Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Cupu Linggamanik

Senin, 11 Mei 2015

KISUTA.com - Batara Narada menjadi penasihat Batara Guru, dan ia mendapatkan Kahyangan Sidiudal-udal sebagai tempat tinggal. Ia juga menyerahkan Cupu Linggamanik yang selalu digenggamnya sewaktu bertapa kepada Batara Guru sebagai pelengkap pusaka Kahyangan Jonggringsalaka. Cupu Linggamanik tersebut adalah pemberian ayahnya, yaitu Sanghyang Caturkaneka yang berisikan air Tirta Mayahadi.

Pada suatu hari Cupu Linggamanik tiba-tiba terbang sendiri meninggalkan ruang pusaka Kahyangan Jonggringsalaka. Batara Guru memerintahkan para dewa untuk mencari ke mana hilangnya cupu pusaka tersebut.
Cupu Linggamanik ternyata masuk ke Kahyangan Saptapretala di dasar bumi dan ditemukan oleh seekor naga yang sedang bertapa. Naga itu bernama Adisesa yang langsung menangkap cupu pusaka tersebut dengan mulutnya.

Para dewa datang dan menuduh Naga Adisesa telah mencuri Cupu Linggamanik. Naga Adisesa tidak terima dan terjadilah pertempuran. Tidak lama kemudian muncul adik Naga Adisesa bernama Naga Basuki yang segera membantu sang kakak. Para dewa terdesak kewalahan dan akhirnya kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk melaporkan apa yang terjadi.

Batara Guru dan Batara Narada kemudian datang ke Kahyangan Saptapratala untuk menanyai Naga Adisesa dan Naga Basuki secara baik-baik.

Narada: UUooo hyo..hyo..ngger Adisesa, mengapa masih kamu kuasai Cupu Linggamanik yang bukan milikmu, padahal sudah diminta oleh para dewa?

Adisesa: Cupu ini tiba-tiba melayang datang sendiri ke gua kami, saya hanya menangkapnya dengan mulut dan menyimpannya...tetapi para dewa itu datang-datang menuduhku mencuri Linggamanik...tentu aku tidak terima...

Narada: Ya..ya..para dewa kadang terburu nafsu melontarkan tuduhan, kurang mawas diri...

Adisesa: Pukulun, bukankah Tepa slira lan mawas dhiri iku dadi oboring laku nggayuh rahayu, minangka jimat paripih tumraping ngaurip. Munggahe bisa nyedhakake rasa asih lan ngedohake watak drengki lan dakwenang marang sapepadhane. Sregep mawas diri ateges bakal weruh marang kekurangan lan cacade dhewe, wusanane tukul greget ndandani murih apike...Tepa slira dan mawas diri adalah obor dalam mencapai keselamatan, merupakan azimat kehidupan. Mendekatkan rasa asih dan menjauhkan watak iri dan sewenang-wenang kepada sesama manusia. Rajin mawas diri akan mengetahui kekurangan dan cacat diri sendiri sehingga timbul kehendak untuk memperbaiki.

Narada: Wyiiiesss..hebat..hebat, wujudmu ular, tapi nurani dan akhlakmu malah lebih unggul dari para dewa yang suka asal tuduh..Adi Guru, saya usulkan mereka kita jadikan dewa untuk golongan mereka. Kesaktian dan kawicaksanannya sungguh terbukti.

Karena Batara Guru datang secara baik-baik, Naga Adisesa pun menyerahkan Cupu Linggamanik dengan cara yang baik pula. Sebagai rasa terima kasih, Naga Adisesa dan Naga Basuki diangkat menjadi dewa dan masing-masing diberi gelar Batara Anantaboga dan Batara Basuki. Batara Anantaboga ditunjuk sebagai pemimpin para ular yang hidup di darat, sedangkan Batara Basuki menjadi pemimpin para ular yang hidup di air.

Setelah dirasa cukup, Batara Guru dan Batara Narada pun kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka dengan membawa Cupu Linggamanik.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya