Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Bara Dendam Sang Maharaja

Minggu, 7 Juni 2015

KISUTA.com - Sri Maharaja Kanwa menyimpulkan bahwa, penyebab meninggalnya Begawan Anda dan Begawan Radya ini adalah karena mereka terlalu bersedih atas kematian Raden Sengkan yang mengenaskan. Sri Maharaja Kanwa pun melimpahkan semua kesalahan kepada Prabu Karungkala. Maka, setelah kembali ke istana Purwacarita, ia segera mengumpulkan bala tentara dan bergerak menggempur Kerajaan Pidanapura. Sementara itu, Raden Turunan ditugasi menjaga kerajaan.

Sesampainya di wilayah Pidanapura, terjadilah pertempuran besar. Pasukan raksasa Pidanapura digempur habis-habisan dan istananya dihancurkan. Prabu Karungkala terdesak kewalahan dan menyerah memohon ampun. Namun, Sri Maharaja Kanwa tidak peduli dan tetap berniat menghukum mati raja raksasa itu.

Prabu Karungkala ketakutan dan melarikan diri menuju Kerajaan Samaskuta, tempat kakaknya berada.

Prabu Sangkala di Kerajaan Samaskuta menerima kedatangan adiknya. Ia sangat marah mendengar penuturan Prabu karungkala yang sudah menyerah mohon ampun tetapi tetap diancam hendak dibunuh oleh Sri Maharaja Kanwa. Maka, Prabu Sangkala pun berjanji akan memberikan perlindungan kepada adiknya itu dari serangan Sri Maharaja Kanwa.

Tidak lama kemudian, datanglah Sri Maharaja Kanwa beserta pasukannya yang meminta supaya Prabu Karungkala diserahkan. Prabu Sangkala mengerahkan pasukannya untuk menghadapi serangan tersebut. Perang besar kembali terjadi. Lagi-lagi Pasukan Purwacarita memperoleh kemenangan. Kerajaan Samaskuta berhasil dihancurkan, sedangkan Prabu Sangkala dan Prabu Karungkala tewas terkena panah Sri Maharaja Kanwa.

Kemenangan yang diperoleh pihak Purwacarita ini telah membuat Sri Maharaja Kanwa lupa diri. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk melakukan pembantaian terhadap seluruh anggota keluarga Prabu Sangkala dan rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa. Keputusan ini membuat Batara Wisnu yang berada di dalam diri Sri Maharaja Kanwa merasa gerah dan tidak tahan lagi. Ia pun keluar meninggalkan tubuh Sri Maharaja Kanwa dan bergegas kembali ke Kahyangan Utarasegara.

Brahmana Srita: Yayi Prabu, sudahilah pertikaian ini, mari kita kembali ke Purwacarita, dan membantu menantumu Raden Turunan membangun negeri.

Sri Maharaja Kanwa: Tidak kakang Begawan, para yaksa itu harus tumpas dari muka bumi ini. Kelakuan mereka yang biadab tanpa tatanan akan menjadi rusaknya kehidupan umat manusia...

Brahmana Srita: Hhmm, apa bedanya kita dengan mereka kalau yayi Prabu mbarang amuk seperti ini, hingga rakyat tak berdosapun menjadi korban?

Sri Maharaja Kanwa: Jamak lumrah orang lemah menjadi korban kakang...sudahlah, ikuti saja perintahku.

Brahmana Srita: Yayi..dulu Hyang Girinata sudah berpesan, Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan...jangan sakit hati jika terkena musibah, jangan bersedih ketika kita kehilangan...itulah pelajaran untuk berbesar hati...aku tahu engkau merasa kehilangan Kakang Anda dan Kakang Radya, tetapi lihatlah itu sebagai garis nasib, yang mengantarkan mereka kekasedan jati.

Sri Maharaja Kanwa: Tidak semudah itu menghapus dendam ini kakang...harus aku tunjukkan kepada para yaksa itu, siapa yang berkuasa di sini...

Brahmana Srita: Oooo..yayi..Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman...janganlah terobsesi oleh kedudukan, keduniawian dan kepuasan hidup..engkau ini maharaja, jejering satria, seharusnya engkau menjadi panutan rakyatmu bagaimana berlaku bijak. Baiklah, sepertinya kita sudah tidak sejalan...jalankan kehidupanmu sendiri aku akan kembali ke Jonggring Saloka.

Maka, Brahmana Srita pun kembali ke wujud Batara Penyarikan dan melesat pergi ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk melapor kepada Batara Guru.

Setelah ditinggalkan oleh Batara Wisnu, amarah Sri Maharaja Kanwa semakin tidak terkendali. Ia memutuskan pulang ke Kerajaan Purwacarita dan membunuh setiap raksasa yang dijumpai dalam perjalanan.

Ketika melewati Gunung Batuwara, Sri Maharaja Kanwa berjumpa seorang pertapa raksasa bernama Begawan Prakempa. Setelah mengetahui kalau Begawan Prakempa ini adalah ayah dari Prabu Sangkala dan Prabu Karungkala, amarah Sri Maharaja Kanwa kembali meluap dan ingin membunuhnya. Patih Jakapuring berusaha mengingatkan Sri Maharaja Kanwa bahwa Begawan Prakempa tidak terlibat atas perbuatan jahat anak-anaknya. Selain itu, membunuh seorang pertapa yang sedang menyepi adalah sebuah dosa besar.

Sri Maharaja Kanwa tidak peduli pada nasihat itu. Ia lalu menusuk dada Begawan Prakempa menggunakan keris pusakanya. Begawan Prakempa langsung tewas seketika. Sebelum roboh ia masih sempat mengucapkan kutukan, bahwa kematian Sri Maharaja Kanwa akan segera terjadi tidak lama lagi. Tuhan Yang Mahakuasa pun mengabulkan kutukan tersebut. Tiba-tiba terjadilah gempa bumi dahsyat yang disertai dengan hujan badai. Tidak lama kemudian, air laut pun naik ke daratan menyebabkan banjir besar yang disertai ombak meluap-luap (peristiwa ini pada zaman sekarang disebut dengan istilah tsunami).

Sri Maharaja Kanwa dan pasukannya tewas tenggelam oleh bencana alam yang mengerikan itu. Hanya Patih Jakapuring satu-satunya orang yang berhasil selamat, dengan tubuh tersangkut pada cabang pohon di puncak Gunung Batuwara.

Akibat banjir besar itu, Pulau Jawa kini terbelah menjadi dua. Pulau di sebelah barat Gunung Batuwara yang berukuran lebih besar disebut dengan nama Pulau Sumatra, sedangkan pulau di sebelah timur yang berukuran lebih kecil tetap disebut Pulau Jawa. Adapun Pulau Jawa saat itu masih bersatu dengan Pulau Bali.

Patih Jakapuring yang berhasil meloloskan diri dari malapetaka akhirnya sampai di Kerajaan Purwacarita. Raden Turunan dan Dewi Sriganarti terkejut dan sangat berduka mengetahui Sri Maharaja Kanwa telah meninggal. Raden Turunan heran melihat Patih Jakapuring tetap selamat, sedangkan seluruh bala tentara Purwacarita gugur bersama Sri Maharaja Kanwa.

Patih Jakapuring tersinggung merasa dirinya telah dicurigai berkhianat. Karena perselisihan dengan Raden Turunan tidak dapat dihindari lagi, ia pun memilih pergi meninggalkan Kerajaan Purwacarita. Kepergiannya itu disertai seorang pengikut yang berpihak kepadanya, bernama Empu Cakut, yaitu pembuat senjata di Kerajaan Purwacarita.

Raden Turunan lalu dilantik menjadi raja yang baru di Purwacarita menggantikan sang mertua, dengan bergelar Prabu Kandihawa. Adapun yang mendampinginya sebagai menteri utama adalah anak laki-laki Putut Candramawa, bernama Patih Mandasrawa. Mereka berdua lalu bekerja sama menghimpun angkatan perang baru untuk menggantikan para prajurit yang telah tewas bersama Sri Maharaja Kanwa dalam bencana banjir besar di Gunung Batuwara.

Sementara itu, Patih Jakapuring dan Empu Cakut berkelana ke arah barat sampai akhirnya tiba di bekas Kerajaan Gilingaya, Patih Jakapuring pun membangun kembali kerajaan itu dan menjadi pemimpin di sana, dengan bergelar Prabu Heryanarudra. Sebagai pendamping, Empu Cakut pun diangkat menjadi menteri utama, dengan bergelar Patih Anindyamantri.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya