Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Dewi Sriganarti

Rabu, 3 Juni 2015

KISUTA.com - Negeri Purwacarita sedang dipenuhi kebahagiaan, Dewi Subur permaisuri raja, baru saja melahirkan seorang putri yang cantik jelita dengan mata bersinar-sinar bagai bintang kejora. Putri mungil ini diberi nama Dewi Sriganarti.

Dewi Sriganarti, menjadi sekar kedaton kesayangan ayah bunda dan seluruh kerabat istana, putri ini seakan menggantikan ayundanya Dewi Sri yang sekarang sudah menjadi bidadari di Jonggring Saloka.

Sri Maharaja Kanwa: Istriku Dewi Subur, anakmu tumbuh sebagai gadis yang luar biasa...cantik dan banyak menguasai ilmu pengetahuan...

Dewi Subur: Ya Sinuwun...saya sangat berhati-hati mendidiknya...karena sesungguhnya, memberi pelajaran kepada anak itu...menawi dipun awali saking alit, kadya natah ukiran ing wadas, rekaos ananging bade tansah emut, lan nancep ing salira...kosok wangsulipun menawi sinau telat ing wayah dewoso, kadya nilaraken seratan ing toya...gampil ical keli ing aliraning toya. Nadyan mekaten, sinau menika mboten wonten watesipun.

Sri Maharaja Kanwa: Benar sekali istriku, mengajarkan ilmu kepada anak memang harus dimulai sedari dini, agar awet tertancap di dalam sanubarinya, seperti awetnya pahatan batu..kalau mempelajari ilmu saat sudah dewasa, tentu mudah lupa...seperti meninggalkan tulisan di aliran air yang mudah terhapus...namun, tidak ada batasan waktu untuk mempelajari ilmu.

Tahun berlalu demikian cepat, 17 tahun setelah kelahiran putrinya Sri Maharaja Kanwa mulai menyebarkan ajaran mengenai tatanan ritual agama, seperti selamatan, tumpengan, puasa dll. Setelah tugas menyebarkan tatanan agama selesai, Sri Maharaja Kanwa kembali ke istana Purwacarita. Betapa terkejutnya dia ditangisi istrinya bahwa putrinya Dewi Sriganarti telah hilang entah ke mana. Patih Jakapuring diperintahkan ke Padepokan Andongdadapan kepada Begawan Anda.

Begawan Anda didampingi Raden Sengkan dan Raden Turunan menyambut kedatangan Patih Jakapuring. Dengan kesaktian penerawangannya, Begawan Anda memberikan petunjuk bahwa Dewi Sriganarti hilang diculik raja raksasa Kerajaan Pidanapura bernama Prabu Karungkala.

Raden Sengkan pun mengajukan diri untuk membantu membebaskan Dewi Sriganarti.

Saat itu Prabu Karungkala di Kerajaan Pidanapura menempatkan Dewi Sriganarti di taman sari. Meskipun dibujuk dan dirayu sedemikian rupa, namun Dewi Sriganarti tetap menolak menjadi istri Prabu Karungkala. Pada suatu malam, Raden Sengkan berhasil menyusup ke dalam taman sari tersebut dan membawa lari Dewi Sriganarti untuk dikembalikan ke Kerajaan Purwacarita.

Sri Maharaja Kanwa sangat gembira menyambut kedatangan Raden Sengkan dan Dewi Sriganarti. Sebagai ungkapan terima kasih, Raden Sengkan pun dinikahkan dengan Dewi Sriganarti. Upacara pernikahan digelar beberapa hari kemudian, dengan dihadiri Begawan Radi, Begawan Anda, Begawan Radya, Raden Turunan, Putut Candramawa, dan Putut Wiyunghyang.

Sayang, nasib Raden Sengkan sungguh malang. Pada malam pertama pernikahannya itu, Prabu Karungkala datang menyusup ke dalam istana Purwacarita dan menggigit leher Raden Sengkan yang sedang tidur bersama Dewi Sriganarti. Raden Sengkan pun tewas seketika, sedangkan Dewi Sriganarti kembali diculik dan dibawa lari meninggalkan Kerajaan Purwacarita.

Mendengar jeritan Dewi Sriganarti Raden Turunan berlari mengejar dan berhasil menyusul Prabu Karungkala. Terjadilah pertarungan sengit yang berakhir dengan kekalahan Prabu Karungkala. Raden Turunan lalu membawa pulang Dewi Sriganarti, sedangkan Prabu Karungkala melarikan diri kembali ke istana Pidanapura.

Segenap penghuni istana Purwacarita sangat berduka atas kematian Raden Sengkan yang mengenaskan itu. Sebagai pengganti sekaligus membalas jasa, Raden Turunan lalu dinikahkan dengan Dewi Sriganarti pada hari berikutnya.

Beberapa hari setelah kematian Raden Sengkan dan pernikahan Raden Turunan, ayah mereka yaitu Begawan Anda jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Tidak hanya itu, Begawan Radya di Padepokan Gadingmawukir juga ikut sakit dan meninggal pula.

Sri Maharaja Kanwa menyimpulkan bahwa, penyebab meninggalnya Begawan Anda dan Begawan Radya ini adalah karena mereka terlalu bersedih atas kematian Raden Sengkan yang mengenaskan. Sri Maharaja Kanwa pun melimpahkan semua kesalahan kepada Prabu Karungkala. Maka, setelah kembali ke istana Purwacarita, ia segera mengumpulkan bala tentara dan bergerak menggempur Kerajaan Pidanapura. Sementara itu, Raden Turunan ditugasi menjaga kerajaan.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya