Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Watugunung Rampag Nepsu

Kamis, 18 Juni 2015

KISUTA.com - Perasaan gelisah mengharu biru Prabu Satmata dan Dewi Sriyuwati, kenyataan bahwa Prabu Satmata telah lancang memperistri calon istri ayahnya, sungguh membuatnya tak nyaman. Akhirnya sang prabu dan permaisuri memutuskan pergi. Takhta Kerajaan Medang Kamulan menjadi kosong tanpa raja. Bahkan, Dewi Landep (ibu kandung Dewi Sriyuwati dan Patih Suwelacala) juga ikut pergi, pulang ke Kahyangan Saptapratala.

Saat mendapat laporan dari Patih Suwelacala bahwa kerajaan Medang Kamulan berhasil di kuasai Prabu Satmata, Prabu Watugunung segera mempersiapkan pasukannya, untuk merebut Medang Kamulan kembali. Pasukan Gilingwesi segera berangkat menyerbu Medang Kamulan. Ketika diketemukan bahwa tahta Medang Kamulan kosong, Prabu Watugunung sangat gembira karena menaklukkan Kerajaan Medang Kamulan tanpa harus menumpahkan darah setetes pun. Maka, sejak saat itu Medang Kamulan pun resmi menjadi daerah bawahan Kerajaan Gilingwesi.

Prabu Watugunung mampir ke Pertapaan Andongdadapan dalam perjalannnya kembali ke Gilingwesi. Di pertapaan itu Putri bungsu Dewi Soma itu telah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik, oleh kakak-kakaknya si putri bungsu ini diberi nama Dewi Tumpak (karena semasa bayi alat kelaminnya pernah disambung atau di'tumpaki' karang kecil untuk mensiasati Prabu Palindriya). Saat bertemu Dewi Tumpak, Prabu Watugunung terpikat.

Prabu Watugunung berterus terang ingin menjadikan Dewi Tumpak sebagai istrinya. Tanpa tahu kalau hubungan mereka sebenarnya adalah kakak beradik, karena Dewi Tumpak tidak lain merupakan putri hasil perselingkuhan Prabu Palindriya semasa muda dengan mendiang Dewi Soma.

Dewi Tumpak: Kakaprabu, paduka itu kakak tiri saya beda ibu, bagaimana mungkin mau memperistri adik sendiri.

Prabu Watugunung: Adiku yang cantik, tidak menjadi masalah, karena ibu kita khan berbeda, berarti kita bukan saudara kandung.

Dewi Tumpak: Ayah kita sama-sama Prabu Palindriya kakaprabu, berarti kita saudara seayah. (Dewi Soma menjauh dari rayuan Prabu Watugunung)

Prabu Watugunung: Ah sudahlah...istri ayah kita itu banyak sekali..kalau aturan itu dipegang, aku bisa tidak mendapatkan putri cantik...karena hampir setiap gadis cantik dinikahi oleh ayah kita...pasti gadis-gadis cantik yang sekarang sedang tumbuh...punya darah ayah kita...berabe khan kalau kaku aturannya...

Dewi Soma: Baiklah kakaprabu, karena rakanda memaksa...aku mau menjadi istrimu asal di dampingi oleh 800 putri domas dari negri sebrang.

Prabu Watugunung menyanggupi syarat yang diajukan Dewi Tumpak tersebut. Sangat kebetulan hari itu datang seorang pendeta dari negeri seberang bernama Danghyang Suktina yang ingin mengabdi kepada Prabu Watugunung. Pendeta itu mengaku kehilangan istrinya dan ia mendapat petunjuk dari dewata supaya mengabdi di Kerajaan Gilingwesi jika ingin bertemu lagi dengan istrinya tersebut.

Prabu Watugunung memintanya untuk membantu mencarikan delapan ratus orang Putri Domas. Danghyang Suktina mengusulkan bahwa cara yang paling tepat untuk mewujudkannya adalah dengan membantu kerepotan pihak lain. Saat ini Kerajaan Kistina yang terletak di Semenanjung Malaya sedang dikepung musuh. Prabu Darta raja Kistina memiliki adik perempuan bernama Dewi Darti yang sangat cantik dan diinginkan banyak raja. Akan tetapi, tidak satu pun lamaran itu yang diterima oleh Dewi Darti, sehingga para raja dengan sukarela kembali ke negeri mereka masing-masing.

Namun, seorang raja raksasa bernama Prabu Grawa dari Kerajaan Malawa tetap bertahan dan memaksa Dewi Darti menjadi istrinya. Prabu Darta tidak mampu menghadapi kesaktian Prabu Grawa sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah mengulur waktu sampai datangnya bala bantuan. Danghyang Suktina menyarankan Prabu Watugunung membantu Prabu Darta mengalahkan Prabu Grawa, sehingga Prabu Darta pasti siap membantu mengumpulkan delapan ratus orang Putri Domas. Saran ini diterima dan segera dijalankan.

Perang dahsyat pun terjadi. Prabu Grawa sendiri akhirnya tewas di tangan Arya Kurantil, sedangkan menteri utamanya yang bernama Patih Santakya menyerah kalah.

Prabu Darta: Patih Santakya sebenarnya apa alasan rajamu nekad ingin mengawini adikku ?

Patih Santakya: Uuee hehehehe, itu karena permintaan Dewi Pratima yg diculik sang Prabu untuk dinikahi...ternyata minta dimadu sepupunya yang bernama Dewi Darti...hehehe, satu istri cantik sudah nikmat di minta nambah satu lagi...huee hehehe ya mau toh...

Prabu Darta terkejut karena Dewi Pratima adalah sepupunya sendiri, sekaligus calon istrinya. Rupanya inilah akal cerdik dewi Pratima mengarahkan penculiknya menyerbu kerajaan calon suaminya.

Setelah berhasil diselamatkan akhirnya Prabu Darta pun mengirim lamaran kepada pamannya, yaitu Prabu Angrayoda di Kerajaan Prawastina, yang merupakan ayah dari Dewi Pratima.

Prabu Angrayoda di Kerajaan Prawastina sangat bahagia mendengar kabar bahwa putrinya yang hilang ternyata telah ditemukan dalam keadaan selamat di Kerajaan Kistina, dan ia pun menerima lamaran Prabu Darta. Maka, pada hari yang telah ditentukan, diadakanlah upacara pernikahan antara Prabu Darta dengan Dewi Pratima, yang dihadiri para arya dari Kerajaan Gilingwesi dan Prabu Santakya dari Kerajaan Malawa.

Setelah pernikahan Prabu Darta dan Dewi Pratima tersebut, para arya lalu menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapi Prabu Watugunung, yaitu ingin menikahi Putri Domas yang berjumlah delapan ratus orang dari negeri seberang. Dengan senang hati, Prabu Darta, Prabu Angrayoda, dan Prabu Santakya pun mengumpulkan delapan ratus orang putri cantik dari negeri masing-masing. Bahkan, Prabu Darta juga mempersembahkan adiknya, yaitu Dewi Darti untuk dinikahkan pula dengan Prabu Watugunung.

Setelah lengkap terkumpul delapan ratus orang Putri Domas ditambah dengan Dewi Darti, para arya pun mohon pamit kembali ke Pulau Jawa. Prabu Darta, Prabu Angrayoda, dan Prabu Santakya mengantar kepergian mereka sampai ke pelabuhan.

Sementara itu Arya Prangbakat diperintahkan berangkat mendahului untuk membuat laporan awal ke Prabu Watugunung diri namun ia tersesat sampai ke Hutan Nastuti. Di hutan itu ia melihat sebuah pondok yang dihuni seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita itu tidak lain adalah Dewi Basundari.

