Raden Raditya
KISUTA.com - Syahdan, saat patih Anindyamantri berangkat ke Aswata, kisah ini kembali menelusuri pelarian Jaka Wudug. Jaka Wudug yang kabur meninggalkan rumah berlari ke arah Sungai Serayu. Karena kurang berhati-hati, kaki terpeleset tubuhnya tercebur dan hanyut dibawa arus sungai tersebut. Beberapa hari hanyut terapung-apung dibawa aliran sungai, Jaka Wudug akhirnya ditemukan oleh pendeta bernama Resi Bagaspati yang bertapa di tepi Sungai Serayu.
Resi Bagaspati sangat heran melihat ada anak kecil berusia dua tahun hanyut di sungai tapi masih tetap hidup. Ketika Jaka Wudug siuman dari pingsan, Resi Bagaspati pun menanyai asal-usulnya. Namun, Jaka Wudug hanya bisa menyebutkan namanya tapi tidak dapat menceritakan dari mana ia berasal. Resi Bagaspati sangat prihatin sekaligus kagum dan heran melihat kemampuannya bertahan hidup. Resi Bagaspati pun memutuskan untuk merawat Jaka Wudug dan menjadikannya sebagai anak angkat.
Masa berlalu demikian cepat, Jaka Wudug tumbuh sebagai pemuda tampan sakti mandraguna dibawah bimbingan Resi Bagaspati. Suatu hari sang Resi memanggil Jaka Wudug dan pamit karena masanya sudah tiba baginya menuju kasedan jati. Dimintanya Jaka Wudug melanjutkan lelaku dengan berguru pada Begawan Radi sahabatnya. Setelah selesai berpesan, sang Resi Moksa.
Jaka Wudug segera melaksanakan pesan sang Resi. Begawan Radi yang sudah lama mengenal Begawan Bagaspati merasa prihatin mendengar kabar kematian tersebut. Maka, ia pun menerima Jaka Wudug sebagai muridnya. Melihat wajah pemuda itu sangat tampan dan bercahaya seperti matahari, Begawan Radi pun mengganti nama Jaka Wudug menjadi Raden Raditya. Ia yakin kalau remaja ini bukanlah pemuda desa biasa, tetapi keturunan seorang raja besar. Setelah menamatkan pelajarannya, Begawan Radi memerintahkan Raden Raditya ke Gunung Aswata mengambil pusaka sebagai bekalnya mengabdi ke Medang Kamulan.
Begawan Radi: Raditya..tujuanmu mengambil pusaka adalah sebagai upeti untuk mempermudah jalanmu mengabdi ke Medang Kamulan..namun hati-hatilah...wirasatku mengatakan darah keturunanmu yang dipenuhi laku sedeng...bisa menyeretmu untuk mengulang hal yang sama, yang akan menghancurkanmu di kelak kemudian hari...
Raden Raditya: Apa maksud Bapa Begawan?
Begawan Radi: Kaki...aku melihat, kehadiranmu di dunia ini juga dari hasil hubungan zinah kedua orang tuamu...ah...berhati-hatilah ngger...jer manungsa kang nindakake polah sedeng nglanggar kasusilaning aurip iku, sakumpama duwe utang mangkono, tembe mburine yen ora cukup anggone nyaur minangka taubatan lan laku ibadah, utang iku isa nembusi marang keturunanne...dosa kang ora ana entekke...Manusia yang berlaku serong, melanggar norma-2 kesusilaan itu seperti orang berhutang. Jika hutang itu tidak terbayar oleh taubat dan ibadah, bisa berlanjut ke keturunannya, dosa yang berlanjut tak ada habisnya...karena itu berhati-hatilah menjaga dirimu...agar bersih hidup keturunanmu kelak.
Raden Raditya mohon restu kepada sang guru kemudian berangkat ke Gunung Aswata. Di Gunung Aswata bertemulah Raden Raditya dengan Patih Anindyamantri, karena tujuannya sama-sama hendak mengambil pusaka maka terjadilah pertempuran antara Raden Raditya melawan Patih Anindyamantri dan para prajuritnya.
Raden Raditya berhasil mengatasi orang-orang Gilingaya tersebut, bahkan ia mampu merebut busur Bajra dan panah Herawana. Patih Anindyamantri merasa gentar melihat ada seorang pemuda remaja ternyata mampu mengangkat busur dan panah pusaka itu. Maka, ia pun mengajak pasukannya mundur kembali ke Gilingaya.
Raden Raditya melanjutkan perjalannya menuju ke kerajaan Medang Kamulan. Ketika melewati Padepokan Pantireja, ia berjumpa Dewi Soma, istri pertama Prabu Palindriya beserta ketiga anaknya, yaitu Raden Anggara, Raden Buda, dan Raden Sukra. Di tempat itu ia mendapatkan perjamuan yang sangat baik, bahkan Dewi Soma sangat menyukainya dan menganggapnya sebagai anak.
Melihat ketampanan Raden Raditya yang mirip Prabu Palindriya semasa muda, Dewi Soma pun terpesona kepadanya. Imannya goyah, Dewi Soma yang tetap terlihat muda dan cantik karena anugrah dewa, berkat tapa bratanya saat sakit hati didzolimi suaminya, menjadi lupa diri. Dewi Soma sama sekali tidak tahu kalau Raden Raditya yang kini tinggal di rumahnya itu adalah anak hasil perselingkuhan Prabu Palindirya dengan Dewi Basundari tersebut.
Setelah dirayu terus-menerus, Raden Raditya akhirnya bersedia melayani nafsu birahi Dewi Soma, kedua insan ini menjadi tipis iman dan menjadi bulan-bulanan setan. Lupalah Raden Raditya dengan pesan-pesan Begawan Radi, yang sudah memesannya untuk berhati-hati memutus rantai dosa orang tuanya. Tanpa sepengetahuan Raden Anggara, Raden Buda, dan Raden Sukra, mereka berdua pun melakukan hubungan perzinahan. Sebaliknya, ketiga putra Dewi Soma itu juga sama sekali tidak menaruh curiga karena sudah menganggap Raden Raditya sebagai adik sendiri. Hubungan zinah itu tidak berlangsung lama, karena Raden Raditya pamit melanjutkan perjalanannya hendak mengabdi ke Medang Kamulan.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


