Prabu Hiranyakasipu
KISUTA.com - Alkisah, tersebutlah seorang raja raksasa yang sakti bernama Hiranyakasipu. Dia adalah Raja negara Alengka yang pertama. Bertahun-tahun ia bertapa di Gunung Jamurdipa untuk mendapatkan kesaktian yang luar biasa. Ia menginginkan agar sakti dan tidak terkalahkan oleh manusia dan makhluk lainnya di Tribuana (jagad Mayapada, Madyapada dan Arcapada). Prabu Hiranyakasipu ini merupakan pemuja Batara Guru yang setia dan pernah menjalankan tapa brata sangat berat selama belasan tahun.
Batara Guru berkenan menerima tapa brata tersebut dan bersedia mengabulkan apa saja permintaan Prabu Hiranyakasipu, kecuali jika ia meminta kehidupan abadi. Ternyata yang diminta Prabu Hiranyakasipu adalah ilmu kesaktian, yaitu tidak bisa dikalahkan oleh dewa, manusia, raksasa, binatang, jin, juga tubuhnya tidak bisa terkena penyakit dan tidak bisa terluka oleh senjata jenis apa pun. Batara Guru mengabulkan permintaan tersebut. Setelah mendapatkan kesaktian yang diinginkannya, Prabu Hiranyakasipu sangat berterima kasih dan mohon pamit kembali ke Kerajaan Alengkadiraja.
Ternyata setiap pencapaian selalu mengundang datangnya riya yang tak terduga, setelah mendapatkan kesaktian justru sifat Prabu Hiranyakasipu berubah menjadi angkara murka. Ia banyak menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di sekitar Tanah Hindustan, dengan dibantu adiknya yang bernama Prabu Hiranyawreka raja Kerajaan Kasipura. Sampai akhirnya mereka mendengar di seberang timur terdapat sebuah pulau yang sangat indah dan subur bernama Pulau Jawa yang dipimpin oleh lima raja bersaudara. Maka, berangkatlah kedua raja raksasa itu menuju ke sana untuk menjadikan pulau tersebut sebagai daerah jajahan.
Prabu Hiranyakasipu dan Prabu Hiranyawreka mendarat di Pulau Jawa. Yang menjadi sasaran pertama adalah Kerajaan Medang Prawa yang terletak paling barat. Perang besar pun terjadi. Sri Maharaja Maldewa terdesak kalah dan melarikan diri ke tenggara untuk berlindung di Kerajaan Medang Gili.
Sri Maharaja Sunda di Kerajaan Medang Gili menerima kedatangan Sri Maharaja Maldewa, dan ia merasa sangat khawatir mendengar apa yang telah dialami kakaknya itu. Ia lalu mengundang ketiga saudara yang lain supaya datang dengan membawa bala tentara masing-masing. Ia sangat yakin negerinya akan menjadi sasaran Prabu Hiranyakasipu yang berikutnya. Maka, ia pun berniat menggabungkan kekuatan lima kerajaan dengan berkumpul di Medang Gili.
Ketiga maharaja telah datang di Kerajaan Medang Gili dengan membawa pasukan lengkap, serta menunggang kendaraan masing-masing. Sri Maharaja Sakra datang dengan mengendarai Gajah Erawata, Sri Maharaja Bima mengendarai Gajah Sena, sedangkan Sri Maharaja Suman mengendarai Garuda Brihawan.
Sesuai dugaan, Prabu Hiranyakasipu dan Prabu Hiranyawreka pun datang menyerbu Kerajaan Medang Gili. Pertempuran kembali berlangsung di mana pasukan raksasa Kerajaan Alengkadiraja dan Kasipura menghadapi gabungan pasukan jawata dari lima kerajaan. Kendaraan Sri Maharaja Suman yang bernama Garuda Brihawan ikut maju menerjang dan berhasil menewaskan Prabu Hiranyawreka.
Prabu Hiranyakasipu sangat marah melihat adiknya tewas. Ia pun mengamuk memukul mundur pasukan jawata. Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya, juga tidak ada satu senjata pun yang dapat melukai kulitnya.
Dalam keadaan gawat tersebut, Batara Narada datang dari Kahyangan Jonggringsalaka menemui lima maharaja untuk menceritakan riwayat Prabu Hiranyakasipu.
Batara Narada: Oooeeyyy...anak-anak Prabu...sabarlah sejenak, dengarkan cerita Uwa...heheheheh
SRi Maharaja Suman: Uwa Pukulun, bagaimana ini? Kok bisa bangsa denawa tidak mempan senjata, dan tidak mempan aji kesaktian kami masing-masing.