Arya Prangbakat: Tobat..tobat...tobil anak kadal, digusah malah moro...Hatiku serasa dibegal, ketaman panah asmoro...ckckck..ayu tenan..siapa jengandika sang Dewi...

Dewi Basundari: Kisanak...namaku Dewi Sinta..pergilah jangan berhenti di pertapaan ini, tak patut untuk olah satria karena aku hanya sendirian disini...

Arya Prangbakat: Weiisss pucuk dicinta ulam tiba...kesendirian sang Dewi, memancarkan pesona kecantikan tiada tara tentu ada maksudnya...mengapa langkah kakiku terseret menuju kesini...

Dewi Basundari: Kisanak...suaramu "Ngalem legine gulo"...penuh nada menjilat, tentu ada maksudmu....pergilah hatiku makin tidak enak...

Arya Prangbakat: hehehehe...aku jago membuat yang tidak enak menjadi enak..ayolah wong ayu, ikuti apa mauku...nanti khan lama-lama jadi enak....

Dewi Basundari: Napasnira kang ngemut nepsunira, ngundang bilai mrih saka sesambataning umat kesrakat mring Gusti Kang Akarya Jagat....Ksatria, nafasmu yang terdorong nafsumu akan mengundang bencana dari permohonan umat yang tertindas atas Ridho Illahi...

Tiba-tiba muncul banjir besar gulung bergulung yang menyambar Arya Prabangkat. Arya Prangbakat pun minta tolong memohon ampun dan berjanji tidak berani lagi berpikiran jahat kepada Dewi Basundari. Tiba-tiba saja banjir besar itu pun surut dan meresap ke dalam bumi.

Arya Prangbakat menyampaikan sembah hormat kepada wanita di hadapannya itu. Arya Prangbakat tiba-tiba mempunyai niat ingin mempersembahkan Dewi Sinta kepada rajanya, karena hanya Prabu Watugunung yang pantas menjadi suami wanita secantik dia. Kebetulan Dewi Sinta sendiri juga sudah jenuh hidup menyepi tanpa kawan di tepi hutan, sehingga ia pun bersedia dibawa ke Kerajaan Gilingwesi.

Untuk mengenang peristiwa banjir ajaib yang telah melanda dirinya, Arya Prangbakat pun mengganti nama Hutan Nastuti menjadi Hutan Roban, di mana “rob” berarti “banjir”.

Pada dasarnya Dewi Sinta memang seorang bidadari putri Batara Anantaboga, sehingga selalu awet muda dan cantik sepanjang masa. Ia sama sekali tidak tahu kalau Prabu Watugunung adalah anak kandungnya sendiri yang hilang sejak berusia dua tahun. Sebaliknya, Prabu Watugunung juga sudah lupa kepada wajah ibu kandungnya itu, dan yang ia ingat hanyalah ibunya bernama Dewi Basundari. Sehingga pertemuan mereka yang meletupkan madu asmara, tidak ada yang menyadari bahwa itu adalah hubungan terlarang ibu dan anak.

Sementara itu, Patih Suwelacala telah memimpin upacara penyambutan untuk menjemput rombongan Arya Kurantil yang membawa Dewi Darti dan Putri Domas. Sesampainya di Kerajaan Gilingwesi, Prabu Watugunung pun menikahi kesemua putri itu, sekaligus menikahi Dewi Tumpak pula. Dengan demikian, dalam peristiwa itu ia telah memperistri delapan ratus tiga orang wanita secara sekaligus.

Dengan demikian, Prabu Watugunung telah menikahi saudara kandungnya sendiri, yaitu Dewi Tumpak, serta menikahi ibu kandungnya pula, yaitu Dewi Sinta. Akan tetapi, Dewi Sinta telah menjadi istri yang paling disayanginya, sehingga Dewi Tumpak, Dewi Darti, dan para Putri Domas hanya dibuatkan istana saja tetapi tidak pernah diajak berhubungan badan.*

Ira Sumarah hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya