Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Karna dan Bima

Jumat, 5 Juni 2015

KISUTA.com – Kisah pertempuran hari keempat belas menunjukkan bahwa bahkan pada zaman Mahabharata, taktik modern membalik posisi dan mengepung telah dikenal. Keuntungan dan kerugian strategi semacam itu telah dipahami sepenuhnya dan dibicarakan pada zaman itu. Serangan menusuk ke dalam yang dilakukan Arjuna sangat membingungkan musuh. Kisah pertarungan antara Bima dan Karna tampak seperti cerita pertempuran zaman modern.

Bima tidak ingin bertarung atau terlibat pertarungan yang lama melawan Karna. Bima ingin segera membantu Arjuna. Tapi Radheya sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Bima. Ia menghujani Bima dengan panah dan menghadang langkah Bima.

Perbedaan kedua kesatria itu sangat mencolok. Karna yang tampan selalu tersenyum ketika menyerang Bima. Dia membakar emosi Bima dengan berkata: “Hai, jangan lari. Jangan kabur seperti pengecut!” Bima jelas murka diejek seperti itu. Dia semakin murka melihat Karna yang selalu tersenyum. Pertarungan berlangsung sengit. Namun, Karna selalu mengelak dari serangan Bima dengan tersenyum.

Sementara itu, wajah Bima semakin merah padam menahan geram. Dia terus berusaha mendekati Karna. Karna berusaha menjaga jarak dengan melontarkan panah-panah yang terarah tepat ke badan Bima. Tanpa mempedulikan serangan panah dan tombak yang mengarah kepadanya, Bima terus menerjang maju mendekati Karna. Radheya terus melontarkan panah dan tombak dengan wajah tenang dan senyum tersungging. Sementara itu, Bima semakin terbakar amarah dan mengamuk sejadi-jadinya. Badan Bima memang kokoh bagai baja.

Badan Bima merah karena luka-luka. Darah menetes dari tubuhnya seperti bunga-bunga asoka merah yang mekar.Tapi, Bima sama sekali tidak peduli. Berulang kali ia berhasil mematahkan busur dan meremukkan kereta Karna. Senyum Karna memudar ketika dia harus mengganti kereta kuda. Tidak ada lagi senyum di wajah. Amarahnya membuncah seperti samudera pada malam bulan purnama. Keduanya bertempur seperti dua ekor singa. Ketangkasan mereka menyerupai dua pasang garuda. Mereka baku serang seperti dua ekor ular yang marah. Ingatan Bima tentang penghinaan dan kejahatan yang dilakukan padanya dan saudara-saudaranya serta Drupadi membuat semangatnya terus berkobar. Dia mengamuk sejadi-jadinya tanpa menghiraukan hidupnya. Kedua kereta mereka saling serang. Kuda-kuda Karna yang berwarna putih seperti susu dan kuda Bima yang berwarna hitam bergantian saling desak seperti awan yang bertumbukkan ketika badai.

Busur Karna hancur berantakan dan sais kereta terhuyung-huyung ke belakang dan jatuh. Karna segera balas menyerang dengan melemparkan tombak ke arah Bima. Tapi Bima menangkis dan membalas dengan hujan panah ke arah Karna yang menyambar busur yang baru.

Berulang kali Karna kehilangan kereta. Duryudana yang melihat Karna terdesak segera memerintahkan Durjaya: “Pandawa laknat ini akan membunuh Karna. Bantulah dia. Serang Bima dan selamatkan Karna.”

Durjaya segera menyerang Bima. Bima melontarkan hujan panah ke arah kereta Durjaya. Kuda, sais kereta, dan Durjaya sendiri tewas seketika. Melihat tubuh Durjaya bersimbah darah dan berkelojotan di tanah seperti ular yang terluka, hati Karna amat sedih. Dengan keretanya, dia kelilingi pahlawan yang berusaha menyelamatkan hidupnya itu untuk memberikan penghormatan.

Bima terus menyerang dan mendesak Karna dengan hebat.

Sekali lagi, Karna harus berganti kereta baru. Dia serang Bima dengan panah yang terarah tepat ke badan Bima. Bima semakin mengamuk. Dia lemparkan gadanya ke arah kereta Karna. Kereta Karna remuk. Kuda dan sais keretanya tewas seketika. Karna kini berdiri di tanah dengan busur terentang.

Duryudana langsung mengirimkan saudara-saudaranya yang lain untuk membantu Karna. Durmaka segera datang dan menaikkan Karna ke atas kereta.

Melihat anak Destarata yang lain turun ke gelanggang, nafsu membunuh Bima semakin berkobar. Dia lontarkan sembilan anak panah ke arah musuh yang baru datang itu. Tepat saat Karna naik ke atas kereta, baju perang Durmaka hancur dan dia pun tumbang tanpa nyawa. Karna yang sekali lagi melihat kesatria yang berusaha menyelamatkannya meregang nyawa di sisinya hanya bisa terpaku. Hatinya dipenuhi kesedihan yang mendalam.

Kesatria Pandawa itu terus menyerang Karna dengan hebat. Baju perang Karna tercabik-cabik panah Bima. Karna tampak kesakitan. Karna balas menyerang dan melukai sekujur tubuh Bima. Meskipun demikian, Bima terus maju menyerang. Karna merasa malu melihat korban berjatuhan karena berusaha menyelamatkan nyawanya.

Kesedihan hati dan luka-luka yang dialami membuat semangat perang Karna merosot. Karna sudah berniat meninggalkan gelanggang. Tapi ketika ia melihat sekujur tubuh Bima luka-luka dan berlumuran darah, dia urungkan niatnya dan kembali menyerang Bima.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya