Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Satyaki yang Perkasa

Senin, 25 Mei 2015

KISUTA.com - Ketika melihat Duryudana mengejar Arjuna, para Pandawa mengerahkan pasukan menyerang pasukan Kurawa. Maksudnya adalah menahan Durna supaya tidak ikut menyelamatkan Jayadrata. Demikianlah, Dristadyumna berulang kali memimpin pasukan untuk menyerang Durna. Akibatnya, pasukan Kurawa harus bertempur di tiga sektor dan menjadi lemah.

Dengan kereta yang ditarik empat kuda berbulu putih seperti merpati, Dristadyumna menyerang Durna dengan hebat. Durna dan Pangeran Panchala itu terlibat dalam pertarungan sengit seperti awan-gemawan sebelum matahari terbenam. Dristadyumna lemparkan busurnya. Dengan pedang dan tameng di tangan, ia melompat ke arah kereta Durna. Dia serang Durna dengan hebat.

Pertarungan sengit itu berlangsung lama. Pada satu kesempatan, dengan amarah meluap-luap Durna lontarkan anak panahnya ke arah Dristadyumna. Anak panah itu pasti akan menewaskan Dristadyumna jika Satyaki tidak datang membantunya. Panah Satyaki berhasil membelokkan anak panah Durna. Durna, yang mendesis seperti ular kobra hitam, menatap ke arah Satyaki dengan pandangann berapi-api. Dia segera melangkah maju ke arah Satyaki. Melihat Durna menginginkannya, Satyaki segera maju menerima tantangan Durna.

Kata Satyaki kepada sais keretanya: "Inilah orang yang meninggalkan hidupnya sebagai brahmana dan memilih bertarung di medan perang. Engkau membuat para Pandawa terpaksa bertarung mati-matian. Engkaulah yang membuat Duryudana semakin sombong. Orang ini merasa diri sebagai kesatria yang serba hebat5 dan menjadi angkuh. Aku akan memberinya pelajaran. Ayo, kita pacu kereta ke arahnya."

Sais kereta melakukan apa yang diperintahkan Satyaki. Dia segera menghela kuda-kuda putih keperakan mereka dan memacunya sekencang mungkin. Satyaki dan Durna saling melontarkan panah dengan amat cepat sehingga medan perang menjadi gelap karena matahari tertutup gelombang serangan panah mereka. Panah-panah besi yang dilontarkan tampak berkilauan seperti ular yang baru saja melepaskan kulit lamanya.

Tutup kereta dan panji-panji keduanya ambruk terkena serangan. Durna dan Satyaki banyak mengeluarkan jurus-jurus ampuhnya. Para kesatria kedua belah pihak diam terpaku menyaksikan pertarungan tingkat tinggi itu. Mereka sama sekali tidak meniup terompet atau menyerukan seruan perang. Mereka diam terpukau. Para dewa, widyawara, raksasa, dan yaksa menyaksikan pertarungan sengit itu dari langit.

Busur Durna dipatahkan panah Satyaki. Putra Resi Bharadwaja itu terpaksa mengambil busur yang baru. Setiap kali Durna memegang busurnya, Satyaki berhasil mematahkannya. Demikian terus terjadi sampai Durna kehilangan seratus satu busur tanpa bisa melontarkan satu anak panah pun karena selalu dipatahkan panah Satyaki.

Dalam hati mahaguru itu berkata: “Kesatria ini memiliki kesaktian yang seimbang dengan Sri Rama, Kartawirya, Dananjaya, dan Bhisma.” Ia amat senang bisa mendapatkan musuh yang sepadan dengannya. Pemanah sejati akan sangat senang melihat keterampilan pemanah yang mumpuni. Setiap anak panah yang dilepaskan Durna dengan tingkat ketepatan sangat akurat dibalas dengan keterampilan yang tidak kaolah hebat.

Pertempuran yang seimbang ini berlangsung lama. Durna yang kemampuan olah senjatanya sulit dicari padanannya itu akhirnya memutuskan untuk membunuh Satyaki. Ia menyerang Satyaki dengan senjata penyembur api. Serangan itu dibalas dengan senjata penyembur air.

Tetapi pelan-pelan Satyaki mulai kehilangan tenaga. Melihat itu, pasukan Kurawa mulai bersorak-sorai. Yudhistira yang melihat keletihan Satyaki segera memerintahkan orang-orang yang ada di dekatnya untuk membantu Satyaki.

Katanya kepada Dristagyumna: “Kesatria kita Yuyudhana (Satyaki) yang perkasa mulai terdesak Durna. Engkau harus cepat membantunya. Jika tidak, brahmana itu akan membunuhnya. Jangan buang waktu! Sekarang Durna mempermainkan Satyaki seperti kucing memain-mainkan seekor burung. Satyaki sudah berada di dalam cengkraman Durna.”

Yudhistira segera perintahkan pasukannnya untuk menyerang Durna.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya