Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Burisrawa

Rabu, 10 Juni 2015

KISUTA.com - Kata Krishna: "Lihatlah itu Satyaki, murid dan sahabatmu yang setia. Ia berhasil menjebol pertahanan musuh."

Jawab Arjuna: "Madhawa, semestinya Satyaki tidak meninggalkan Yudhistira dan datang ke sini. Durna yang berusaha menculik di sana. Semestinya Satyaki ada di sana untuk menjaga Yudhistira. Alih-alih menjaga, dia justru datang ke mari. Burisrawa pasti akan mencegatnya. Yudhistira kesalahan besar dengan memerintahkan Satyaki ke mari."

Dulu terjadi pertikaian keluarga yang menyebabkan Burisrawa dan Satyaki menjadi musuh bebuyutan. Begini kisah pertikaian keluarga itu. Ketika Dewaki, yang kelak menjadi ibu Sri Krishna, masih gadis, banyak pangeran yang ingin meminangnya. Terjadilah pertarungan yang sengit antara Somadata dan Sini untuk memperebutkan Dewaki. Sini menang dan atas nama WasudewDewaki pulang. , terjadilah perseteruan di antara kedua keluarga tadi, keluarga Sini dan keluarga Somadata. Satyaki adalah cucu Sini. Burisrawa adalah anak Somadata. Ketika mereka mendapati diri berada di dua kubu yang berperang, Burisrawa langsung menantang Satyaki untuk berperang tanding.

Seru Burisrawa: "aku tahu engkau menganggap dirimu sebagai kesatria sakti. Lihatlah aku dengan segala kekuatanku. Sekarang, aku akan tamatkan riwayatmu. Aku sudah lama menantikan kesempatan ini. Seperti Indrajit menewaskan putra Dasarata, Lesmana, hari ini engkau akan berkalang tanah dan menghadap Batara Yama."

Satyaki tertawa dan selanya: "Sudah selesai dengan bualanmu? Jangan hanya bicara kosong. Tunjukkan keberanianmu katamu. Jangan hanya seperti gelegar petir pada musim gugur."

Setelah saling menantang, pertarungan dimulai. Dua kesatria perkasa bertarung sengit.

Kuda-kuda mereka tumbang. Busur mereka patah. Kereta mereka remuk tak berbentuk. Sekarang, mereka berdiri saling berhadapan dengan pedang dan tameng. Mereka bertarung seru sampai tameng dan pedang mereka hancur berkeping-keping. Mereka terus bertarung sampai mati. Mereka bergumul seru, saling terjang dan saling pukul. Mereka sama-sama jatuh dan bangkit klembali. Demikianlah pertarungan itu berlangsung cukup lama.

Ketika itu Partha sedang memusatkan perhatian pada setiap gerakan Jayadrata. Ia tidak melihat pertarungan Satyaki dan putra Somadata itu. Tapi Sais Keretanya, Krishna amat mengkhawatirkan keselamatan Satyaki. Ia tahu persis pertikaian keluarga mereka yang getir.

Kata Krishna: “Dananjaya, Satyaki sudah kehavbisan tenaga. Sebentar lagi Burisrawa pasti membunuhnya.”

Namun demikian, perhatian Asrjuna tetap tertuju pada gerakan Jayadrata.

Kata Krishna lagi: “Satyaki yang kehabisan tenaga karena habis bertempur melawan pasukan Kurawa terpaksa menerima tantangan Burisrawa. Pertarungan berlangsung tidak seimbang. Jika tidak membantunya, Yuyudhana akan tewas.”

Saat itu, Burisrawa mengangkat dan membantying Satyaki ke tanah. Pasukan Kurawa yang menyaksikan pertaruingan itu berseru lantang: “Yuyudhana tewas!”

Sekali lagi Krishna mendesak Arjuna: “Satyaki sudah tidak berdaya. Ia adalah salah satu putra terbaik bangsa Wrisni yang datang untuk membantumu. Di depan matamu dia akan dibunuh dan engkau hanya diam saja.”

Burisrawa mencengkram Satyaki yang sudah lemah tidak berdaya. Ia seret Satyaki seperti seekor singa menyeret mangsa.

Hati Arjuna bimbang. Katanya kepada Krishna: “Burisrawa turun ke medan perang bukan karena tantanganku atau sebaliknya dia tidak menantangku. Bagaimana mungkin aku memanahnya sementara dia sedang bertarung? Pikiranku melarangku berbuat demikian. Sementara itu, apakah benar membiarkan seorang sahabat yang datang untuk menolong dibunuh di depan mataku?”

Persis setelah Arjuna selesai bicara ribuan anak panah melesat dari busur Jayadrata. Arjuna membalas seranagn itu dengan hujan panah. Tapi pikirannya terus terpaku pada Satyaki yang sedang dalam bahaya maut di tangan Burisrawa.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya