Harga Selembar Tiket Bus di Zimbabwe Mencapai 100 Miliar Dolar
KISUTA.com - Gara-gara mata uangnya, Zimbabwe menjadi bulan-bulanan negara lain. Uang dolar Zimbabwe memang tidak berharga. Bayangkan saja, 1 USD setara dengan ZWD 35 ribu triliun atau 35 quadrilliun dolar Zimbabwe.
Sebagai gambaran bagaimana parahnya mata dolar Zimbabwe, hanya untuk membeli sepotong roti, penduduk Zimbabwe harus membawa uang satu kantong plastik besar. Bahkan ZWD 100 miliar (100 miliar dolar Zimbabwe) tak cukup untuk membeli selembar tiket bus.
Rendahnya mata uang Zimbabwe sebagai dampak hiperinflasi atau inflasi yang sangat parah. Inflasi di Zimbabwe telah mencapai 500 miliar persen pada 2008. Inflasi negera tanpa lautan yang terletak di belahan Afrika ini terus meningkat hingga 2,2 juta persen, yang menjadi inflasi tertinggi di dunia.
Akibat inflasi yang tinggi tersebut, Bank Sentral Zimbabwe sudah mengeluarkan 4 versi mata uang sampai sekarang. Terakhir kali bank sentral Zimbabwe mengeluarkan pecahan $ 100,000,000,000,000 (100 triliun dolar) yang menjadi uang dengan nominal terbesar di dunia. Bisa Anda bayangkan, penduduk Zimbabwe yang akan berbelanja ke pasar, harus membawa uang jutaan hingga miliaran dolar Zimbabwe.
Dilansir Bloomberg, Jumat (12/6/2015), pemerintah Zimbabwe mulai 15 Juni 2015, akan menonaktifkan mata uang lokal, dan pada saat bersamaan meresmikan sistem penggunan mata uang asing selama periode hiperinflasi. Penduduk Zimbabwe bisa menukarkan uang tunai hingga 175 kuadriliun dolar Zimbabwe (Z$175.000.000.000.000.000) untuk US$5 (Rp 66.500).
Menurut Gubernur Bank Sentral Zimbabwe, John Mangudya, rencana untuk menggunakan mata uang asing telah tertunda cukup lama akibat Zimbabwe tidak bisa mempunyai dua sistem mata uang berbeda. Namun pemerintah Zimbabwe akhirnya memutuskan, untuk menyelesaikan masalah hiperinflasi, bank sentral milik pemerintah bakal menarik uang nasional mereka dan menggantinya dengan USD.
"Penduduk Zimbabwe punya waktu hingga September untuk menukarkan uang kertas lamanya. Pihak bank telah menyiapkan USD 20 juta (Rp 267,04 miliar) untuk penggantian itu,” ujar John Mangudya.
Mangudya menambahkan, pemilik tabungan di bank juga bisa datang untuk mengonversi uang nasional mereka menjadi USD. Sejak 2009, Zimbabwe memang mulai menggunakan mata uang asing untuk aktivitas jual beli sehari-hari. Namun, mata uang lokal juga masih berlaku.
Selain menukarkan dengan uang dolar Amerika, penduduk Zimbabwe juga bisa menukarkan uang mereka dengan mata uang rand Afrika Selatan Namun ada yang unik dari kebijakan pemerintah Zimbabwe yang akan menarik uang dolar Zimbabwe. Penduduk Zimbabwe justru tidak akan menukarkan uang mereka, tetapi akan menjualnya kepada turis sebagai suvenir.
’’Saya pikir itu hanya buang-buang waktu. Saya lebih suka menjual uang itu kepada turis,’’ kata Sjadreck Gutuza, mantan pedagang valas yang kini beralih pekerjaan menjadi penjual mobil bekas asal Jepang.
Gayung bersambut, para kolektor pun siap memburu dolar Zimbabwe, sebagai bagian dari sejarah negeri tersebut.* Uma – kisuta.com


