Raden Sintawaka
KISUTA.com - Dalam keadaan sakit hati mengenang suaminya yang terus khianat memuaskan nafsu syahwatnya pada banyak wanita, Dewi Basundari terlunta-lunta hidup sebagai rakyat jelata. Putranya yang bernama Jaka Wudug sudah berusia dua tahun dan diasuhnya seorang diri. Suatu hari Jaka Wudug menangis keras-keras minta makan. Karena kehilangan kesabarannya, Dewi Basundari pun memukul kepala Jaka Wudug menggunakan centong. Jaka Wudug ketakutan dan lari meninggalkan ibunya dengan kepala terluka di bagian belakang.
Dewi Basundari meneruskan memasak makanan. Ketika semuanya telah matang, ternyata Jaka Wudug sudah hilang entah ke mana. Dewi Basundari merasa sangat menyesal mengapa kehilangan kesabaran dan memukul putra satu-satunya itu. Akhirnya untuk menenangkan hatinya ia bertapa tekun tanpa makan, tanpa tidur, memohon pada dewata agar diubah menjadi laki-laki untuk memudahkan langkahnya mencari anaknya. Ketekunannya ini membawa hasil, Batara Narada datang membawa anugerah Batara Guru untuk mengubah wujudnya menjadi laki-laki. Dewi Basundari berubah menjadi seorang laki-laki dan diberi nama baru, yaitu Raden Sintawaka.
Batara Narada pun berpesan supaya Raden Sintawaka pergi ke Kerajaan Gilingaya dan mengabdi kepada Prabu Heryanarudra. Kelak, Raden Sintawaka akan kembali menjadi wanita jika sudah bertemu dengan Jaka Wudug di negeri tersebut.
Alkisah di pinggir hutan Gilingaya Prabu Heryanarudra yang sedang berburu, diserang sekelompok harimau. Para prajurit banyak yang terluka karena diterkam dan dicakar binatang buas tersebut. Tiba-tiba muncul Raden Sintawaka membantu mengalahkan dan mengusir kawanan harimau tersebut, sehingga kembali masuk ke dalam hutan.
Prabu Heryanarudra sangat senang menerima bantuan pemuda berwajah tampan yang bisa mengusir kawanan harimau tanpa melukai mereka sedikit pun. Ketika Raden Sintawaka menyampaikan niatnya ingin mengabdi pada Kerajaan Gilingaya, Prabu Heryanarudra langsung menerimanya.
Bertahun-tahun Raden Sintawaka mengabdi di Gilingaya, tak juga ada tanda-tanda dapat menemukan Jaka Wudug. Karena Prabu Heryanarudra tidak memiliki keturunan hubungan Sintawaka dengan Prabu Heryanarudra semakin akrab bagaikan anak dan ayah. Prabu Heryanarudra akhirnya menunjuk Raden Sintawaka menjadi ahli warisnya jika meninggal kelak.
Suatu ketika, Kerajaan Gilingaya terserang wabah penyakit. Prabu Heryanarudra turun tangan secara langsung untuk memberikan bantuan kepada para penduduk yang menderita. Akibatnya, ia pun ikut tertular wabah penyakit tersebut dan meninggal pula beberapa hari kemudian.
Sesuai wasiat Prabu Heryanarudra sebelum meninggal, takhta Kerajaan Gilingaya pun diwariskan kepada Raden Sintawaka sebagai raja selanjutnya. Patih Anindyamantri dan para menteri semua tunduk dan menyatakan dukungan mereka.
Saat mulai mengembangkan pemerintahannya di Gilingaya, Prabu Sintawaka menerima surat tantangan dari Kerajaan Medang Kamulan, di mana Prabu Palindriya ingin membalas kematian ayahnya (Prabu Kandihawa) yang dulu tewas dibunuh Prabu Heryanarudra. Karena Prabu Heryanarudra juga telah meninggal, maka pembalasan dendam pun ditujukan kepada anak angkatnya, yaitu Prabu Sintawaka.
Prabu Sintawaka yang tidak lain adalah penjelmaan Dewi Basundari menerima tantangan tersebut. Ia sendiri masih menyimpan dendam di dalam hati terhadap Prabu Palindriya yang telah mengkhianatinya.
Prabu Sintawaka: Kakang patih Anindyamantri, jangan kita takut dengan tantangan ini, mari kita persiapkan diri kita sebaik-baiknya menghadapi Prabu Palindriya...raja yang tak tahu diuntung... LONYO, LEMER, GENJAH, ANGRONG PASANAKAN, NYUMUR GUMULING DAN AMBUNTUT ARIT...
Patih Anindyamantri: Wah...apa itu sinuwun, paduka mengucapkan itu dengan wajah berapi-api, seakan sakit hati paduka pada Prabu Palindriya terungkap semua...
Prabu Sintawaka: Itu adalah 6 watak buruk yang tidak boleh menyatu dalam pribadi kita Paman. Lonyo itu "pan wong lonyo nora kena dipun etut; monyar-manyir tan antepan"..orang yang mulutnya tidak bisa dipegang. Mencla-mencle, tidak bisa dipercaya. Lemer..itu orang yang tidak setia. Tukang Selingkuh, tidak pernah puas dengan pasangannya..cintanya palsu,busuk...sesungguhnya dia hanya mencintai dirinya sendiri, karena itulah dia anggap hal yang biasa berlaku sedeng seperti itu demi memuaskan nafsunya..Genjah, orang yang tidak pernah tumbuh dewasa..seperti tanaman yang cepat tumbuh besar tetapi belum matang..Angrong pasanakan..yaitu orang yang suka mengganggu istri orang, saudari istrinya seperti Prabu Palindriya yang meniduri saudari istrinya (sampai disini nafas Prabu Sintaka menderu mengingat sakit hatinya) bahkan pembantu-pembantunya juga dimakannya..Nyumur Gumuling, yaitu orang yang tidak bisa simpan rahasia. Kalau kumpul dengan orang lain maka rahasia yang dia tahu ditumpahkan..dan terakhir Ambuntut Arit... orang yang enak di depan tetapi di belakang jadi masalah. meniru bentuk arit (sabit) yang lengkung. Orang seperti ini mbendol mburi, menyimpan maksud busuk di belakang hari...
Patih Anindyamantri: Duh Gusti...kalau benar Prabu Palindriya memiliki keenam watak buruk itu...sungguh tidak patut menjadi sesembahan...
Prabu Sintaka : Ya paman Patih, untuk mengalahkan dia, pergilah ke gunung Aswata, di sana ada Busur Bajra dan Panah Herawana, yang aku harapkan bisa aku gunakan untuk menumpas Prabu Palindriya.
Patih Anindyamantri: Sendika dawuh Gusti...saya segera pamit untuk melaksanakan dawuh paduka.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


