Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Begawan Danu, Maharesi Pujangga Medang Kamulan

Rabu, 20 Mei 2015

KISUTA.com - Pada suatu hari Sri Padukaraja Mahadewa Buda menerima kedatangan seorang penduduk bernama Prahasena yang menghadap memohon keadilan.

Prabu Mahadewa Buda: Apa yang menjadi masalahmu wahai Prahasena?

Prahasena: Duh sang prabu hidup ini tidak adil mengapa saya diciptakan buta sejak lahir?

Prabu Mahadewa Buda: Terus apa keinginanmu agar keadilan itu kamu rasakan?

Prahasena: Saya ingin memiliki mata yang lebar berbinar-binar sehingga saya bisa menatap indahnya dunia...

Prabu Mahadewa Buda: Aku berdoa pada Allah Yang Maha Kuasa, jika itu baik untukmu, terjadilah sesuai RidhoNya.

Tiba-tiba seakan ada sinar menerpa wajah Prahasena, matanya yang buta terbuka lebar, indah dan berbinar-binar. Prahasena mengucapkan terima kasih dan segera pamit pada Sang Prabu. Namun belum lama keluar dari Sitihinggil, Prahasena sudah kembali sambil mengucek-ucek matanya yang memerah.

Prabu Mahadewa Buda: Kenapa kembali Prahasena?

Prahasena: Ampun sang Prabu, mata ini tak cocok untuk hamba, terlalu lebar, hingga di alun-alun tadi hamba kelilipan dan ada pasir masuk ke mataku pedih dan sakit sekali rasanya, berilah aku mata yang sipit saja wahai Rajaku nan bijak.

Prabu Mahadewa Buda: Hhmm, jika itu lebih baik bagimu dan Allah memberikan RidhoNya...semoga keinginanmu terkabul.

Kembali usapan sinar lembut menerpa wajah Prahasena, dia merasa matanya lebih baik dan lebih enak dipakai memandang sekitarnya.

Dengan bahagia, Prahasena mohon pamit pada Sang Prabu.

Namun, baru saja berada di luar istana, Prahasena terjatuh karena matanya silau melihat halilintar menyambar di angkasa. Ia pun kembali menghadap dan memohon kepada Sri Padukaraja Mahadewa Buda supaya matanya dikembalikan buta saja. Sri Paduka Raja Mahadewa Buda mengabulkannya dan memberikan nasihat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah menciptakan setiap makhluk hidup dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa yang sangat diinginkan oleh seseorang belum tentu menjadi sumber kebahagiaannya, dan apa yang tidak disukai seseorang belum tentu menjadi sumber penderitannya. Jika ada bagian tubuh yang memiliki kekurangan, tentu ada bagian tubuh lain yang memiliki kelebihan.

Prahasena merenungkan nasihat tersebut dan ia pun mendapatkan pencerahan. Setelah meninggalkan istana Medang Kamulan, ia banyak belajar ilmu pengobatan dan akhirnya menjadi seorang dukun yang memberikan pengobatan kepada masyarakat luas.

Pada suatu hari Sri Padukaraja Mahadewa Buda melihat cahaya kemilau dari arah Laut Selatan. Patih Narada pun dikirim untuk pergi menyelidiki. Ternyata cahaya itu berasal dari seorang pertapa raksasa bernama Begawan Danu. Ketika ditanya apa tujuannya bertapa, ia menjawab ingin dijadikan maharesi pujangga Kerajaan Medang Kamulan. Patih Narada lalu membawanya pergi menemui Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

Sri Padukaraja Mahadewa Buda menerima Patih Narada yang datang membawa Begawan Danu. Setelah memberikan beberapa ujian kecerdasan, Sri Paduka Raja tertarik dan menyukai ilmu pengetahuan yang dimiliki Begawan Danu. Maka, pertapa raksasa itu pun dikabulkan keinginannya, yaitu diangkat menjadi maharesi pujangga Kerajaan Medang Kamulan.

Tidak lama kemudian tiba-tiba datang serangan dari Kerajaan Gua Gobajra yang dipimpin raja raksasa bernama Prabu Danuka, anak Begawan Danu. Rupanya telah terjadi salah paham, di mana Prabu Danuka mengira ayahnya ditangkap Patih Narada untuk dimasukkan penjara.

Ketika pertempuran ramai tersebut berlangsung, Begawan Danu muncul dan langsung melerai.

Begawan Danu: Anakku ngger Danuka, berhentilah...kamu salah paham, aku tidak apa-apa...ini ramamu yang sudah menjadi Maharesi di Medang Kamulan kaki.

Prabu Danuka: Duuh kanjeng rama, maafkan ananda...kesalahpahaman ini karena darma bakti nanda pada kanjeng rama...

Begawan Danu: Ya...ya..anakku, terima kasih atas baktimu malaupun kamu sembrono dan tidak mencari tahu dulu kebenarannya...ingatlah Nak..Ora ana barang langgeng, mung kabecikan kang ora bisa sirna, sanadyan kang gawe becik wis ana ing jaman kailangan, kabecikane iya ora bisa ilang, isih ditinggal ana ing ngalam dunya, wong kang duwe lelabetan mangkono, iku unusaning manungsa, patut dadi sudarsananing ngaurip...Tidak ada barang yang langgeng. Hanya kebaikan tidak bisa sirna, walaupun yang berbuat baik telah meninggal. Kebaikannya juga tidak hilang, masih ditinggal di dunia. Orang yang punya pengabdian seperti itu adalah orang baik, patut diteladani dalam kehidupan....karena itu tinggalkan watak sembronomu, dan selalulah hidup dalam kebajikan.

Setelah segala kesalahpahaman dijelaskan, Prabu Danuka sangat malu dan memohon ampun kepada Sri Padukaraja Mahadewa Buda.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya