Pertarungan Dua Maharaja
KISUTA.com - Pada suatu hari Dewi Brahmaniyoni bercerita tentang riwayat ayahnya, bahwa Sri Maharaja Budawaka adalah penjelmaan Batara Brahma yang pada mulanya menjadi penguasa di Kerajaan Medang Siwanda menggantikan Sri Maharaja Balya. Kemudian pada suatu hari Sri Maharaja Budawaka dikalahkan oleh raja Kerajaan Medang Kamulan sehingga terusir meninggalkan Medang Siwanda. Sri Maharaja Budawaka kemudian membangun Kerajaan Gilingaya dan menjadi raja di sana sampai saat ini.
Prabu Jambuwana selaku menantu merasa berkewajiban untuk membalaskan kekalahan Sri Maharaja Budawaka. Ia pun memimpin pasukan raksasa Kerajaan Prajantaka berangkat menyerang Kerajaan Medang Kamulan. Sesampainya di sana terjadilah pertempuran besar. Melihat pasukan Medang Kamulan terdesak, Sri Maharaja Budakresna akhirnya turun sendiri ke medan perang dan melepaskan senjata Cakra Sudarsana ke arah Prabu Jambuwana. Begitu terkena senjata berbentuk cakram bergigi tajam tersebut, Prabu Jambuwana pun tewas dengan tubuh terpotong menjadi dua.
Dewi Brahmaniyoni kembali ke Kerajaan Gilingaya untuk mengadu kepada sang ayah. Sri Maharaja Budawaka sangat terkejut bercampur marah. Ia pun memutuskan untuk menyerang Kerajaan Medang Kamulan demi membalaskan kematian menantunya, sekaligus membalaskan dendamnya atas kekalahan yang telah lalu.
Begitu tiba di Kerajaan Medang Kamulan, Sri Maharaja Budawaka langsung berhadapan dengan Sri Maharaja Budakresna. Ia teringat bahwa raja Medang Kamulan yang dulu mengalahkannya berwujud raksasa, bernama Sri Maharaja Birawa, namun kini yang menghadapinya ternyata berwujud manusia bernama Sri Maharaja Budakresna. Rupanya telah terjadi pergantian raja di Medang Kamulan, namun hal ini tidak dipedulikan Sri Maharaja Budawaka. Ia yakin bahwa Sri Maharaja Budakresna adalah anggota keluarga Sri Maharaja Birawa dan bisa menjadi sasaran pelampiasan balas dendamnya.
Maka, terjadilah pertarungan antara Sri Maharaja Budawaka melawan Sri Maharaja Budakresna. Pertarungan itu memakan waktu selama beberapa hari, sedangkan mereka kalah dan menang silih berganti. Tidak jelas siapa yang lebih unggul di antara mereka berdua. Sampai akhirnya turunlah Batara Narada dari kahyangan yang melerai perkelahian itu.
Narada: Weeee lha dalah..Budawaka, Budakresna...jangan lanjutkan pertempuran ini...lihatlah yang kalian hasilkan, bukit-bukit hancur terkena pukulan sakti kalian, air sungai mengering terterpa tamparan panas Budawaka...katiwasan ngger...berhentilah ngger.
Budawaka: Pukulun...saya tidak bisa menghentikan peperangan ini, Budakresna telah bertindak sewenang-wenang dengan membunuh Jambuwana menantu saya.
Narada: Ngger Budawaka, matinya Jambuwana sudah menjadi garis nasibnya...dia raja Denawa yang baik dan jujur, karena itu dia mendapat anugrah istri cantik Dewi Brahmaniyori putrimu...tetapi pahala itu tidak langgeng dia nikmati, karena dosa-dosa dan kesalahan masa lalunya juga harus diperhitungkan....Budawaka, ingatlah kaki.. Anganggoa rereh ririh ngati-ati, den kawang-wang barang laku, kang waskitha solahing wong...Seyogyanya berlakulah sabar, cermat dan hati-hati, perhatikanlah segala perilaku dan cermatlah terhadap perilaku orang...
