Kecemasan Yudhistira
KISUTA.com – Dengan susah payah, Satyaki berhasil diselamatkan. Tidak berapa lama kemudian, terdengar terompet kerang Sri Krishna dari arah tempat Arjuna bertempur.
Kata Yudhistira dengan hati cemas: “Satyaki, aku mendengar Panchajanya. Tapi, mengapa tidak terdengar desing Gandewa? Aku khawatir Arjuna dikeroyok sahabat-sahabat Jayadrata. Jangan-jangan dia dalam bahaya. Aku khawatir Arjuna dikepung dari segala penjuru. Pagi tadi dia menerjang benteng pertahanan pasukan Kurawa dan sampai sekarang ia belum kembali. Mengapa hanya terompet Krishna yang terdengar? Aku khawatir Arjuna tewas dan Krishna terpaksa angkat senjata. Satyaki, aku percaya kepadamu. Engkau pasti bisa menyelamatkan Arjuna. Arjuna pernah mengatakan tidak ada prajurit yang sebaik Satyaki. Pergilah sekarang dan selamatkan Arjuna. Lihatlah debu-debu mengepul di sana. Aku yakin Arjuna sedang dikepung para kesatria terbaik dan tangguh yang siap mengorbankan jiwa raga untuk Jayadrata. Pergilah sekarang.”
Satyaki yang masih kelelahan karena pertempurannya dengan Durna, menjawab: “Paduka Raja yang tidak pernah berbuat dosa, aku akan lakukan perintahmu. Apa yang tidak kulakukan demi Arjuna? Nyawaku tidak lebih dari setitik debu di mataku. Jika engkau perintahkan, dewa pun akan aku lawan. Tapi izinkan aku untuk mengatakan bahwa Wasudewa yang bijaksana dan Arjuna sendiri berpesan supaya aku menjagamu. ‘Sebelum kami kembali setelah membunuh Jayadrata, jagalah Yudhistira. Jagalah dia dengan hati-hati. Kami percayakan keselamatannya padamu. Hanya ada satu kesatria hebat yang kami takuti di antara pasukan Kurawa. Dia adalah Durna. Engkau tahu ia berniat menculik Yudhistira.’ Demikian yang mereka katakan sebelum pergi. Arjuna mempercayakanmu kepadaku. Dia percaya aku bisa menjagamu. Bagaimana mungkin aku tidak mengindahkan perintahnya? Jangan khawatir keselamatan Arjuna. Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Kesaktian Jayadrata dan sahabat-sahabatnya tidak lebih dari seperenam belas kesaktian Arjuna. Dharmaputra, kepada siapa aku percayakan keselamatanmu jika aku pergi? Tidak ada yang bisa melindungimu dari Durna selain aku. Jangan perintahkan aku pergi. Mohon dipertimbangkan matang-matang.”
Jawab Yudhistira: “Satyaki, aku sudah memikirkan masak-masak. Aku sudah menimbang-nimbang untung dan rugi mengirimmu untuk menolong Arjuna. Kuputuskan engkau harus pergi. Di sini ada Bima yang perkasa untuk menjagaku. Selain itu masih ada Dristadyumna dan para kesatria lain. Jangan mengkhawatirkanku.”
Setelah berkata demikian, Yudhistira meletakkan sekotak penuh anak panah dan senjata lain di kereta kuda Satyaki. Kuda kereta Satyaki pun diganti dengan kuda baru yang masihsegar. Kemudian, ia perintahkan Satyaki berangkat setelah memberinya restu.
Kata Satyaki sesaat sebelum berangkat menyusul Arjuna: “Bimasena, jagalah Yudhistira. Waspadalah.”
Satyaki dihadang dengan sengit ketika berusaha menembus formasi pasukan Kurawa. Namun demikian, Satyaki terus menerjang maju. Karena formasi musuh diperketat sedemikian rupa. Satyaki hanya bisa maju sedikit demi sedikit. Melihat Satyaki pergi meninggalkan Yudhistira, Durna meningkatkan serangan ke arah Yudhistira. Serangan yang terus menerus dan tanpa henti pasukan Kurawa berhasil memukul mundur pasukan Pandawa. Yudhistira semakin cemas* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


