Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Harapan Yudhistira

Minggu, 31 Mei 2015

KISUTA.com - Kata Yudhistira kepada Bimasena: "Arjuna belum juga kembali dan begitu pula dengan Satyaki yang aku kirim untuk membantunya. Bima, aku semakin cemas saja. Deru Panchajanya sudah terdengar tapi aku tidak mendengar desing Gandewa. Satyaki, sahabat Arjuna yang paling berani dan setia, juga belum datang membawa kabar. hatiku tambah gelisah."

Jawab Bima: "Aku belum pernah melihatmu seresah ini. Jangan biarkan rasa khawatir menguasaimu. Katakan apa yang harus aku lakukan. Jangan biarkan pikiranmu dikuasai rasa cemas."

"Bima terkasih, aku khawatir saudaramu tewas di tangan musuh dan Krishna terpaksa turun tangan untuk menghadapi musuh. Deru terompet Madhawa sudah terdengar tapi aku tidak mendengar desing busur Arjuna. Aku khawatir Dananjaya, pahlawan pilih tanding, harapan terbesar kita telah terbunuh. Pikiranku bingung. Pergilah dan bantulah mereka. Lakukan apa yang mesti dilakukan dan segeralah kembali. Atas perintahku, Satyaki menerjang pasukan Kurawa dan menuju ke arah di mana Arjuna bertempur. Pergilah sekarang dan lakukan hal yang sama. Jika mereka masih hidup, berserulah sekeras-kerasnya seperti yang biasa engkau lakukan."

Kata Bima: "Rajaku, jangan gelisah seperti itu. Aku akan pergi dan memberi tanda bahwa mereka masih hidup." Setelah berkata demikian, dia menoleh kepada Dristadyumna dan katanya: "Panchala, engkau tahu dengan segala cara Durna berusaha menangkap Yudhistira hidup-hidup. Tugas utama kita adalah menjaga raja. Tapi aku harus mematuhi apa yang dia perintahkan kepadaku. Aku akan pergi. Aku serahkan keselamatannya ke dalam tanganmu."

Putra Drupada yang pemberani dan telah bersumpah untuk membunuh Durna menjawab: "Bima, jangan khawatir. Pergilah dengan tenang. Durna tidak akan bisa menangkap Yudhistira sebelum mencabut nyawaku." Kemudian, Bima pergi menyusul Satyaki.

Dengan kekuatan pasukan Kurawa segera mengepung Bima. Mereka berusaha menghadang Bima. Tapi seperti singa yang memorak-porandakan sekumpulan serigala, Bima terus menerjang. Tidak kurang dari sebelas putra Destarata terbunuh di tangan Bima. Kemudian, Bima mendekati Durna. Kata Durna: "Berhenti! Ini aku musuhmu. Engkau tidak akan bisa maju sebelum mengalahkanku. Saudaramu bisa merangsek maju karena kubiarkan. Tapi engkau tidak akan kubiarkan lolos."

Demikian kata Durna. Dia yakin akan berbuat sama seperti yang dilakukan Arjuna, yaitu dengan penuh hormat menghindari gurunya.

Kata Bima: "Brahmana yang terhormat, Arjuna bisa menerobos masuk bukan karena kebaikan hatimu. Dia berhasil menembus pertahananmu dan memorak-porandakan barisan Kurawa. Tapi, aku tidak akan seperti Arjuna. Aku tidak akan menunjukkan belas kasih kepadamu. Dulu memang engkau guru dan sekaligus ayah bagi kami. Kami menghormatimu seperti itu. Sekarang engkau berkata bahwa engkau adalah musuh kami. Baiklah, aku tidak akan menolak tantangan ini."

Setelah berkata demikian, Bima melemparkan gada ke arah kereta Durna. Kereta Durna hancur berkeping-keping. Durna harus menggunakan kereta baru. Kereta kedua juga mengalami nasib yang sama. Dan Bima terus merangsek maju, mengalahkan musuh-musuh yang menghadang. Hari itu, Durna kehilangan delapan kereta kuda. Pasukan Bhoja yang berusaha menghadang dibuat kocar-kacir. Ia terus maju menuju tempat Arjuna bertarung melawan pasukan Jayadrata.

Segera setelah melihat Arjuna, Bimasena meraung sekeras-kerasnya. Arjuna dan Krishna amat senang mendengar raungan Bima. Lalu, mereka membalas isyarat itu dengan sukacita. Sayup-sayup Yudhistira mendengar raungan Bima. Hatinya menjadi tenang. Ia segera panjatkan doa dan mengucapkan mantra untuk keselamatan Arjuna.

Dalam hati, Yudhistira yakin: "Sebelum matahari terbenam Arjuna akan berhasil memenuhi sumpahnya. Arjuna akan berhasil menewaskan orang yang menyebabkan kematian Abimanyu dan kembali membawa kemenangan. Mungkin saja, Duryudana akan meminta perdamaian setelah kematian Jayadrata. Setelah melihat saudara-saudaranya terbunuh sia-sia, mungkin saja Duryudana yang dungu menjadi sadar. Setelah sekian banyak raja dan kesatria besar menemui ajal, bukan tidak mungkin Duryudana yang picik menyadari kesalahannya dan meminta perdamaian. Apakah itu akan terjadi? Bhisma, sang kesatria agung, telah menjadi korban. Apakah perseteruan yang sengit ini akan berakhir dengan sekian banyak kematian dan dengan demikian kita selamat dari kehancuran yang mengenaskan."

Sementara dalam hati Yudhistira berharap dan memimpikan perdamaian, pertempuran terus berlangsung dengan sengit. Arjuna, Bima, dan Satyaki bertarung melawan musuh. Hanya Dewata yang tahu kedukaan macam apakah yang harus dialami dunia ini. Kehendak Dewata memang sulit dimengerti.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya