Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Gatotkaca Gugur

Rabu, 17 Juni 2015

KISUTA.com - Orang yang pernah mendengar kisah Mahabharata pasti tahu Gatotkaca, putra Bimasena dari istrinya yang raksasa. Di antara tokoh-tokoh Mahabharata ada dua kesatria muda yang menonjol dalam hal keperwiraan, keteguhan hati, kekuatan, keberanian, dan keramahan. Mereka adalah putra Arjuna, Abimanyu dan putra Bima, Gatotkaca. Keduanya gugur di medan Kurusetra.

Semakin lama pertempuran di Kurusetra semakin sengit. Kebencian yang membuncah di kedua kubu semakin memuncak dan tidak terpuaskan dalam pertempuran di siang hari dan menjelang senja hari. Pada hari keempat belas, ketika matahari telah terbenam, pertempuran masih terus berlangsung dengan bantuan penerangan obor. Padang Kurusetra menjadi pemandangan yang serba baru, belum pernah terjadi dalam sejarah keluarga Bharata. Para senapati dan prajurit kedua belah pihak terus bertempur dengan ribuan obor dan sandi-sandi yang khusus digunakan untuk berperang di malam hari.

Di malam hari, Gatotkaca dan pasukannya menjadi semakin kuat. Mereka bisa memanfaatkan kegelapan malam dengan sangat baik. Mereka menyerang pasukan Kurawa dengan hebat. Hati Duryudana gelisah melihat ribuan pasukannya dibantai Gatotkaca dan pasukannya yang bergerak di udara dan menyerang dengan cara-cara yang tidak biasa dan tidak terduga.

Pasukan Kurawa yang kocar-kacir berseru kepada Karna: "Karna, bunuhlah Gatotkaca. Jika tidak, dalam waktu singkat seluruh bala tentara kita akan habis. Jangan buang waktu, segera bunuh dia."

Karna sendiri ngeri dan marah karena terkena salah satu panah yang dilontarkan pasukan raksasa itu. Dia memiliki tombak pemberian Batara Indra. Tombak ityu hanya bisa digunakan sekali. Sebenarnya, dia ingin menyimpannya untuk melawan Arjuna. Dia yakin tidak lama lagi dia akan bertarung melawan Arjuna. Di tengah-tengah hiruk pikuk dan kepanikan, akhirnya Karna melontarkan tombak sakti ke arah raksasa muda itu.

Dengan demikian, nyawa Arjuna selamat tapi dengan harga yang sangat mahal, putra terkasih Bimasena, yang menyerang pasukan Kurawa dari udara dengan hujan panah, jatuh ke tanah dan tewas. Pandawa amat sedih kehilangan pahlawan muda mereka.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya