Abimanyu yang Gagah Berani
KISUTA.com - Ketika kereta keemasan yang membawa dua pemuda yang gagah berani itu mendekat, pasukan Kurawa berseru: "Abimanyu menyerang! Abimanyu menyerang! Para Pandawa mengikuti di belakang mereka!"
Ketika kereta Abimanyu melaju kencang ke arah mereka, pasukan Kurawa menjadi panik. Mereka berkata satu sama lain dengan suara bergetar: "Inilah kesatria yang keberaniannya melebihi Arjuna."
Seperti singa muda menerjang gerombolan gajah, Abimanyu menyerang pasukan Kurawa. Ketika Abimanyu menyerang dengan gagah berani, pasukan Kurawa mundur dan terbelah dua, di depan mata Durna sendiri!
Tapi Jayadrata, Raja Sindhu, segera memerintahkan pasukannya untuk menutup belahan itu sehingga Abimanyu terperangkap. Para kesatria Pandawa yang lain tercegat. Mereka tidak bisa menyusul Abimanyu seperti yang direncanakan --dan Abimanyu terjebak sendirian.
Pasukan Kurawa mengepungnya, tapi mereka justru berguguran seperti ngengat yang jatuh karena api. Panah Abimanyu menghujam ke titik-titik lemah baju perang pasukan Kurawa. Tubuh mereka bergelimpangan seperti rumput kusa dalam upacara korban. Busur, anak panah, pedang, tameng, tombak, tali kendali kuda, tutup kereta, kapak, gada, lembing, cambuk, terompet kerang, dan mayat-mayat para pahlawan perang berserakan di medan perang.
Melihatkehancuran yang dibawa Abimanyu, Duryudana naik pitam. Ia langsung turun ke gelanggang untuk menghadang Abimanyu. Melihat Duryudana turun sendiri menghadang Abimanyu, Durna menjadi cemas. Ia segera perintahkan para kesatria terkuat untuk mengawal Duryudana. Dengan susah payah, mereka berhasil menyelamatkan Duryudana dari serangan Abimanyu. Kesatria muda itu melampiaskan kekesalan karena lolosnya Duryudana dengan mengamuk hebat melawan para kesatria penyelamat Duryudana.
Akhirnya, tanpa malu atau segan, para kesatria pilihan Kurawa itu mengeroyok Abimanyu dari segala penjuru dengan berbagai macam senjata. Durna, Aswatama, Kripa, Karna, Sengkuni, Salya, dan kesatria besar lain tanpa malu menyerang Abimanyu yang sendirian. Asmaka memacu keretanya sekencang-kencangnya ke arah Abimanyu. Tapi, Abimanyu dengan tersenyum melontarkan tombak dan membuatnya terjungkal. Abimanyu terus menerjang siapa pun yang menghadang jalannya. Senjata Karna dibuat hancur berantakan. Salya dibuat luka parah dan hanya bisa duduk, tanpa bisa bergerak di atas keretanya. Saudara Salya membalas menggempur. Tapi, ia pun harus mengaku kalah. Keretanya hancur berantakan.
Demikianlah, Abimanyu bertempur sendirian tanpa dukungan. Dia melawan sejumlah kesatria besar. Dia memperlihatkan kemampuan olah senjata yang ia pelajari dari ayahnya yang masyhur, Arjuna dan pamannya, Wasudewa. Kata sang Begawan, Durna pun mengalirkan air mata kekaguman ketika melihat kegigihan pahlawan muda itu.
Kata Durna kepada Kripa: “Aku belum pernah menyaksikan anak muda yang bertempur sedemikian hebat.” Duryudana yang mendengar percakapan itu tidak bisa menahan amarah.
Cetus Duryudana: “Rasa sayang Guru kepada Arjuna membuat Guru tidak segera membunuh Abimanyu. Alih-alih segera membereskannya, Gur justru memuji-mujinya. Jioka Guru mau, anak muda itu pasti tidak akan bisa bertahan lama.”
Duryudana memang sering mengeluh seperti ini kepada Durna dan Bhisma. Perbuatan-perbuatannya mendorongnya untuk terus menambah dosa dan kesalahannya. Kata-kata itu sangat menyakitkan hati Durna yang telah memihaknya dengan penuh kesetiaan, bahkan ketika ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dharma.
Dengan kemarahan yang memuncak, Dursasana meraung: “Anak yang keras kepala ini akan kuhantarkan kepada ajal.” Dia segera menerjangkan keretanya ke arah kereta Abimanyu.
Kemudian kedua kereta kuda itu saling bermanuver dengan hebat. Pertempuran berlangsung seru. Tetapi tidak lama kemudian, Dursasana terpukul dan tidak sadarkan diri. Untunglah saisnya segera menyelamatkannya dengan membawanya pergi meninggalkan arena.
Dengan tombak, Karna menerjang dan menyerang Abimanyu dengan hebat. Tapi salah satu panah Abimanyu berhasil menjatuhkan busur Karna. Kesempatan itu ia gunakan untuk memukul habis-habisan Karna dan pasukannya. Mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Melihat semua itu, pasukan Kurawa menjadi ketakutan.
Mereka bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan dan lari tunggang langgang tanpa mempedulikan perintah Durna. Yasng mencoba bertahan, segera dihajar serangan Abimanyu, yang terus menyerang seperti api yang melahap hutan di musim kemarau.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


