Tirtamarta Kamandanu
KISUTA.com - Di Kerajaan Rum, Maharaja Galbah bermimpi mendapatkan perintah dari suara gaib agar mengisi Pulau Jawa di seberang lautan timur. Pulau tersebut sangat subur namun hanya dihuni kaum bekasakan dan makhluk halus, tanpa ada manusia sama sekali di dalamnya.
Maharaja Galbah bertanya kepada para pendeta kerajaan dan mereka menjelaskan bahwa suara gaib dalam mimpi tersebut adalah perintah Tuhan Yang Mahakuasa agar dilaksanakan. Maka, Maharaja Galbah pun mengutus Patih Amirulsamsu untuk memimpin sebagian penduduk Kerajaan Rum pindah dan bermukim di Pulau Jawa.
Patih Amirulsamsu berangkat dengan membawa dua puluh ribu orang penduduk Rum menyeberang lautan luas. Sesampainya di Pulau Jawa, orang-orang Rum tersebut bergotong royong membuka hutan dan mendirikan perkampungan. Setelah dirasa cukup, Patih Amirulsamsu lalu kembali untuk melapor kepada Maharaja Galbah.
Sepeninggal Sang Patih, orang-orang Rum di Pulau Jawa banyak yang jatuh sakit dan meninggal karena tidak tahan hawa panas serta diganggu makhluk halus, atau ada pula yang dimangsa binatang buas. Dalam waktu tiga tahun saja yang tersisa hanya tinggal dua puluh orang dan mereka memutuskan untuk pulang ke Negeri Rum.
Kegagalan utusan pertama ini membuat sang Maharaja mengirimkan utusan kedua yang dipimpin Pandita Usmanaji, sahabat Batara Wisnu. Pandita Usmanaji tiba di Pulau Jawa. Berkat kesaktiannya, Pandita Usmanaji dapat merasakan bahwa di pulau tersebut ternyata ada seorang manusia sedang bertapa di Gunung Dihyang. Didatanginya gunung tersebut dan ditemuinya sang pertapa, yang ternyata Empu Sengkala, muridnya sendiri.
Empu Sengkala sangat terharu dan gembira bisa bertemu sang guru di pulau sunyi ini. Ia pun menceritakan semua pengalaman hidupnya sejak berpisah dulu, antara lain pernah menjadi raja Kerajaan Surati dan akhirnya mendapatkan perintah dari Batara Guru untuk bertapa di Pulau Jawa. Tak terasa sudah enam tahun lamanya Empu Sengkala bertapa dan ia pun sempat mendengar berita adanya orang-orang Rum yang bermukim di Pulau Jawa namun mengalami nasib malang.
Empu Sengkala: Sangat disayangkan pengorbanan yang begitu besar, hingga 20.000 orang Rum harus binasa di Pulau Jawa yang angker ini Guru, mengapa kegagalan ini terjadi?
Pandita Usmanaji: Kaki Sengkala,...dasar premati tumraping wong duwe tekad lan duwe gegayuhan yaiku tekad budi santosa. Sarana ndulu kaca benggala kang kita alami saben dina, teteg kawegigane pikir bae ora mujudake gaman pamungkas tumrap kasembadaning sedya. Mula yen mung ngendelake marang punjuling nalar lan moncering kawruh bae, tanpa mengkoni ing budi santosa, atine gampang miyar-miyur, gampang kasinungan ing watak sesongaran sing adhakane banjur kacenthok pancabaya, ubayane banjur mbalenjani....maknanya dasar utama bagi orang yang mempunyai cita-cita adalah “tekad budi sentausa”. Bercermin pada pengalaman yang kita alami sehari-hari, kepandaian saja bukan merupakan senjata pamungkas untuk tercapainya keinginan. Oleh sebab itu kalau hanya mengandalkan kemampuan ilmu saja tanpa dilandasi tekad budi sentausa, hati kita masih terombang-ambing, masih mudah dihinggapi watak menggampangkan yang biasanya akan mengalami banyak hambatan. Hasilnya adalah kegagalan.
Pandita Usmanaji lalu mengajak Empu Sengkala untuk membantunya memasang tumbal supaya Pulau Jawa yang angker menjadi lebih aman dan nyaman untuk ditempati manusia. Mereka pun mulai bekerja, dengan memasang lima buah tumbal, yaitu yang empat ditanam di empat penjuru mata angin dan satu lagi dipasang di tengah-tengah pulau. Setelah pemasangan tumbal selesai, Pandita Usmanaji dan rombongan membawa serta Empu Sengkala meninggalkan Pulau Jawa.