Sri Maharaja Bima: Ya Uwa, apakah ada rahasia di balik kesaktian Hiranyakasipu? Bagaimana kami harus menghadapi?
Batara Narada: Weee lha dalah...hehehe...hal sederhana bisa bikin pusing kalau berkembang jadi bencana. Tadinya Hiranyakasipu adalah raja yang tekun beribadah, saking tekunnya Adi Guru merasa tersanjung, akhirnya dia penuhi semua keinginannya, Kecuali ketika dia minta abadi ngga bisa mati...halah ya mana bisa ??? khan dia makhluk hidup...sudah hidup, khan pasti bisa mati to?....ya ngga...heheheheh.
SRi Maharaja Suman: Jadi kesaktian seperti apa yang dimiliki Hiranyakasipu?
Batara Narada: Simak..dong...simak kata-kata Uwa...wadiew..ke mana saja kalian ini... dia itu tidak bisa dikalahkan Dewa, Manusia, Jin, Binatang dan tidak mempan dilukai dengan senjata...wis itu thok..itu saja..menika kemawon...hehehe...kok kamu kethal kethil mulai ngerti ya Wishnu...eh Sri Maharaja Suman...wuiii namamu elok tenan ki...
Sri Maharaja Suman tersenyum maklum mendengar sentilan jenaka Batara Narada. Sri Maharaja Suman pun mendapat akal untuk mengalahkan raja raksasa tersebut. Ia lalu mengubah wujudnya menjadi manusia berkepala singa dengan memakai nama Batara Narasinga.
Maka terjadilah perang tanding seru antara Prabu Hiranyakasipu melawan Batara Narasinga. Setelah bertarung cukup lama, Prabu Hiranyakasipu akhirnya terluka parah dengan perut robek terkena kuku-kuku tajam di kedua tangan Batara Narasinga.
Prabu Hiranyakasipu yang sekarat merasa heran mengapa anugerah Batara Guru tidak bisa melindungi dirinya dari serangan lawan yang satu ini. Batara Narasinga menjelaskan bahwa dirinya adalah manusia berkepala hewan, sehingga tidak bisa disebut manusia, juga tidak bisa disebut binatang. Ia juga tidak menggunakan senjata untuk mengalahkan Prabu Hiranyakasipu, tetapi menggunakan cakar untuk merobek perutnya.
Batara Narasinga: Hiranyakasipu...ketahuilah, sebenarnya aku ini Batara Wisnu yang ngejawantah. Aku terpaksa memperdayakan kamu, untuk mematahkan keangkuhan dan angkara murkamu. Renungkan, Ciri-cirine jiwa kang isih kothong mono bisa dititik saka ulat praupan, tutur wicara, lan tingkah lakune kang ora gelem kalah. Sabarang tindak tanduke kepengin unggul lan mamerake keluwihane, ora angger keluwihan bisa kanggo ngadhepi bebaya lan ngentas saka papa cintraka. Kaluwihan kang tanpa dilandhesi kautaman kaya dene wedhak pupur bae sing nempel ing njaban kulit bae, ora bisa tahan suwe lan gampang luntur marga saka pakartine dhewe, awit nerak dhasar-dhasar bebener lan kasucian....maksudku, Tanda-tanda jiwa yang masih kosong dapat dilihat dari ekspresi wajah, cara berbicara dan tingkah laku yang tidak mau kalah. Perilakunya selalu ingin menang dan pamer kelebihan. Padahal tidak semua kelebihan bisa digunakan untuk menghadapi bahaya dan melepaskan diri dari kesusahan. Kelebihan tanpa landasan keutamaan ibarat bedak yang menempel di kulit luar. Tidak akan tahan lama dan mudah luntur karena perbuatan kita sendiri, karena melanggar dasar-dasar kebenaran dan kesucian....Dan engkau bukan hanya melanggar kebenaran dan kesucian, tetapi sudah mengoyak-oyak kebenaran karena kesombonganmu. Maka hanya dengan memusnahkanmu, ketentraman dunia ini bisa pulih kembali.
Prabu Hiranyakasipu akhirnya meninggal karena luka-lukanya. Namun, ia sempat bersumpah bahwa kelak ia akan menitis bersatu jiwa raga dengan seorang keturunannya yang bernama Prabu Rahwana untuk menyebarkan kejahatan dan angkara murka.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


