Durna Gugur
KISUTA.com – Perang terus berlanjut. Durna menebarkan ketakutan dan kehancuran di antara pasukan Pandawa dengan serangan yang bertubi-tubi.
Kata Krishna: “Arjuna, tidak ada yang bisa mengalahkan Durna, jika kita menurut secara kaku pada tata krama perang. Kita hanya bisa mengalahkannya jika kita menanggalkan dharma. Kita tidak punya pilihan lain. Ada satu hal yang bisa membuatnya berhenti berperang. Jika dia mendengar Aswatama tewas, dia akan kehilangan semangat hidup dan membuang senjatanya. Harus ada orang yang mengatakan bahwa Aswatama tewas.”
Arjuna amat kaget dengan saran Krishna. Dia tidak sanggup berbohong. Para kesatria lain yang ada di sana menolak saran Krishna. Tidak ada yang mau mengatakan kebohongan.
Yudhistira berdiri sesaat. Dia berpikir keras. Katanya memecahkan kebuntuan: “Baiklah, aku akan memikul dosa ini.”
Keputusan yang sama sekali di luar dugaaan. Tapi ketika samudera mengamuk pada awal penciptaan dunia dan racun mengancam kehidupan para dewa, bukankah Rudra mengorbankan diri menelan racun itu dan dengan demikian menyelamatkan para dewa? Untuk menyelamatkan seoramng sahabat yang menggantungkan hidup sepenuhnya kepadanya, Rama rela menanggung dosa membunuh Wali secara licik. Maka, Yudhistira memutuskan untuk menanggung aib itu, karena memang tidak ada jalan lain.
Bima mengangkat gada besinya dan memukulkannya pada kepala seekor gajah raksasa yang bernama Aswatama. Gajah itu tewas seketika. Setelah membunuh Aswatama, yang gajah itu, Bima menyelinap di dekat pasukan yang dipimpin Durna. Dia berteriak keras sekali: “Aku telah menewaskan Aswatama!” Bimasena yang tidak pernah berbuat atau bahkan memikirkan perbuatan yang hina itu amat malu dengan kebohongan itu.
Tindakan semacam itu bertentangan dengan nuraninya –tapi apakah yang diteriakan Bima Benar? Durna yang pada saat itu akan mengucapkan mantra bramastra mendengar seruan itu. Mahaguru Durna bertanya kepada Yudhistira: “Yudhistira, benarkah putraku sudah tewas?” Mahaguru itu yakin Yudhistira tidak akan berbohong, bahkan untuk mendapatkan tahta kerajaan tiga dunia.
Hati Krishna berdebar keras ketika Durna menanyakan pertanyaan itu kepada Yudhistira. Pikirnya: “Jika Yudhistira tidak sanggup berbohong, kita pasti akan kalah. Mantra bramastra Durna mengandung kekuatan magis yang bisa menghancurkan Pandawa.
Dan Yudhistira sendiri berdiri gemetar. Ia gelisah membayangkan tindakan rendah yang akan dia lakukan. Namun demikian, jauh di dalam hatinya dia juga menginginkan kemenangan. Katanya kepada dirinya sendiri: “Biarlah ini menjadi dosaku.” Dia tegarkan hati dan katanya dengan lantang: “Ya, benar. Aswatama telah tewas.” Tapi ketika mengatakan kebohongan itu, ia menambahkan dengan lirih: “Aswatama, gajah itu.” Kata-kata yang terakhir tenggelam dalam hiruk pikuk dan tidak terdengar Durna.
Kata Sanjaya kepada raja buta itu ketika menceritakan perang yang terjadi pada hari itu: “Paduka Raja, demikianlah dosa besar itu dilakukan.”
Ketika kata-kata kebohongan terucap dari mulut Yudhistira, roda kereta Yudhistira, yang sejak semula selalu melayang empat inci dari tanah dan tidak pernah menyentuh tanah, seketika itu juga langsung menyentuh tanah. Yudhistira, yang sejak semula menjauhkan diri dari dunia yang penuh kebohongan, tiba-tiba menjadi bagian dari dunia itu. Dia pun menginginkan kemenangan dan meninggalkan jalan kebenaran. Karenanya, roda keretanya kembali mendarat ke tanah, seperti manusia pada umumnya.
Ketika mendengar putra terkasihnya tewas, hasrat hidup Durna menguap habis. Melihat Durna kehilangan semangat bertempur, Bima bicara lantang menyerang Durna:
“Wahai Brahmana, karena menanggalkan tugas dan kewajiban varna-mu dan mengambil varna kesatria dengan angkat senjata, engkau menyebabkan para pangeran menemui kehancuran dalam perang ini. Jika tidak menanggalkan tugas kewajibanmu yang telah melekat padamu sejak lahir, mereka tidak akan mengalami tragedi ini. Engkau mengajarkan bahwa tidak membunuh adalah dharma termulia dan bahwa brahmana adalah pendukung dan pemelihara dharma itu. Tapi, engkau justru menyangkal kebijaksanaan yang sebenarnya adalah milikmu sejak lahir. Tanpa malu engkau memilih berperang. Kesalahanmu memilih tugas dan kewajiban varna ini menjadi bencana bagi kami.”
Kata-kata Bima semakin menyiksa batin Durna yang telah kehilangan hasrat hidup. Dia buang senjatanya dan duduk bersemedi di atas keretanya. Tidak lama kemudian, dia mengalami kerasukan. Ketika itu, Dristadyumna meloncat ke kereta Durna. Tanpa menghiraukan seruan orang-orang yang adab di sekitarnya, dia tunaikan takdirnya sebagai pencabut nyawa Durna. Dia tebas kepala Durna. Jiwa Durna lepas dari badannnya dengan cahaya yang memancar terang dan kemudian melayang menuju surga.
Mahabharata adalah kisah epik besar dan luar biasa. Kedukaan hidup manusia digambarkan dengan amat indah dan mempesona. Di balik kisah kedosaan dan kedukaan, sang pengarang Mahabharata mengajak kita untuk menyadari realitas transenden. Karena alasan inilah Mahabharata, meskipun sebuah epik, bisa dikatakan sebagai kitab dharma. Dalam hal gaya dan isi, Mahabharata berbeda dengan karya roman dan dongeng. Dalam novel, drama, dan lukisan modern ditampilkan adegan atau gambaran yang menarik. Sang protagonis menghadapi bahaya dan kesulitan tapi akhirnya menikah dengan perempuan yang ia cintai. Kebahagiaan tampak menjelang di depan mata namun tiba-tiba semuanya berjalan tidak sebagaimana mestinya. Sang protagonis mengalami kedukaan dan selesai begitu saja.
Demikianlah pola karya sastra populer pada umumnya. Tidak demikian dengan Mahabharata dan Ramayana. Ketika membacanya, semesta batin kita seperti tercengkam dan dimurnikan melalui kisah-kisah kebahagiaan dan kedukaan yang ada. Pada akhirnya, kita mengatasi kisah-kisah itu dan kita mengalami “yang transenden dan nyata”. * C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


