Mahadewa Buda
KISUTA.com - Penempatan bangsa manusia di Jawa Dwipa, setelah berjalan lebih dari 40 tahun, ternyata menimbulkan masalah baru. Banyak yang meninggalkan kehidupan religi yang ditinggalkan Empu Sengkala dan Pandita Usmanaji. Pulau yang subur, kehidupan yang nyaman, membuat mereka lupa diri, hidup hanya untuk foya-foya, nafsu syahwat diumbar tanpa tatanan, berlaku pameo...Sapa Sira Sapa Ingsun, hukum rimba lebih kuat daripada nurani...siapa yang kuat, itulah yang merajai keinginan dan tumpahnya nafsu.
Batara Guru di hadap Batara Narada dan para putra, yaitu Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Wisnu. Membicarakan tentang orang-orang Keling, Benggala, dan Siam yang telah berkembang biak di Pulau Jawa membaur dengan penduduk setempat tapi kehilangan kamanungsannya.
Batara Guru: Kakang Kanekaputra, bagaimana ini? Harapan kita menjadikan Jawadwipa sebagai daerah tempat tinggal manusia yang tertata baik kok malah rusak ngga karu-karuan?
Batara Narada: Uuuoooo..hohohoho..Adi Guru, mereka seperti kehilangan panutan, kehilangan arah pimpinan...yang terjadi adalah, yang merasa menonjol dan pinter mulai pamer dan berlebihan meminta jatah diakui dan dihormati.
Batara Sambu: Mengapa bisa begitu uwa pukulun?
Batara Narada: Weiisss..ngger Sambu, itu karena ..Wong kang rumangsa dirine linuwih, ing sawijining wektu mesti bakal kasurung atine arep mamerake kaluwihane, lire amrih dimangerteni dening wong akeh yen deweke mono wong kang pinunjul lan supaya diajenana. Sumurupa, kaki.. sakabehing kaluwihan mau yen ora dicakake mawa lelabuhan kang murakabi marang bebrayan, tanpa guna kepara malah ora kajen lan gawe pituna. Mula kang prayoga bisa tulus dadi wong kang linuwih menawa gebyaring kaluwihan iku mung dikatonake marang atine dhewe, iku wis cukup.... Orang yang merasa dirinya memiliki kelebihan, pada suatu saat akan terdorong untuk pamer. Supaya orang lain tahu bahwa dirinya adalah orang hebat yang harus dihormati. Ketahuilah bahwa semua kelebihan tersebut tidak ada gunanya, merugikan dan membuat dirinya semakin tidak terhormat apabila tidak digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Orang punya kelebihan yang tulus apabila semua gebyar kelebihan hanya ditunjukkan untuk dirinya sendiri. Itu sudah cukup.
Batara Brahma: Hhmm, uwa pukulun saya ini brangasan, mendengar nasehat uwa kok malah bingung saya.
Batara Narada: Hehehe..Brahma, bagus kalau bingung kamu mengakui, jadi aku bisa menjelaskan lebih gamblang...lihatlah ngger, kalau orang punya kelebihan itu butuh pengakuan dari orang lain, maka muncullah sifat pamernya riya..kalau masih belum cukup pengakuannya, supaya lebih hebat, mulailah dia melebih-lebihkan, ada rekayasa untuk membuat tampilannya lebih hebat...hehehe...kalau zaman modern namanya "pencitraan" ngger...huahahahah.
Di tengah-tengah perbincangan itu muncullah sinar keemasan yang menyilaukan, lama kelamaan sinar itu membentuk bayangan bijak Sanghyang Wenang datang dari Kahyangan Awang-awang Kumitir. Batara Guru menghaturkan sembah dan menceritakan keadaan Pulau Jawa yang penduduknya saat ini sudah jauh dari agama dan hidup seperti hewan saja. Sanghyang Padawenang merasa sangat prihatin mendengarnya. Maka, ia pun memerintahkan Batara Guru supaya pergi ke Pulau Jawa untuk mengajarkan ilmu agama kepada para penduduk di sana. Batara Guru mematuhi perintah tersebut dan menyerahkan kepemimpinan Kahyangan Jonggringsaloka untuk sementara waktu kepada Batara Sambu dengan didampingi Batara Narada.
Batara Guru datang ke Jawadwipa dengan samaran sebagai Resi Mahadewa Buda. Sesampainya di Jawa ia mulai mengajarkan Agama Dewa. Para penduduk yang berusia tua menyambut gembira kedatangan Sang Resi, karena mereka samar-samar masih teringat tentang agama yang pernah dianut para leluhur yang dulu datang ke Pulau Jawa bersama Empu Sengkala. Sementara itu, para penduduk yang berusia muda pun belajar agama mulai dari awal.
Tidak hanya itu, selain bangsa manusia juga banyak pula jenis makhluk lain yang ikut belajar Agama Dewa kepada Resi Mahadewa Buda. Mereka adalah kaum raksasa, siluman, bahkan segala jenis binatang pun banyak pula yang berguru kepadanya.
40 Tahun Resi Mahadewa Buda mencoba mengasah spiritual dan religi penduduk Pulau Jawa, sampai akhirnya Batara Narada menyusulnya dan menyampaikan pesan Sanghyang Wenang, agar pelajaran ditingkatkan ke tata pemerintahan.
Maka, Batara Guru pun mengubah padepokan di Gunung Kamula menjadi sebuah pusat pemerintahan, yang diberi nama Kerajaan Medang Kamulan. Ia menjadi raja di sana dengan bergelar Sri Padukaraja Mahadewa Buda, sedangkan Batara Narada menjadi menteri utama bergelar Patih Narada.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


