Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Raja Sindhu

Minggu, 17 Mei 2015

KISUTA.com - Kabar tentang sumpah Arjuna segera sampai di perkemahan Kurawa. Mata-mata mengabarkan kepada sahabat-sahabat Duryudana bahwa Arjuna, setelah tahu Jayadrata penyebab kematian putranya, bersumpah untuk membunuh raja Sindhu sebelum matahari tenggelam.

Ketika Jayadrata lahir, Wridaksatra --ayah Jayadrata-- mendengar suara yang mengatakan: "Anak ini akan mencapai kemasyhuran. Setelah itu, dia akan mengalami kematian yang diidam-idamkan para kesatria, tewas di medan perang. Seorang kesatria yang pilih tanding akan memenggal kepalanya di medan perang."

Semua makhluk hidup akan mati, tapi sebijak atau sepemberani apa pun, tidak mudah menerima suratan takdir ini. Wridaksatra sangat sedih mendengar bahwa anaknya akan mati di medan perang. Dengan hati kusut dan pikiran kacau, dia mengucapkan kutukan: "Siapa pun yang kelak memenggal kepala anakku, kepalanya akan pecah berantakan pada saat itu juga."

Kata Jayadrata kepada Duryudana: "Aku tidak ingin ikut campur dalam perang ini lagi. Aku ingin kembali ke negeriku."

Jawab Duryudana: "Jangan takut Jayadrata. Semua kesatria perkasa ada di pihak kita. Mereka akan melindungimu. Karna, Citrasena, Burisrawa, Salya, Wiwimsati, Wrihasena, Purumitra, Jaya, Bhoja, Kamboja, Sudaksina, Satyawrata, Wikarna, Durmuka, Dursasana, Subahu, Kalingga, para pangeran Awanti, Durna, Aswatama, dan Sengkuni, semua bala tentara Kurawa dan aku sendiri akan melindungimu. Engkau aman di sini. Hari ini aku akan kerahkan seluruh bala tentara Kurawa untuk melindungimu dari Arjuna. Engkau tidak perlu pulang ke negerimu." Akhirnya, Jayadrata setuju untuk tetap tinggal. Dia pergi kepada Durna dan berkata:

"Mahaguru, engkau yang mengajarkan kami, aku dan Arjuna. Engkau pasti tahu kemampuan kami berdua. Bagaimana penilaianmu terhadap kami berdua?"

Durna menjawab: "Anakku, aku mengajar kalian berdua tanpa pilih kasih. Apa yang kuberikan kepadamu pasti kuberikan juga kepada Arjuna. Demikian pula sebaliknya. Tapi. Arjuna lebih unggul karena disiplin dan latihannya sendiri. Meskipun demikian, engkau tidak perlu berkecil hati. Kau akan ditempatkan di belakang pasukan yang mat kuat. Arjuna pasti kesulitan untuk menerobos pasukan itu. Bertempurlah sesuai dengan tradisi kesatria. Kematian akan menjumpai kita semua, tanpa kecuali. Ingat kesatria yang mati di medan perang akan mencapai surga dengan mudah. Jangan takut dan ayo kita terus bertempur."

Setelah berkata demikian, Durna mengatur formasi bala tentara Kurawa.

Jayadrata ditempatkan dua belas mil di belakang pasukan induk. Ia didampingi sejumlah pasukan amat kuat yang dipimpin Burisrawa, Karna, Aswatama, Salya, Wrihasena, dan Kripa. Di depan mereka, Durna menyusun pasukan induk Kurawa. lingkaran pasukan yang paling dalam diatur dalam formasi bunga teratai. Di depannya berjajar pasukan pasukan dalam formasi pakis sebagai pasukan tempur. Durna berdiri paling depan di depan formasi pakis. Ia tampak gagah perkasa dengan baju perang dan ketopong warna putih. Dia duduk di atas kereta yang ditarik empat kuda. Panji-panjinya berkibar-kibar ditiup angin, memperlihatkan gambar mangkuk pandita dan busur panah warna kuning keemasan. Keagungan Durna membakar semangat tempur pasukan Kurawa. Duryudana sangat yakin hari itu Kurawa akan menuai kemenangan.

Dengan kekuatan seribu kereta perang, seratus barisan gajah, tiga ribu barisan pasukan berkuda, sepuluh ribu pasukan jalan kaki, lima belas ribu pasukan panah, pasukan Kurawa maju ke medan perang. Ia meniup terompetnya dan jmeneriakkan tantangan kepada Arjuna.

“Dimanakah Arjuna yang amarah dan kesaktiannya ramai dibicarakan orang? Ayo, majulah! Seranglah kami, jika memang punya nyali. Ibarat periuk jatuh ke atas batu, kau hanya akan hancur berantakan di hadapan para kesatria kami.

Arjuna segera maju sampai seperlemparan anak panah dari Durmashana. Ia balas meniup terompet kerangnya sebagai jawaban akan tantangan Durmashana. Kemudian, suara terompet membahana di anatara pasukan Kurawa.

Kata Arjuna: “Kesawa, ayo kita maju ke arah Durmashana. Kita hancurkan dulu pasukan gajah mereka.”

Pasukan Durmashana langsung kocar-kacir. Seperti mega yang dihalau angin, pasukan Kurawa tercerai berai dan lari tunggang langgang. Ketika melihat pasukannya kocar-kacir, Dursasana marah sekali. Dia pimpin pasukan gajah mengepung Arjuna. Dursasana adalah seorang kesatria yang sangat kejam dan pemberani. Mereka bertarung dengan sengit. Banyak korban berjatuhan. Akhirnya, Dursasana kalah dan terpaksa mundur ke pasukan utama.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya