Pemenuhan Janji
KISUTA.com - Ketika mendengar kabar kematian putra-putranya, hati Destarata amat sedih. Katanya kepada Sanjaya: "Seperti ngengat yang jatuh ke dalam Api, anakku menemui ajal. Duryudana yang keras kepala telah membuat Durmaka dan Durjaya tewas mengenaskan. Aku kehilangan anak-anakku. Si dungu itu berkata: 'Karna yang keberanian dan kesaktiannya tidak ada tandingannya berada di pihak kita. Tidak ada yang bisa mengalahkan kita. Bahkan dewa-dewa pun tidak akan sanggup mengalahkanku, jika Karna ada di sisiku. Apa yang bisa dilakukan Pandawa?' Sekarang, setelah melihat Karna ada terus terdesak oleh serangan Bima, pelajaran apa yang bisa dia petik? Oh Sanjaya, sekarang anak-anakku sedang menuai badai kebencian putra Batara Bayu, yang memiliki kekuatan dewa kematian! Kita akan hancur!"
Jawab Sanjaya: "Paduka Raja, bukankah engkau sendiri yang menyebabkan kebencian yang tidak akan terpuaskan ini, karena hanya mendengarkan kata-kata putramu yang keras kepala dan dungu itu? Sebenarnya engkaulah penyebab semua malapetaka ini. Sekarang, engkau sedang memetik buah-buah keputusanmu yang tidak mengindahkan nasihat Bhisma dan tetua yang lain. Salahkan dirimu sendiri. Jangan salahkan Karna dan para kesatria pemberani yang telah berjuang sekuat tenaga."
Setelah menasihati raja buta itu, Sanjaya menceritakan kejadian di medan perang.
Lima anak Destarata, Durmasa, Dussaha, Durmata, Durdara, dan Jaya ketika melihat Karna lari dari Bima, segera turun gelanggang dan menyerang Bima. Melihat mereka, semangat Karna bangkit kembali. Semula Bima tidak mempedulikan mereka dan terus menyerang Karna. Tapi karena mereka terus menyerang, Bima berbalik menyerang. Mereka semua tewas. Mereka semua menemui ajal bersama kuda dan sais mereka. Kesatria-kesatria muda itu tumbang seperti pohon di hutan yang tercerabut dari tanah karena angin badai.
Melihat para pangeran tewas karena membela dirinya, semangat tempur Karna menjadi berlipat-lipat. Demikian pula dengan Bima yang mengingat segala perbuatan yang dilakukan Karna pada Pandawa. Dia gunakan busurnya untuk menjatuhkan semua senjata Karna. Kuda dan sais kereta Karna juga bertumbangan. Karna segera melompat turun dan melemparkan gadanya ke arah Bima. Tapi Bima bisa menangkis serangan itu dengan panah. Ia menghujani Karna dengan panah. Terpaksa Karna mundur dan berjalan kaki.
Duryudana yang melihat pertarungan itu amat cemas. Ia perintahkan ketujuh saudaranya yang lain: Chitra, Upachitra, Chitraksa, Carucitra, Sarasena, Citrayuda, Citrawarman untuk membantu Radheya. Mereka menggempur Bima. Mereka memperlihatkan kehebatan dan kekuatan yang mengagumkan. Tapi serangan Bima yang sedang mengamuk sulit untuk dilawan. Mereka bertumbangan satu demi satu. Melihat putra-putra Destarata berjatuhan karena membela dirinya, Karna berurai air mata. Ia segera melompat ke atas kereta kuda dan menyerang sehebat-hebatnya. Keduanya bertarung seperti awan yang bertumbukkan ketika hujan guntur. Kesawa, Arjuna, dan Satyaki terpana dan senang melihat cara Bima bertarung. Burisrawa, Mahaguru Kripa, Aswatama pun terpana dan terpesona pada kegigihan Bima.
Kegeraman Duryudana semakin memuncak dan sekaligus khawatir. Ia khawatir Karna akan terbunuh. Sekali lagi ia perintahkan ketujuh saudaranya yang lain untuk membantu Karna. Mereka mengepung dan menyerang Bima secara serempak.
Ketujuh putra Destarata menyerang Bima, tapi satu per satu mereka tumbang terkena panah Bima. Wikarna yang disukai semua orang juga terbunuh. Ketika melihat Wikarna tewas setelah bertempur dengan gagah berani, hati Bima terharu. Katanya: “Oh Wikarna, engkau adalah orang baik yang adil dan mengerti dharma. Engkau bertempur karena panggilan kewajiban. Aku terpaksa membunuhmu. Sungguh, perang ini adalah kutukan karena orang sepertimu dan kakek Bhisma harus terbunuh.
Melihat saudara-saudara Duryudana yang datang membantunya satu per satu menemui ajal, Karna semakin murka. Dia sandarkan badannya pada kereta dan menutupi matanya. Dia tidak tahan lagi melihat pemandangan yang sangat menyedihkan itu. Kemudian, setelah berhasil mengendalikan emosi yang membadai, Karna menyerang Bima kembali. Berulang kali Bima berhasil mematahkan busur Karna. Meskipun demikian, Karna terus bertarung. Delapan belas kali dia harus mengganti busur. Tidak ada lagi senyum di wajah Karna. Wajahnya merah padam menyiratkan murka. Mereka saling pandang dengan sengit. Mendengar raungan Bima, semangat tempur Yudhistira yang sedang bertarung dengan Durna semakin berkobar.
Bima kehilangan kereta dan sais. Tidak lama kemudian, keretanya hancur berantakan. Bima melemparkan tombaknya ke arah Karna yang ada di atas kereta. Serangan itu ditangkis dengan tongkatnya. Bima terus merangsek maju dengan pedang dan tameng. Tapi tameng itu segera hancur berantakan terpukul tongkat Karna. Dengan pedangnya, Bima patahkan busur Karna. Karna langsung menyambar busur baru dan membidik Bima dengan panah.
Dengan amarah yang meluap-luap, Bima merangsek mengejar Karna. Radheya menghindar ke balik panji-panjinya lalu melompat meninggalkan kereta. Bima melompat turun dan mengejar Karna. Karena kehilangan senjata, Bima menggunakan bangkai gajah untuk melindungi diri dari serangan panah Karna. Meskipun demikian dia terus bertarung. Dia gunakan apa saja yang bisa dia pegang: roda kereta, bangkai kuda dan gajah untuk terus menyerang Karna.
Tapi, apa yang bisa dilakukan Bima tidak bisa berlangsung lama. Bima benar-benar tersudut. Kesempatan itu digunakan Karna untuk mencaci maki Bima habis-habisan: “Hai manusia rakus, engkau sama sekali tidak tahu seni perang. Apa gunanya engkau ikut berperang di sini? Kembali ke hutan sana! Isi perutmu dengan buah-buahan dan akar pohon biar badanmu gemuk. Engkau manusia barbar, tidak pantas menyandang gelar kesatria. Enyahlah kau!” Karna terus mencaci maki Bima yang sudah tidak berdaya. Tapi, Karna ingat janjinya kepada Dewi Kunti. Dia tidak akan membunuh Bima.
Seru Krishna: “Arjuna, lihatlah! Bimasena terpojok.”
Mata Dananjaya langsung memerah karena amarah melihat saudaranya yang perkasa dihina. Ia segera rentangkan Gandewa dan bidikkan ke arah Karna. Dengan senang hati, Karna mengalihkan perhatian ke arah Arjuna. Dia telah berjanji hanya akan membunuh satu Pandawa, dan dia memilih hanya akan membunuh Arjuna yang masyhur.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


