Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Kegelisahan Duryudana

Selasa, 2 Juni 2015

KISUTA.com - Arjuna meninggalkan Yudhistira untuk menghadang serangan Durna. Dia masuk jauh ke pertahanan musuh untuk memenuhi sumpah membunuh Jayadrata sebelum matahari terbenam. Jayadrata adalah aktor utama di balik kematian Abimanyu. Dialah yang menghadang bala bantuan yang datang untuk melumpuhkan Abimanyu. Karena bala bantuan terhadang, Abimanyu terkepung, dikeroyok para kesatria Kurawa, dan akhirnya terbunuh.

Kita telah melihat bagaimana Yudhistira yang diombang-ambing gelombang gelisah memerintahkan Satyaki dan kemudian Bima untuk membantu Arjuna. Ketika melihar Arjuna masih hidup, Bima meraung seperti singa. Samar-samar Dharmaputra mendengar raungan Bima. Ia tahu Arjuna masih hidup.

Hari itu adalah hari keempat belas. Pertempuran masih berlangsung sengit di beberapa titik. Satyaki bertarung hebat melawan Burisrawa. Bima bertempur melawan Karna. Dan di titik yang lain, Arjuna melawan Jayadrata. Durna tetap tinggal bersama pasukan utama untuk menahan serangan Panchala dan Pandawa. Dialah yang memimpin pasukan Kurawa untuk menyerang balik.

Duryudana datang bersama pasukannya di tempat Arjuna menyerang Jayadrata. Tetapi tidak lama kemudian, dia terpukul mundur dan terpaksa kembali meninggalkan arena.

Pertarungan seru dan panjang terjadi tidak hanya di satu sektor. Pasukan harus disebar ke beberapa sektor sehingga pertahanan setiap kubu menjadi lemah.

Kata Duryudana kepada Durna: "Arjuna, Bima, dan Satyaki telah mengobrak-abrik pertahanan kita. Mereka terus mendekati sektor Jayadrata. Mereka mulai mendesak Raja Sindhu. Aneh sekali, di bawah pimpinanmu formasi pasukan kita bisa kocar-kacir seperti ini dan rencana kita berantakan. Setiap orang bertanya kepadaku. Bagaimana mungkin Durna yang adalah mahaguru strategi perang membiarkan kekalahan demi kekalahan menyapu pasukan kita? Jawaban apakah yang bisa kuberikan kepada mereka? Apakah engkau menghianatiku?"

Demikianlah, sekali lagi Duryudana memprotes Durna dengan nada getir. Jawab Durna dengan tenang: Duryudana, tuduhanmu itu sungguh tak pantas karena tidak berdasarkan kenyataan. Tidak ada gunanya bicara seperti itu. Jangan buang-buang waktu. Mari kita pikirkan apa yang harus kita lakukan sekarang."

Kata Duryudana yang kebingungan: "Guru, semestinya engkau yang memberikan nasihat. Katakan kepadaku apa yang harus kita lakukan. Apa yang mesti kita lakukan dalam situasi yang genting ini dan mari kita lakukan segera."

Jawab Durna: "Anakku, memang sekarang situasinya genting. Tiga senapati mereka berhasil menembus barisan pasukan kita. Tapi, kita tak perlu khawatir karena dengan kepergian mereka pertahanan mereka menjadi rapuh dan mudah kita serang. Kita berada di kedua sisi mereka dan itu membuat posisi mereka tidak aman. Pergilah dan bantulah Jayadrata sekali lagi. Lakukan apa yang engkau bisa untuk membantunya. Tidak ada gunanya menyesali kekalahan atau kesulitan yang telah berlalu. Aku akan tinggal di sini dan akan membantumu jika perlu. Aku harus menjaga supaya pasukan Panchala dan Pandawa tetap berada di sini. Jika tidak, pasukan kita akan hancur berantakan."

Seperti yang diperintahkan Durna, Duryudana segera pergi membantu Jayadrata bersama pasukannya.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya