Jaka Sengkala
KISUTA.com - Di Kahyangan Jonggring Saloka, Hyang Girinata selalu terkenang Kahyangan Argadumilah di Pulau Jawa yang sudah ditinggalkannya. Sang Raja Dewa itu mengenang betapa eloknya pulau yang penuh misteri itu.
Setelah berdiskusi dengan batara Narada, Hyang Girinata memutuskan untuk mengirimkan seorang utusan guna mengembangkan pulau Jawa, dan mengisinya dengan kaum manusia. Dari wawasan Batara Guru, manusia keturunan Dewa yang layak sebagai utusan adalah Jaka Sengkala, putra Batara Anggajali, maka dipanggilnya Jaka Sengkala.
Hyang Girinata: Kaki Jaka Sengkala, sudah saatnya engkau kembangkan ilmumu untuk sesama. Aku tugaskan engkau ke Pulau Jawa, benahilah masyarakat, lelembut, satru wana dan mahkluk halus yang ada di sana. Jadikan mereka sebagai warga kita. Kembangkan jumlah manusia agar bisa mengolah alamnya yang indah.
Jaka Sengkala: Sendika dawuh pukulun. Mohon petunjuk, apa yang menjadi arahan hamba yang utama.
Hyang Girinata: Jaka Sengkala...Nggayuh kaluhuran ngupaya tataraning urip kang luwih dhuwur. Dhuwur lahir lan batin tumrap dhiri pribadine sumrambah karaharjaning bebrayan. Yen kandheg salah siji, tegese gothang. Yen mung nengenake kaluhuraning lahir genah mung ngoyak drajat lan semat, isih miyar-miyur gampang kena pangaribawa saka njaba. Yen ngemungake kaluhuraning batin, cetha ora nuhoni jejering manungsa, awit ora tumandang ing gawe kanggo keperluwaning bebrayan. Ateges tanpa guna diparingi urip ana ing alam donya.....maksudku Kaki,Ingin memperoleh keluhuran adalah upaya untuk meraih tingkatan hidup yang lebih tinggi. Tinggi lahir maupun batin, untuk diri sendiri dan menyebar ke guna kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Tertinggal salah satu berarti timpang. Mengutamakan keluhuran lahir saja jelas hanya mengejar derajat dan harta. Berarti masih terombang-ambing dan mudah kena pengaruh luar. Bila hanya mengutamakan keluhuran batin, jelas tidak menetapi hakekat manusia, karena tidak bekerja bagi keperluan masyarakat. Berarti tidak ada manfaatnya hidup di dunia.
Jaka Sengkala menghaturkan sembah, dan segera terbang ke Jawa Dwipa.
Di pulau Jawa Jaka Sengkala memilih tinggal di Gunung Dihyang (Dieng), menjadi Empu memimpin Padepokan Purwapada.
Empu Sengkala mulai bertapa di Padepokan Purwapada. Karena daya perbawa yang ia pancarkan, tidak ada makhluk halus yang berani mengganggunya. Setelah beberapa hari bertapa ia pun didatangi oleh Batari Srilaksmi yang memancarkan cahaya putih. Batari Srilaksmi mengajarkan kepadanya ilmu Asmaragama, Asmaranala, Asmaratura, Asmaraturida, dan Asmarandana. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.
Pada hari kedua, Empu Sengkala didatangi Batara Kala yang memancarkan cahaya kuning. Batara Kala mengajarkan berbagai macam ilmu sihir, kemayan, dan panggendaman. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.
Pada hari ketiga, Empu Sengkala didatangi Batara Brahma yang memancarkan cahaya merah. Batara Brahma mengajarkan berbagai macam ilmu ramalan dan kemampuan melihat masa depan. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.
Pada hari keempat, Empu Sengkala didatangi Batara Wisnu yang memancarkan cahaya hitam. Batara Wisnu mengajarkan berbagai macam ilmu kesaktian dan siasat peperangan. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.
Pada hari kelima, Empu Sengkala didatangi Batara Guru yang memancarkan cahaya mancawarna. Batara Guru mengajarkan ilmu kesempurnaan dan ilmu panitisan. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, Empu Sengkala kemudian membuat sebuah penanggalan yang dalam satu pekan terdiri atas lima hari, yaitu hari Sri, Kala, Brahma, Wisnu, dan Guru. Pada hari Sri ia bersamadi menghadap ke timur, pada hari Kala bersamadi menghadap ke selatan, pada hari Brahma bersamadi menghadap ke barat, pada hari Wisnu bersamadi menghadap ke utara, dan pada hari Guru bersamadi menunduk ke bumi, serta mendongak ke angkasa.
Penanggalan yang diciptakan Empu Sengkala tersebut kemudian diberi nama Tahun Suryasengkala dan Tahun Candrasengkala. Jika Suryasengkala didasarkan pada peredaran bumi terhadap matahari, maka Candrasengkala didasarkan pada peredaran bulan terhadap bumi.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