Hari berikutnya, terjadilah bencana alam di segenap penjuru pulau. Gempa bumi, gunung meletus, badai halilintar, disertai suara bergemuruh terjadi di mana-mana yang kemudian diikuti suara jerit tangis para makhluk jahat. Mereka pun berlarian menuju Laut Selatan untuk mencari perlindungan.
Saat itu Empu Sengkala tiba di Kahyangan Jonggringsalaka menghadap Batara Guru untuk meminta petujuk dalam melaksanakan perintah Tuhan Yang Mahakuasa melalui mimpi Maharaja Galbah tersebut. Batara Guru selaku pemimpin tertinggi di Tanah Hindustan dan sekitarnya memberikan izin kepada Empu Sengkala untuk mengumpulkan orang-orang Keling, Benggala, dan Siam karena mereka memiliki tubuh yang cocok dengan keadaan alam di Pulau Jawa.
Empu Sengkala kemudian menemui ayahnya, yaitu Batara Anggajali. Sang ayah memberikan restu dan menyertakan putra-putranya yang lain untuk membantu pekerjaan Empu Sengkala tersebut. Mereka adalah Empu Bratandang, Empu Braruni, dan Empu Braradya, yaitu anak-anak Batara Anggajali yang lahir setelah Jaka Sengkala dewasa.
Empu Sengkala ditemani ketiga adiknya berlayar membawa dua puluh ribu orang yang mereka kumpulkan dari Keling, Benggala, dan Siam, sesuai perintah Batara Guru. Setelah mendarat di Pulau Jawa, orang-orang itu kemudian diajak bergotong royong membuka hutan dan pegunungan untuk dijadikan tempat permukiman.
Setelah sepuluh tempat permukiman berdiri, Empu Sengkala lalu memilih sepuluh orang yang paling pandai di antara para penduduk untuk mendapatkan tambahan pelajaran darinya. Mereka bernama Jangga, Wisaka, Kutastaka, Malipata, Wiswandana, Kurmanda, Kusalya, Anuwilipa, Suskadi, dan Sarada.
Kesepuluh orang itu lalu disebar untuk menjadi pemimpin para penduduk.
Sepuluh tahun kemudian, datanglah 10.000 orang Rum yang dikirim Raja Oto, anak Maharaja Galbah, mereka diarahkan Empu Sengkala bergabung dengan penduduk yg sudah berkembang. Mereka gembira melihat para penduduk semakin berkembang dan jumlah mereka meningkat pesat. Orang-orang Rum yang datang tersebut menjadi tertarik dan sebagian dari mereka memilih untuk ikut menetap di Pulau Jawa.
Empu Sengkala lalu menunjuk seorang bernama Tamus untuk menjadi pemimpin orang-orang Rum yang menetap di Pulau Jawa. Setelah dirasa cukup, Empu Sengkala kemudian kembali ke Negeri Rum untuk menyampaikan laporan kepada Maharaja Oto.
Setelah menyampaikan laporan kepada Maharaja Oto tentang keadaan penduduk di Pulau Jawa, Empu Sengkala kembali menemui Pandita Usmanaji di Kerajaan Bani Israil. Pada suatu malam ia bermimpi mendengar suara gaib yang menyuruhnya pergi ke Kutub Utara mencari sebuah tempat bernama Tanah Lulmat dan bertapa di sana. Setelah berunding dengan sang guru, ia pun mohon restu dan berangkat melaksanakan mimpi tersebut.
Setelah bersusah payah, Empu Sengkala akhirnya sampai juga di Tanah Lulmat. Setelah bertapa beberapa bulan, tiba-tiba muncul mustika awan yang memancarkan air keabadian Tirtamarta Kamandanu seperti yang pernah dialami Sayidina Anwar ribuan tahun silam. Terdengar pula suara gaib yang memerintahkan Empu Sengkala untuk meminum air tersebut. Setelah meminumnya, Empu Sengkala seketika mendapatkan kehidupan kekal dan tetap awet muda selamanya.
Setelah itu, suara gaib kembali terdengar yang kali ini mengatakan bahwa kelak Empu Sengkala harus datang lagi ke Pulau Jawa untuk menumpas angkara murka dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada penduduk di sana. Jika masa itu tiba, nama Empu Sengkala harus berubah menjadi Ajisaka. Namun peristiwa tersebut masih berselang ratusan tahun dari saat ini. Untuk menunggu datangnya saat itu, Empu Sengkala diperintahkan untuk tinggal di Tanah Hindustan sebagai brahmana.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


