sumitra, sais keretanya: “Lihatlah, panji-panji Durna di sana! Paculah kereta secepat-cepatnya ke sana.”

Abimanyu sudah tidak sabar. Katanya: “Cepat! Cepat!”

Kata sais keretanya: “Semoga Tuhan melindungimu. Yudhistira memberimu tanggung jawab yang sangat berat. Pertimbangkanlah baik-baik jika ingin menerjang dan menerobos pasukan Durna. Mahaguru itu amat berpengalaman dan sakti. Memang engkau sangat berani tapi masih belum banyak pengalaman.”

Abimanyu tersenyum dan menjawab: “Sahabatku, jangan khawatir aku adalah kemenakan Krishna dan putra Arjuna. Bukankah itu sudah cukup untuk menjadi bekalku? Rasa takut tidak ada dalam kamusku. Kekuatan para musuh hanya seperempat kekuatanku. Ayo, pacu keretamu sekencang-kencangnya ke arah Durna. Jangan bimbang.”

Sais kereta itu melakukan seperti yang diperintahkan Abimanyu.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya