Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Palindriya Ngunduh Wohing Pakarti

Selasa, 16 Juni 2015

KISUTA.com - Suara burung bernyanyi dinihari di kerajaan Medang Kamulan, seakan mengiringi kerinduan hati Prabu Palindriya yang sedang menerima kehadiran 3 putranya dari Dewi Soma, yaitu Raden Anggara, Raden Buda, dan Raden Sukra.

Raden Anggara kemudian menyerahkan surat dari sang ibu kepada Prabu Palindriya. Surat itu berisi permohonan maaf Dewi Soma atas tindakan kasarnya dulu sehingga rumah tangga mereka menjadi berantakan. Dewi Soma menyatakan ingin kembali bersatu seperti dulu, dan ia mengundang Prabu Palindriya untuk berkunjung ke Padepokan Pantireja.

Prabu Palindriya pun mengheningkan cipta untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Prabu Palindriya: Anakku Anggara, ketahuilah...dalam semediku baru saja ini, aku melihat bahwa saat ini ibumu sedang hamil. Kami sudah tidak pernah berkumpul bertahun-tahun, mustahil bayi itu anakku...Hmmm, namun ...sebagai penebusan pengkhianatanku pada ibumu dahulu...baiklah, akan aku akui anak itu sebagai anakku kalau dia lahir laki-laki, karena itu berarti awal mula perselingkuhan itu datangnya dari si lelaki yang membuat ibumu tak kuasa menolaknya. Tetapi, jika bayi yang lahir perempuan, maka jelaslah ibumu yang memulai terjadinya perselingkuhan...jadi tidak ada bedanya dengan pengkhianatanku...tidak ada gunanya bagiku mengakui bayi dari watak jalang ibumu.

Setelah mendapat pesan demikian, Raden Anggara, Raden Buda, dan Raden Sukra pun mohon pamit kembali ke Padepokan Pantireja.

Beberapa bulan kemudian, Dewi Soma ternyata melahirkan bayi perempuan. Apa yang ia khawatirkan kini telah menjadi kenyataan. Dewi Soma yang kebingungan lalu mencari akal. Ia melihat ada sebuah pancuran yang terbuat dari batu cadas berukuran kecil seperti kelamin bayi laki-laki. Dewi Soma pun mengambil pancuran tersebut dan menempelkannya pada kelamin bayi perempuan itu. Ia lalu berdoa memohon kemurahan dewata, sehingga kelamin palsu itu pun berubah wujud menjadi seperti asli dan menyatu sempurna dengan kelamin si bayi perempuan.

Prabu Palindriya menerima kabar bahwa Dewi Soma telah melahirkan bayi laki-laki, dan ia pun bergegas pergi ke Padepokan Pantireja. Sesampainya di sana, ia disambut dengan ramah oleh Dewi Soma dan diajak rujuk kembali untuk membina rumah tangga seperti dulu lagi.

Prabu Palindriya pun menerima bayi itu sebagai anak sendiri. Ia lalu memangku bayi tersebut dan memberinya nama Raden Saniscara.

Prabu Palindriya: Yayi Dewi Soma, anak-anakku sakkabehe, sineksen jagad saisine...aku nyenyuwun mring Gusti Kang Maha Wikang, mugi si jabang bayi tinebihna saka dosa-dosane rama lan ibune, bagas waras, nir ing sambekala, adoh saka tumindak ina, cidra lan bosok kang bakal ngurangi perbawane ing dina kamangke. ......Aku berdoa kepada Allah, semoga bayi ini dijauhkan dari dosa-dosa ayah ibunya, sehat jauh dari musibah, jauh dari tindakan hina, kepalsuan dan kebusukan yang akan mengurangi wibawa/kharismanya di kelak kemudian hari...

Akibat doa tersebut, kelamin palsu pada bayi Saniscara tiba-tiba terlepas dan kembali menjadi pancuran batu cadas.

Prabu Palindriya sangat marah begitu mengetahui ternyata bayi yang dipangkunya adalah bayi perempuan. Ia pun memungut pancuran batu cadas tersebut dan melemparkannya tepat mengenai dahi Raden Anggara hingga jatuh pingsan. Tidak puas sampai di sini, ia lalu mengangkat bayi perempuan itu dan hendak membantingnya ke tanah. Akan tetapi, Raden Buda dengan cekatan merebutnya dan membawa bayi itu lari meninggalkan Pantireja.

Prabu Palindriya kemudian menyerang Dewi Soma namun dihalangi oleh Raden Sukra. Akibatnya, Raden Sukra pun ikut dipukul pula hingga jatuh pingsan oleh ayahnya itu. Dewi Soma yang ketakutan dan merasa bersalah akhirnya memilih bunuh diri.

Dewi Soma: Kakaprabu...ternyata, engkau bisa merasakan sakitnya dikhianati...saat engkau dapati aku bisa bertindak jalang, menerima belaian laki-laki lain...mengapa engkau tidak terima? Tumindak khianat kang paling gede iku pancen kang ditindakake dening para umat, ananging mangertiya prabu Palindriya, sejatine khianat kang paling ambeg siya-siya, kejem merga teka saka angkara iku khianat kang dilakoni dening para Imam.....pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan oleh para umat, namun pengkhianatan yang paling keji karena didasari oleh angkara murka adalah pengkhianatan para Imam/Pemimpin (suara itu keluar dari sukma Dewi Soma yang bergulung-gulung terbawa tiupan angin).

Sesaat kemarahan Prabu Palindriya berubah menjadi penyesalan dan ia pun pergi meninggalkan Pantireja.

Setelah kembali ke istana Medang Kamulan Prabu Palindriya akhirnya jatuh sakit, terserang penyakit kelamin yang menjijikkan yang menggerogoti badannya di luar dan di dalam. Badannya mulai membusuk menyebarkan bau tak sedap, darahnya makin mengental membuat seluruh tulang-tulang dan urat-uratnya kesakitan sepanjang hari. Prabu Palindriya mulai terkena azab atas prilaku sedeng, dan kegemarannya mengumbar syahwat. Kutukan Dewi Soma mulai berjalan. Setelah dirawat beberapa hari, penyakitnya justru bertambah parah. Akhirnya, ia pun meninggal dunia karena darahnya berhenti mengalir.

Raden Wukir lalu mengirim kabar ke Kerajaan Gilingwesi untuk memberi tahu Prabu Watugunung perihal peristiwa duka tersebut. Prabu Watugunung segera datang ke istana Medang Kamulan untuk memimpin upacara pemakaman sang ayah.

Setelah Prabu Watugunung pulang ke Kerajaan Gilingwesi, datanglah seorang pendeta bernama Resi Satmata yang meminta takhta Medang Kamulan untuk didudukinya. Tentu saja Raden Wukir dan para adik menolaknya dan mereka pun bersatu melawan pendeta tersebut. Pertempuran sengit terjadi di mana Resi Satmata berhasil mengalahkan mereka semua.

Resi Satmata sebenarnya penjelmaan Batara Wisnu yang mendapat perintah dari Batara Guru untuk menjadi raja di Medang Kamulan demi menjaga ketertiban Pulau Jawa. Raden Wukir dan adik-adiknya menyatakan tunduk dan merelakan takhta warisan sang ayah diduduki pendeta tersebut. Resi Satmata kemudian dinobatkan sebagai raja, bergelar Prabu Satmata.

Prabu Satmata tertarik melihat kecantikan Dewi Sriyuwati dan ingin menikahinya. Raden Wukir dan para adik tidak setuju dan berani menentang hal itu, karena sepengetahuan mereka Dewi Sriyuwati adalah calon istri Batara Guru. Namun, Prabu Satmata tidak peduli dan tetap menikahi Dewi Sriyuwati. Lagipula, Dewi Sriyuwati sendiri juga menerima cinta Prabu Satmata.

Perkawinan tersebut membuat Raden Wukir dan adik-adiknya yang berjumlah dua puluh enam tidak sudi lagi mengabdi kepada Prabu Satmata. Namun demikian, mereka tidak ada yang berani melawan karena pernah merasakan kehebatan Prabu Satmata. Akhirnya, para putra Prabu Palindriya itu pun memilih pindah ke Kerajaan Gilingwesi, mengabdi kepada sang kakak, yaitu Prabu Watugunung.

Syahdan di kerajaan Gilingwesi, prabu Watugunung meminta bantuan gurunya Begawan Radi, untuk menyempurnakan penataan hari. Dulu Empu Sengkala telah menciptakan hari lima yang terdiri atas Sri, Kala, Brahma, Wisnu, Guru yang kemudian diubah oleh Begawan Radi menjadi hari Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, sekarang Begawan Radi bekerja keras menciptakan tujuh hari tambahan sebagai rangkapan kelima hari yang sudah ada tersebut.

Begawan Radi mengambil nama-nama anggota keluarga Prabu Palindriya untuk menciptakan tujuh hari tersebut, yaitu:

Radite, diambil dari nama Raden Raditya, yaitu putra Prabu Palindriya dengan Dewi Sinta atau Dewi Basundari. Raden Raditya ini tidak lain adalah nama Prabu Watugunung semasa muda.

Soma, diambil dari nama Dewi Soma, yaitu istri pertama Prabu Palindriya.

Anggara, diambil dari nama Raden Anggara, yaitu putra sulung Prabu Palindriya dengan Dewi Soma.

Buda, diambil dari nama Raden Buda, yaitu putra kedua Prabu Palindriya dengan Dewi Soma.

Respati, diambil dari nama Raden Respati, yaitu nama kecil Prabu Palindriya.

Sukra, diambil dari nama Raden Sukra, yaitu putra ketiga Prabu Palindriya dengan Dewi Soma.

Saniscara, diambil dari nama pemberian Prabu Palindriya untuk bayi berkelamin palsu yang dilahirkan Dewi Soma.

Begawan Radi lalu mempersembahkan nama-nama ketujuh hari itu kepada Prabu Watugunung serta cara pemakaiannya yang dirangkapkan dengan lima hari pasaran. Misalnya, jika hari ini Radite Legi, maka besok adalah Soma Pahing, dan lusa adalah Anggara Pon. Dengan demikian, setelah tiga puluh lima hari berlalu, maka akan kembali lagi menjadi Radite Legi. Adapun umur tiga puluh lima hari ini kemudian disebut dengan istilah Selapan.

Setelah menyempurnakan perhitungan hari dan menyerahkannya pada Prabu Watugunung, Begawan Radi badar menjadi Batara Surya dan kembali ke Jonggringsaloka.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya