Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Batara Narada

Minggu, 10 Mei 2015

KISUTA.com - Waktu berlalu demikian cepat, tanpa terasa para dewa telah menghuni Kahyangan Argadumilah lebih dari 15 tahun. Batara Guru mengumpulkan para Dewa untuk diajak kembali ke Kahyangan Tengguru di Pegunungan Himalaya, karena Hyang Girinata mendengar Nabi Isa Almasih sudah wafat, dibangkitkan dan naik ke surga.

Sesampainya di Pegunungan Himalaya, para dewata sangat prihatin melihat keadaan Kahyangan Tengguru yang porak poranda akibat serangan burung dara berbisa ciptaan Nabi Isa dulu. Batara Guru berpendapat, kahyangan yang sudah rusak sebaiknya tidak ditempati lagi. Ia kemudian terbang ke angkasa untuk melihat ke sekeliling Pegunungan Himalaya. Akhirnya, pilihan pun jatuh kepada sebuah gunung bernama Gunung Kailasa.

Batara Guru lalu membangun kahyangan baru di atas Gunung Kailasa tersebut. Balai Marcukunda dan Balai Marakata ditempatkan di dalamnya, serta dibangun pula sepasang pintu gerbang bernama Kori Selamatangkep yang bisa membuka dan menutup sendiri tergantung tamu yang datang berniat baik ataukah buruk.

Kahyangan baru tersebut akhirnya selesai dibangun dan diberi nama Kahyangan Jonggringsalaka, karena memancarkan sinar putih keperakan. Para dewa juga membangun kahyangan pribadi sebagai tempat tinggal masing-masing. Batara Sambu tinggal di Kahyangan Suwelagringging, Batara Brahma tinggal di Kahyangan Duksinageni, Batara Indra tinggal di Kahyangan Karang Kaindran, Batara Bayu tinggal di Kahyangan Swargapanglawung, Batara Wisnu tinggal di Kahyangan Utarasegara, Batara Yamadipati tinggal di Kahyangan Yamaniloka.

Di suatu Fajar saat sedang berangin-angin dengan Batari Uma di beranda Jonggring Saloka, Batara Guru melihat adanya sinar teja atau pelangi tegak lurus di sebelah selatan Pegunungan Himalaya. Ia pun memerintahkan para putra untuk menyelidiki asal-usul sinar teja tersebut. Batara Sambu lalu berangkat bersama keempat adiknya.

Para dewa itu terbang menuju selatan dan akhirnya sampai di Samudera Hindia. Mereka melihat seorang laki-laki bertapa dengan duduk samadi di atas ombak laut sambil tangannya menggenggam sebuah cupu yang bersinar indah. Batara Sambu dan yang lain pun membangunkan laki-laki itu dan menanyakan apa maksud dan tujuannya bertapa.

Laki-laki itu mengaku bernama Maharesi Kanekaputra yang bertapa ingin menjadi penasihat raja dewa. Batara Sambu dan para adik pun menertawakannya, kecuali Batara Wisnu yang memiliki firasat kalau laki-laki ini benar-benar memiliki kesaktian dan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi.

Maharesi Kanekaputra tidak peduli dan kembali bertapa. Batara Sambu merasa diacuhkan, dan ia pun memerintahkan para adik untuk membangunkan petapa itu dengan paksa. Tiba-tiba saja tubuh Maharesi Kanekaputra mengeluarkan tenaga dahsyat yang mendorong para dewa itu terlempar kembali ke utara, kecuali Batara Wisnu yang sejak awal tidak ikut mengganggunya. Batara Wisnu mohon pamit dengan hormat lalu melesat menyusul kakak-kakaknya.

Batara Guru datang menemui Maharesi Kanekaputra setelah mendapat laporan kekalahan putra-putranya. Batara Guru sangat heran mengapa ada seorang maharesi yang bertapa ingin menjadi penasihat kahyangan. Maka, selaku raja dewa ia pun mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji ilmu pengetahuan petapa tersebut.

Maharesi Kanekaputra menjawab setiap pertanyaan Batara Guru dengan gaya bercanda, namun setiap jawabannya selalu benar.

Batara Guru: Kakang Kanekaputra, mana yang lebih dulu antara Dewa dengan Manusia.

Kanekaputra: Manusialah yang ada lebih dulu sebagai ciptaan Allah.

Batara Guru: Ngawur...Manusia menyembah Dewa, tentu saja Dewa lebih dulu...

Kanekaputra: Wess..wes..wes..wes..wes, hehehehe..ngga bisa itu, Cupu Linggajati yang digenggamku ini adalah warisan Resi Caturkaneka yang mangkat moksa menjadi Hyang Kaneka. Artinya ada dewa yang semula berasal dari seorang Resi.

Batara Guru: Bagaimana bisa kamu punya pendapat seperti itu, lihatlah Dewa Surya anakku, sebagai Dewa dia adalah Dewa Matahari...karena itu Dewa lebih dulu ada...

Kanekaputra: Jiiiiaaa hahahahah...kapan benda bersinar penerang bumi itu disebut 'matahari'? Bukankah itu setelah 'manusia' mengenal bahasa dan menyadari akan perlunya nama-nama? Kalau nama 'matahari' itu dicipta oleh manusia...tentu manusia sudah ada terlebih dahulu dari Dewa Surya....gitu aja kok repot...heheheheh.

Batara Guru merasa kagum sekaligus kesal melihat Maharesi Kanekaputra yang tingkah lakunya seperti pelawak itu. Maka, ia pun tak kuasa menahan diri dan menyebut lawan bicaranya itu seperti badut. Ucapan tersebut disertai Aji Kawastrawam sehingga wujud Maharesi Kanekaputra dalam sekejap berubah bentuk menjadi laki-laki bertubuh pendek dan gemuk seperti badut, dengan wajah lucu yang selalu mendongak ke atas.

Batara Guru menyesali ucapannya namun semuanya sudah terlambat. Akhirnya Batara Guru minta bukti nyata bahwa manusia adanya lebih dulu dibanding para dewa.

Kanekaputra: Adi Guru....Dewa memang dicipta sebagai badan alus untuk mengendalikan prilaku manusia, tentu tidak akan ada akhirnya kita berdebat tentang siapa yg lebih dulu atau siapa yang lebih unggul. Karena beda yang pasti, bahwa manusia itu suatu substansi kehidupan yang 'dikurung' dalam wadag. Itulah letak kelemahan satu-satunya manusia dibanding para dewa. Karena itu untuk membuktikan, mari beradu kemampuan berlari di atas lautan, dengan tanpa peralatan apapun. Apa kamu mampu, bila untuk berdiri saja kamu membutuhkan keberadaan Nandini yang kamu angkat menjadi makhluk kedewataan padahal Nandini adalah Lembu.? Untuk mengatur para dewa saja Adi Guru harus dilengkapi dengan 4 tangan dan 3 mata. Manusia cukup pasangan kanan-kiri dari semua anggota badan dan indera-pikirannya?"

Batara Guru tersinggung dan segera menyadari bahwa kelemahannya dibuka oleh seorang manusia. Maka tanpa pikir panjang dia menerima tantangan Kaneka Putra turun dari Nandini menginjakkan
kakinya di atas selembar daun 'mandira seta' (beringin putih) yang nyaris tidak kasat mata. Dengan kesaktiannya Batara Guru dapat bersimpuh di atas daun itu. Kanekaputra tidak menyadari.

Adu lari di atas lautan dimulai. Saling kejar saling susul. Nalar kemanusiaan Kanekaputra segera bertanya-tanya, mengapa dewa yang lumpuh mampu bersimpuh di atas lautan yang kebetulan sedang tenang tak berombak menyambut acara 'goro-goro' lomba lari itu. Maka dia mencoba mengalah dan membuntuti Batara Guru.

Gerakan meluncur Batara Guru memberikan jejak kecil tidak selebar 'simpuhan'-nya. Itu membuktikan bahwa badan Batara Guru tidak menyentuh air laut. Ketajaman matanya segera menangkap wujud selembar daun beringin putih yang tetap kering di permukaannya. Maka berlari mendekat dia ambil secakupan air laut dan dia siramkan di lembaran daun beringin putih itu. Daun beringin menjadi basah dan sedikit 'tenggelam'. Batara Guru oleng dan tercebur laut. Menderita malu dan ditolong oleh Kaneka Putra.

Peristiwa ini diawasi Sanghyang Wenang yang segera menengahi dan memarahi keangkuhan Batara Guru. Akhirnya Sanghyang Wenang mengabulkan keinginan Maharesi Kanekaputra menjadi penasihat kahyangan, karena selama ini Batara Guru sering berbuat khilaf karena terlalu berkuasa tanpa ada yang mengendalikan. Maharesi Kanekaputra menerima permohonan tersebut, dan ia pun memakai nama Batara Narada.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya