Abimanyu Gugur
KISUTA.com - Seperti yang direncanakan, para Pandawa mengikuti Abimanyu ketika kesatria muda itu menerjang dan menerobos masuk formasi pasukan Kurawa. Tapi, putra ipar Destarata, Jayadrata, Raja Sindhu yang gagah berani menghadang jalan para Pandawa dengan pasukannya. Gerakan yang tidak terduga ini membuat pasukan Kurawa bisa menutup kembali celah yang berhasil dibuka Abimanyu. Akibatnya, para Pandawa tidak bisa memberikan dukungan pada serangan Abimanyu. Yudhistira melontarkan tombaknya dan berhasil menjatuhkan busur Jayadrata. Tapi, dengan cepat Jayadrata menyambar busur yang baru dan membalas menyerang Yudhistira.
Panah Bimasena berhasil menjatuhkan penutup kereta dan panji-panji kereta Jayadrata. Tapi Jayadrata selalu siaga dan langsung menyambar senjata baru ketika senjatanya berhasil dipatahkan musuh. Bahkan, ia berhasil membunuh keempat kuda Bima. Akibatnya, Bima terpaksa melompat naik kereta Satyaki.
Dengan gagah berani Jayadrata menghadang para Pandawa. Karena hadangan Jayadrata, Abimanyu terjebak dan terpaksa bertarung sendirian melawan pasukan Kurawa.
Meskipun demikian, putra Subadra itu tidak gentar. Ia terus menyerang. Banyak yang menjadi korban keganasan Abimanyu. Seperti sungai yang lenyap ditelan samudra, bala tentara yang menyerang Abimanyu segera disapu panah-panah Abimanyu. Pasukan Kurawa terus terpukul mundur. Kemudian Laksamana, putra Duryudana, yang pemberani maju menghadang. Melihat itu, pasukan Kurawa yang sebelumnya mundur maju kembali dan membantu Laksamana menghujani Abimanyu dengan anak panah, seperti hujan membasuh bukit. Abimanyu menyambut Laksamana lontaran tombak yang sangat cepat dan berkilau seperti kulit ular rawa, tepat menghujam Laksamana. Pangeran muda, yang beralis, rambut, dan hidung mempesona itu tumbang, tanpa bisa bangun lagi. Pasukan Kurawa sangat sedih dengan kematian pangeran mereka.
Teriak Duryudana: “Abimanyu harus mati!” Dan enam kesatria besar: Durna, Kripa, Karna, Aswatama, Brihatbala, dan Kritawarma segera mengepung Abimanyu.
Kata Durna kepada Karna: “Kita tidak bisa merusakkan baju perangnya. Bidiklah tali kendali kudanya dari belakang. Lumpuhkan dia dari belakang.”
Putra Batara Surya itu segera melakukan perintah Durna. Busur Abimanyu patah karena serangan tombak dari belakang. Kuda dan sais keretanya tewas. Meskipun keretanya sudah dilumpuhkan, dia tetap maju melawan musuh-musuhnya dengan pedang dan perisai. Dia tetap berdiri tanpa gentar sedikit pun dan membuat para musuh kagum kepadanya. Dengan memutar-mutar pedangnya, ia hadang serangan musuh-musuhnya yang mengeroyoknya. Abimanyu seperti melayang-layang di udara.
Tombak Durna mematahkan pedang Abimanyu dan Karna berhasil menghancurkan perisai yang digunakan kesatria muda itu.
Tetapi Abimanyu terus melawan. Diambilnya roda kereta yang sudah berantakan dan menggunakannya sebagai senjata. Ia gunakan roda kereta itu sebagai senjata cakra untuk menghadapi musuh-musuh yang mengeroyoknya. Debu yang menempel pada roda kereta itu semakin menguatkan ketampanan pahlawan muda itu. Ia terus bertarung sengit seperti Batara Wisnu yang bertarung dengan cakra. Tapi, apa yang bisa dilakukan satu orang melawan sekian banyak orang. Akhirnya, dia terpukul oleh para pengeroyoknya. Roda kereta itu hancur berantakan. Putra Dursasana menerjang Abimanyu. Mereka bertarung seru. Keduanya sama-sama jatuh. Tapi putra Dursasana bangkit menghantam dengan gada dan menewaskannya.
Kata Sanjaya kepada Destarata: “Putra Subadra, yang seperti gajah di antara bunga bakung, bertarung sendirian dan memorak-porandakan pasukan Kurawa. Akhirnya, ia tewas mengenaskan karena dikeroyok para kesatria Kurawa. Setelah berhasil membunuh Abimanyu, pasukanmu menari-nari kegirangan, seperti orang barbar yang bersuka ria di atas binatang buruan mereka. Melihat tragedi itu, semua orang yang punya hati merasa sedih dan meneteskan air mata. Bahkan, burung-burung bangkai yang melayang-layang di atas medan perang pun tampak menyesalkan kejadian itu.”
Sementara pasukan Kurawa meniupkan terompet dan memukul genderang kemenangan, Yuyutsu, salah satu putra Destarata tampak sangat kecewa. Katanya dengan marah: “Apa yang kalian lakukan sangat memalukan. Kalian telah melupakan etika dan moral di medan perang. Mestinya kalian merasa malu atas apa yang kalian lakukan. Tidak sepantasnya kalian bersorak-sorak seperti itu. Setelah melakukan perbuatan yang sedemikian tercela, apakah pantas kalian bergembira? Kelak kalian akan memetik buah perbuatan kejam dan tercela kalian.”
Setelah berkata demikian, Yuyutsu melemparkan senjatanya dan meninggalkan medan perang. Putra bungsu Destarata ini memang takut dosa. Kata-katanya terdengar sumbang bagi telinga para Kurawa, tapi ia adalah orang yang baik dan mengungkapkan kegelisahan nuraninya.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