Budawaka: Apa maksud pukulun?
Narada: Karena amarah dan emosimu, engkau tidak sadar siapa yang engkau hadapi ini....jika dia manusia biasa, sanggupkah menerima tamparan girigenimu? Kalau bukan jelmaan dewa, tahankah dia bertarung denganmu 3 hari 3 malam seperti ini?
Budawaka: Jagad Dewa Batara...? Jadi siapa sebenarnya Budakresna ini?
Budakresna: Pukulun Narada, siapakah dewa yang bersemayam di raga Budawaka ini?
Narada menjelaskan bahwa pertarungan antara Sri Maharaja Budawaka dan Sri Maharaja Budakresna sebaiknya tidak perlu dilanjutkan, karena masing-masing adalah penjelmaan Batara Brahma dan Batara Wisnu. Mereka berdua adalah saudara kandung sesama putra Batara Guru yang sejak dulu saling akrab namun kini tidak saling mengenali.
Sri Maharaja Budawaka sangat malu begitu mengetahui bahwa Sri Maharaja Budakresna ternyata adiknya sendiri. Ia pun meminta maaf kepada Sri Maharaja Budakresna atas segala kesalahannya. Di lain pihak, Sri Maharaja Budakresna juga merasa sangat malu tidak bisa mengenali penjelmaan kakaknya.
Narada: Kaki Brahma lan Wisnu..sejatine, awakmu kudu tansah ngugemi perang sabil ing sakjroning manah iro, perang sabil punika, nora lawan si kopar lawan si kapir, sajroning dhadha punika, ana prang bratayudha, langkung rame aganti pupuh-pinupuh, iya lawan dhewekira, iku latining prang sabil....Ananda Brahma dan Wisnu, sebenarnya dalam hati kalian selalu akan terjadi perang sabil. perang sabil itu bukan melawan kafir saja, di dalam dada itu ada perang baratayuda, ramai sekali saling pukul-memukul yaitu perang melawan dirinya nafsu, itulah sesungguhnya perang sabil...Oleh karena itu, waspadalah...jangan gegabah menggunakan nafsu amarah, kendalikan dirimu...Ulun akan kembali ke kahyangan berhati-hatilah kalian anak-anakku.
Sepeninggal Batara Narada, untuk menghapuskan kenangan buruk itu, Sri Maharaja Budakresna mengganti nama Kerajaan Medang Kamulan menjadi Kerajaan Purwacarita.
Sri Maharaja Budawaka telah kembali ke Kerajaan Gilingaya, namun ia masih sangat malu dan menyesali kebodohannya yang tidak bisa mengenali penjelmaan Batara Wisnu dalam wujud Sri Maharaja Budakresna. Karena perasaan malunya yang teramat sangat itu, ia pun tidak bersemangat lagi menjadi raja Gilingaya, dan memilih kembali ke wujud Batara Brahma. Maka, setelah mewariskan takhta Kerajaan Gilingaya kepada sang menantu, yaitu Batara Rasikadi, ia pun kembali ke tempat tinggalnya di Kahyangan Daksinageni.
Sepeninggal sang mertua, Batara Rasikadi dilantik menjadi raja Kerajaan Gilingaya yang baru, dengan bergelar Prabu Brahmakadali. Adapun kedudukan sebagai menteri utama tetap dijabat oleh Patih Suweda.
Sementara itu, melihat sang adik menjadi raja, Batara Sukadi dan Batara Reksakadi merasa sakit hati. Mereka sangat malu dan keberatan hidup di bawah perintah Prabu Brahmakadali. Keduanya lalu pergi tanpa pamit meninggalkan Kerajaan Gilingaya.
Batara Sukadi memilih pergi ke Kerajaan Purwacarita untuk mengabdi kepada Sri Maharaja Budakresna, sedangkan Batara Reksakadi pergi berkelana ke Tanah Hindustan di mana ia berhasil menaklukkan Kerajaan Kasipura dan menjadi raja di sana.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


