Baju Perang Pinjaman
KISUTA.com - Mendengar cerita Sanjaya tentang keberhaslan Arjuna, Destarata berseru: "Oh, Sanjaya! Ketika Janardhana datang ke Hastinapura untuk mengupayakan perdamaian, aku katakan kepada Duryudana bahwa ini adalah kesempatan yang baik dan memintanya untuk tidak melepaskannya. Aku memintanya untuk berdamai dengan saudara-saudara sepupunya.
Kataku: 'Kesawa datang kepada kita untuk menawarkan perdamaian. Jangan abaikan nasihatnya.' Tapi Duryudana menutup telinga. Tampaknya ia lebih mendengarkan kata-kata Karna dan Dursasana. Nafsu angkara telah merasuki hati dan dia pun menjelang kehancurannya sendiri. Durna menentang perang. Demikian pula dengan Bhisma, Burisrawa, Kripa, dan yang lain. Tapi anakku yang keras kepala tidak mau mengindahkan mereka. Karena nafsu angkara, ia membiarkan diri dikuasai amarah dan rasa dengki. Dia pun mengajak perang."
Kata Sanjaya kepada Destarata yang meratap: “Sekarang, apa gunanya menyesal? Air kehidupan telah terbuang percuma dan sekarang engkau berusaha menahan jalannya takdir. Mengapa engkau dulu tidak melarang anak-anak Kunti bermain dadu? Seandainya engkau tidak membiarkan mereka bermain dadu, bencana ini tidak akan pernah terjadi. Seandainya dulu engkau bersikap tegas dan melarang anak-anakmu berbuat jahat, malapetaka ini masih bisa dihindari. Engkau tahu tindakan mereka jahat, tapi mengabaikan akal sehatmu, engkau mengikuti nasihat jahat Karna dan Sengkuni. Sekarang Yudhistira, Kesawa, dan Durna tidak lagi menghormatimu seperti dulu. Sekarang, Wasudewa tahu kebaikanmu hanyalah kebohongan. Saat ini, para Kurawa berjuang bertarung sekuat tenaga sebagai kesatria. Tapi mereka bukan tandingan Arjuna, Krishna, Satyaki, dan Bima. Tidak semestinya engkau menyalahkannya atau bala tentaranya yang setia.”
Kata raja tua buta itu: “Sanjaya, aku melalaikan kewajibanku. Benar yang kau katakan. Tidak ada yang bisa mengubah jalannya takdir. Ceritakan padaku semua yang terjadi, biar pun itu tidak mengenakkan hatiku.” Seperti yang diperintahkan raja, Sanjaya melanjutkan ceritanya.
Duryudana murka ketika melihat Arjuna terus melaju semakin mendekati raja Sindhu. Ia segera bergegas ke arah Durna dan protes keras. Katanya:
“Arjuna menyebabkan pasukan kita kocar-kacir. Melihat keadaan ini, pasukan yang bertugas melindungi Raja Sindhu, pasti akan merasa panik. Mereka yakin Arjuna tidak akan semudah ini menjebol pertahanan kita. Dia melaju di depanmu dan engkau tidak berbuat apa-apa untuk menghambatnya. Rupanya engkau memang memihak Pandawa dan membiarkannya menghabisi pasukan Kurawa tanpa perlawanan berarti. Aku amat gundah.”
Lalu, ucapnya kembali: “Guru, katakan apa salahku padamu? Mengapa engkau membuatku kecewa seperti ini? Jika aku tahu engkau akan bersikap demikian, aku tidak akan meminta raja Sindhu untuk tetap tinggal di sini. Aku salah besar tidak membiarkannya pulang kenegerinya. Jika Arjuna menyerangnya, dia tidak mungkin lepas dari bayangan maut. Maafkan kata-kataku yang bodoh ini. Aku tidak bisa menahan kesedihan hatiku. Pergilah dan selamatkan nyawa raja Sindhu.”
Jawab Durna: “Tuanku Raja, tidak ada gunanya menanggapi kata-kata yang diucapkan tanpa pikir panjang. Engkau itu seperti anak bagiku –bahkan lebih kusayang daripada Aswatama sendiri. Lakukan seperti apa yang aku katakan. Kenakan baju perang ini. Pergilah dan hentikan Arjuna.
Aku tidak bisa mengejarnya karena aku harus memimpin pasukan di sini. Lihatlah di sana. Hujan panah! Pasukan Pandawa menyerang kita. Sekarang, Yudhistira tidak didampingi Arjuna. Bukankah ini saat-saat yang kita nantikan? Rencana kita berjalan seperti yang kita rencanakan. Aku akan menangkap Yudhistira hidup-hidup dan membawanya sebagai tawanan. Karena itu, aku tidak bisa mengejar Arjuna. Jika aku mengejar Arjuna, pasukan kita akan berantakan dan kita akan menelan kekalahan kembali. Mari kukenakan baju perang ini padamu. Pergilah. Jangan takut. Engkau punya keberanian, kemampuan, dan pengalaman. Baju ini akan melindungi dari berbagai macam senjata. Baju ini akan melindungi badanmu dari serangan apa pun. Pergilah ke medan perang dengan hati mantap, seperti Batara Indra ketika mendapatkan baju perang dari Batara Brahma. Semoga engkau menang.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


