Kematian Burisrawa
KISUTA.com - Krishna kembali mendesak Arjuna untuk menyelamatkan Satyaki. Katanya: "Partha, sekarang Satyaki telah kehilangan semua senjata. Nyawanya sudah di ujung tanduk."
Ketika Arjuna menoleh, dia melihat Burisrawa menginjak Satyaki dan siap mengayunkan pedang untuk membunuhnya. Secepat kilat dia lesatkan panah. Anak panah itu melesat cepat menyambar tangan Burisrawa. Tangan yang siap menebas itu lepas dari badan dan jatuh ke tanah dengan posisi masih memegang pedang. Burisrawa amat terkejut. Ia mencari-cari siapa yang melakukannya.
Serunya: "Putra Kunti, aku tidak mengira engkau bisa melakukan tindakan memalukan ini. Aku sedang bertarung dan engkau menyerangku dengan licik. Memang benar, tidak ada yang bisa menghindar dari pengaruh buruk seorang teman. Perbuatan hinamu ini membuktikan itu. Dananjaya, jika engkau kembali pada kakakmu, Yudhistira, apa yang akan engkau katakan tentang perbuatan rendah ini? Ah Arjuna, siapa yang mengajarimu perbuatan licik ini? Apakah engkau belajar dari ayahmu atau dari gurumu Durna dan Kripa? Tata krama apakah yang membolehkanmu menyerang orang yang sedang bertarung dan tidak siap menerima seranganmu? Engkau bertindak seperti keturunan orang hina dan merusak kehormatanmu sendiri. Engkau pasti dipengaruhi anak Wasudewa itu. Bertindak seperti ini bukan sifatmu. Putra raja tidak akan melakukan perbuatan yang sedemikian hina. Aku tahu engkau pasti kena pengaruh Krishna."
Demikianlah Burisrawa yang tangan kanannya putus mencela Arjuna dan Krishna di padang Kurusetra.
Kata Partha: "Burisrawa, engkau sudah uzur. Tampaknya usia telah membuat penilaianmu berkarat. Engkau menuduh aku dan Krishna tanpa alasan. Bagaimana mungkin aku diam saja ketika melihat engkau akan membunuh sahabatku, yang seperti tangan kanan bagiku? Aku tidak bisa membiarkan engkau membunuhnya, apalagi dalam keadaan tidak sadar. Aku pantas masuk neraka jika kubiarkan itu terjadi. Engkau katakan pikiranku dirusak Krishna. Tuduhan itu kau ucapkan dengan pikiran kacau. Engkau menantang Satyaki yang sudah kepayahan. Engkau mengalahkannya. Ia terkulai lemas tidak berdaya. Tata krama macam apakah yang medmbolehkanmu mengayunkan senjata untuk menebas nyawa lawan yang sudah tidak berdaya? Apakah engkau ingat bagaimana engkau bersorak-sorai untuk orang yang membantai anakku, Abimanyu, yang sudah tidak berdaya dan tanpa senjata?"
Burisrawa tidak menjawab. Ia letakkan anak panah di tanah dengan tangan kiri. Lalu ia duduk bersila. Kesatria tua itu duduk bersila dan melakukan yoga. Bala tentara Kurawa tergerak hatinya ketika melihat tindakan Burisrawa. Mereka memuji-muji Burisrawa dan mencela Arjuna dan Krishna.
Kata Arjuna: "Para kesatria yang kuhormati, aku telah bersumpah untuk melindungi semua sahabatku yang ada dalam jarak sebidikkan anak panahku. Aku tidak akan membiarkan sahabatku mati di tangan musuh. Demikian sumpah suciku. Mengapa kalian menyalahkanku? Kalian mencela kami tanpa pengertian yang benar."
Setelah berkata demikian kepada para kesatria yang mencelanya, Arjuna berkata kepada Burisrawa: "Engkau kesatria besar. Engkau melindungi siapa saja yang minta pertolongan kepadamu. Sementara engkau sadar bahwa apa yang terjadi sekarang adalah buah kesalahanmu sendiri. Tidaklah adil jika engkau menyalahkanku. Jika engkau mau jujur seharusnya engkau menyalahkan dan mengutuk budaya kekerasan yang menguasai hidup seluruh bangsa kesatria."
Mendengar kata-kata Arjuna, Burisrawa menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
Pada saat itu Satyaki siuman dan langsung bangkit. Terbawa amarah dan kebencian yang meluap-luap, ia menyambar pedang dan langsung menuju Burisrawa yang sedang bersemedi di atas tumpukan anak panah. Sebelum Arjuna dan Krishna sempat menahan langkahnya, Satyaki tebaskan pedang ke leher Burisrawa. Kepala Burisrawa menggelinding di tanah, sementara badannya tetap dalam posisi bersila. Para dewa yang menyaksikan dari langit memberikan restu pada Burisrawa. Orang-orang yang menyaksikan mengutuk tindakan Satyaki.
Satyaki bersikeras bahwa apa yang dia lakukan benar. Katanya: "Setelah aku jatuh dan tidak sadarkan diri, musuh bebuyutan keluargaku ini menginjak-injakkan kakinya atasku dan hendak membunuhku. Aku berhak membunuhnya dalam keadaan apa pun." Tapi tidak ada yang setuju dengan tindakannya.
Kematian yang dialami Burisrawa merupakan satu dari sekian banyak situasi konflik moral yang terangkum dalam kisah Mahabharata. Kisah-kisah itu memperlihatkan bahwa ketika kebencian dan kemarahan menguasai manusia, tata krama dan dharma pun tidak akan sanggup mengendalikannya.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


