Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Lima Maharaja Jawadwipa

Jumat, 22 Mei 2015

KISUTA.com - Sanghyang Girinata mencoba menata Jawadwipa lebih dari seabad penyamarannya sebagai brahmana sampai jumeneng Prabu Mahadewabuda. Pada saat ia kembali ke Kahyangan Jonggring Saloka, terbersit kekhawatiran bahwa Jawadwipa akan kembali porak poranda. Terutama dalam hal moral dan budaya. Oleh karena itu, dititahkannya kelima putranya melanjutkan misinya di Jawadwipa.

Hyang Girinata: Anak-anakku ngger Sambu, Brahma, Bayu, Indra dan Wisnu. Ketahuilah, kalian akan aku tugaskan untuk melanjutkan penataan masyarakat manusia di Jawadwipa. Adakah yang ingin kalian tanyakan.

Batara Sambu: Ya Rama Pukulun, mengapa kami perlu diutus ke sana?

Hyang Girinata: Anak-anakku,... Banyu iku bisane bening yen wis menep. Senadyan maune buthek, nanging yen wis menep, iya banjur bening. Semono uga tumrap pepenginan utawa gegayuhan yen diudi nganti katog lan menep ing tembe buri uga bakal kasinungan sifat bening. Lire, nadyan pepenginan lan panggayuh bisa kaleksanan klawan tumuli, ewa semono yen ditlateni suwening suwe uga bakal kasembadan...maksudku Air biasanya bening kalau sudah mengendap kotorannya. Walaupun sebelumnya keruh, tetapi setelah mengendap, akan menjadi bening. Demikian pula cita-cita. Kalau kita upayakan sungguh-sungguh dan telaten akan tercapai juga di kemudian hari. Artinya, walaupun cita-cita ada yang bisa segera terlaksana, tetapi kalau kita tlaten yang sulitpun lama-lama pasti akan tercapai...

Batara Indra: Paduka Rama, menginginkan kami melanjutkan ajaran yang pernah Rama lakukan agar manusia tidak keluar dari rambu-rambu kebajikan, hingga membuat suasana keruh kembali...bukankah demikian Rama.

Hyang Girinata: Benar...Oleh karena itu perlu kalian berlima menyebar karena luasnya Jawadwipa, agar ajaran kita dapat mereka pahami dan mereka laksanakan dengan baik. Jika keadaan aman tenteram dan raharja sudah tercapai barulah kalian bisa lengser keprabon menyerahkan pada raja-raja pengganti kalian dan kalian kembali ke Jonggringsaloka.

Sesampainya di Pulau Jawa, kelima dewa putra Batara Guru pun mencari tempat yang cocok untuk mendirikan kerajaan masing-masing. Mereka menelusuri Pulau Jawa yang membentang panjang dari Tanah Aceh sampai Tanah Bali, dan masing-masing akhirnya memilih pegunungan sebagai ibu kota kerajaan mereka.

Batara Sambu turun di Gunung Rajabasa, di daerah Sumatra sebelah selatan, lalu mendirikan Kerajaan Medang Prawa di sana. Ia memakai nama Sri Maharaja Maldewa.

Batara Brahma turun di Gunung Mahera, di daerah Banten, lalu mendirikan Kerajaan Medang Gili di sana. Ia memakai nama Sri Maharaja Sunda.

Batara Wisnu turun di Gunung Gora, di daerah Tegal, lalu mendirikan Kerajaan Medang Pura di sana. Ia memakai nama Sri Maharaja Suman.

Batara Indra turun di Gunung Mahameru, di daerah Jawa sebelah timur, lalu mendirikan Kerajaan Medang Gana di sana. Ia memakai nama Sri Maharaja Sakra.

Batara Bayu turun di Gunung Karang, di daerah Bali, lalu mendirikan Kerajaan Medang Gora di sana. Ia memakai nama Sri Maharaja Bima.

Kelima maharaja tersebut memerintah di wilayah masing-masing dengan derajat yang setara, tidak ada yang lebih unggul dan tidak ada yang lebih rendah di antara mereka.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya