Busur Bajra dan Panah Herawana
KISUTA.com - Sesampainya di Medang Kamulan, Raden Raditya dihalang-halangi oleh Raden Wukir putra Prabu Palindriya dari Dewi Landep, terjadilah perang tanding di antara mereka.
Prabu Palindriya datang melerai yang sedang berkelahi. Raden Raditya menyembah dengan penuh hormat dan menyerahkan busur Bajra dan panah Herawana kepadanya. Prabu Palindriya tidak lupa bahwa kedua pusaka tersebut adalah miliknya dan selama ini tertinggal di Gunung Aswata. Melihat Raden Raditya yang tampan dan berilmu tinggi, Prabu Palindriya merasa sangat senang dan berniat menjadikannya sebagai menantu, yaitu akan dinikahkan dengan Dewi Sriyuwati (saudara kandung Raden Wukir).
Tiba-tiba saja datang Batara Narada turun dari kahyangan, dan meminta supaya perjodohan itu dibatalkan. Batara Narada menjelaskan bahwa Raden Raditya ini adalah putra Prabu Palindriya sendiri yang lahir dari Dewi Basundari, sehingga masih bersaudara tiri dengan Dewi Sriyuwati. Untuk itu, Raden Raditya tidak boleh dijodohkan dengan Dewi Sriyuwati, tetapi sebaiknya diangkat menjadi patih saja. Dengan gelar Patih Selacala.
Batara Narada juga menyampaikan pesan dari Batara Guru bahwa kelak Dewi Sriyuwati akan diangkat sebagai bidadari kahyangan dan menjadi istri Batara Guru sendiri. Prabu Palindriya merasa bersyukur dan mematuhi segala perintah Batara Guru tersebut. Setelah dirasa cukup, Batara Narada pun kembali ke kahyangan.
Setelah mendapatkan kekuatan baru, Prabu Palindriya pun memerintahkan Patih Selacala untuk memimpin pasukan Medang Kamulan menyerang Kerajaan Gilingaya. Prabu Palindriya juga meminjamkan busur Bajra dan panah Herawana kepada Patih Selacala sebagai senjata untuk mengalahkan Prabu Sintawaka.
Prabu Sintawaka dan Patih Anindyamantri menyambut serangan tersebut dengan kekuatan penuh. Terjadilah pertempuran besar, di mana pihak Gilingaya mengalami kekalahan telak. Mula-mula Patih Anindyamantri tewas di tangan Patih Selacala. Melihat menteri utamanya gugur, Prabu Sintawaka pun mengamuk mengerahkan segenap kesaktiannya. Patih Selacala membalas dengan melepaskan panah Herawana. Prabu Sintawaka terlempar tubuhnya ke angkasa dan jatuh di dalam Hutan Nastuti.
Meskipun terkena panah pusaka, Prabu Sintawaka tidak mati, tetapi kembali ke wujud wanita, yaitu Dewi Basundari seperti sedia kala. Ia lalu bersembunyi di dalam hutan menghindari kejaran pihak Medang Kamulan. Rupanya ia lupa bahwa dulu dewata telah mengubahnya menjadi laki-laki supaya lebih leluasa untuk mencari Jaka Wudug, dan kelak ia akan kembali menjadi wanita lagi jika sudah bertemu dengan putranya itu.
Tak disangka, Jaka Wudug sekarang sudah menjadi Patih Selacala dan pertarungan tadi telah mengembalikan wujud Prabu Sintawaka kembali menjadi Dewi Basundari. Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak disadari oleh Dewi Basundari. Setelah kekalahan itu, ia pun membangun pondok di dalam Hutan Nastuti tersebut dan melanjutkan bertapa untuk bisa bertemu putranya yang lama hilang. Dalam pertapaannya tersebut dia kembali menggunakan nama Dewi Sinta untuk menyamarkan jati dirinya sebagai bidadari.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


