Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Sungsang Bawana Balik

Senin, 22 Juni 2015

KISUTA.com - Bumi Bagelen desa Kayuwan, di situlah Resi Satwata (Batara Wisnu), menyepi..diam-diam meninggalkan Dewi Sriyuwati istrinya, karena terdorong perasaan bersalah memperistri sang dewi yang sebenarnya dicalonkan sebagai bidadari pendamping Batara Guru.

Sang Resi menjalani tapa rame, yaitu mendarma bhaktikan ilmunya bagi penduduk di sekitarnya, dengan mengkhususkan diri di bidang pengobatan. Sore itu sang resi sedang berbincang-bincang dengan Buyut Gopa cantriknya.

Resi Satwata: Gopa, apakah ramuan obat-obatan yang aku minta kamu siapkan sudah komplit? Pastikan jumlahnya cukup, karena dari wangsit yang aku terima, tak lama lagi akan terjadi wabah dan pageblug susul menyusul di kerajaan Gilingwesi...

Buyut Gopa: Sudah lengkap Sang Resi, saya sendiri yang mencari di lereng gunung dan merebus sebagian rempah-rempahnya...mudah-mudahan cukup....Sang Resi, bolehkah saya bertanya...?

Reso Satwata: Silahkan Gopa...

Buyut Gopa: Paduka Resi itu memiliki ilmu pengobatan yang luarbiasa... saya sebagai cantrik sangat berbahagia bisa ngangsu kawruh menjadi murid Sang Resi. Tetapi, paduka sangat sederhana, mengobati orang yang sakit hanya dengan ramuan, kalau ada yang kerasukanpun tanpa rapalan japa mantra yang hebat paduka bisa mengusir setan dengan kelembutan dan doa sewajarnya...mengapa berbeda dengan dukun-dukun yang manteranya hebat-hebat dan ritual pengobatannya aneh-aneh Sang Resi?

Resi Satwata (tersenyum): Gopa...Si pengung nora nglegawa, sangsaya dadra deniro cacariwis, Ngandhar-andhar angendhukur, Kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkanganipun. Kawruhe mung ana wuwus. Wuwuse gumaib gaib,kasliring thithik tan kena. Si wasis waskitha ngalah, ngalingi marang si pengung.....Ketahuilah Gopa, Si dungu tidak menyadari, bualannya semakin menjadi jadi, ngelantur bicara yang tidak-tidak, bicaranya tidak masuk akal, makin aneh, membual tak ada jedanya. Ilmunya sebatas mulut, kata-katanya di gaib-gaibkan, dibantah sedikit saja tidak mau, membelalak alisnya menjadi satu Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah, tidak mau membuka aib si bodoh...

Buyut Gopa: Ya..ya...mereka yang ilmunya sebatas mulut, memang hanya mulutnya yang hebat...begitukah sang Resi.

Resi Satwata: Sebagai muridku, tampaknya engkau cukup cerdas menangkap saripati kehidupan. Bukan hanya itu Gopa di dunia ini...ada masalah kecil di besar-besarkan, masalah yang sesungguhnya besar malah di timbun supaya tidak ketahuan....banyak manusia mengenakan topeng, untuk menyembunyikan kepalsuan yang belum ikhlas dilepaskannya....Ah, semoga pengabdianku pelan-pelan bisa menyingkapkan topeng-topeng itu Gopa.

Di sela-sela perbincangan itu datanglah utusan dari Gilingwesi yaitu Begawan Buda dan Begawan Sukra yg meminta bantuan Resi Satwata menafsirkan mimpi Prabu Watugunung. Resi Satwata menugaskan Buyut Gopa mewakilinya ke Gilingwesi.

Setelah berhadapan dengan Prabu Watugunung, Buyut Gopa mencoba menafsirkan mimpi sang Prabu "seekor harimau dimangsa ular sampai tinggal tulang belulangnya. Dari mulut ular itu lalu keluar ulat, tikus, nyamuk, dan kuman." Menurut Buyut Gopa mimpi tersebut bermakna dewata akan mengurangi kasih sayangnya kepada Kerajaan Gilingwesi, dengan ditandai munculnya musibah empat macam, yaitu ulat, tikus, nyamuk, dan kuman tersebut.

Mendengar uraian Buyut Gopa Prabu Watugunung murka, tiba-tiba dihujamkan keris ke dada Buyut Gopa, hingga Buyut Gopa tewas seketika. Begawan Buda ngeri melihatnya dan menasihati sang Prabu jika Empu Gopa dibunuh, lantas siapa nanti yang bisa dimintai bantuan mengatasi musibah tersebut? Amarah Prabu Watugunung berangsur-angsur reda, dan ia pun menyesali perbuatannya tadi.

Setelah pembunuhan Empu Gopa, Kerajaan Gilingwesi dilanda bencana alam bertubi-tubi, mulai dari gempa bumi, hujan deras, petir halilintar, dan banjir bandang yang merobohkan banyak bangunan serta menewaskan banyak penduduk.

Setelah banjir surut, datang ulat-ulat sedemikian banyaknya yang merusak tanaman pertanian, kemudian disusul ribuan tikus yang menyerang bahan makanan penduduk. Setelah itu sekawanan nyamuk yang tak terhitung banyaknya menggigit dan menghisap darah para penduduk dan hewan ternak. Terakhir adalah munculnya kuman-kuman pembawa penyakit yang menyerang kulit para penduduk sehingga banyak di antara mereka yang menderita sakit kudis sangat parah.

Prabu Watugunung sedih menyaksikan penderitaan penduduknya. Berangsur-angsur wibawa Kerajaan Gilingwesi merosot sehingga banyak negeri jajahan yang menolak tunduk kepadanya. Karena pikirannya sudah buntu, Prabu Watugunung pun memutuskan untuk meminta pertolongan kepada Batara Kala yang merupakan penguasa dari segala hewan berbisa demi melenyapkan wabah di negerinya itu.

Disaat prahara melanda negeri Gilingwesi, datanglah Dewi Landep dari Kahyangan Saptapratala, yang mengunjungi putranya Patih Suwelacala (R.Wukir). Prabu Watugunung menyambut kehadiran ibu tirinya itu dan mempersilahkan Dewi Landep melepas kerinduan kepada putranya Patih Suwelacala. Setelah cukup melepas kerinduan pada Patih Suwelacala, Dewi Landep di hantarkan para dayang menuju keputren untuk bermalam.

Di keputren bertemulah Dewi Landep dengan Dewi Sinta (Dewi Basundari) ...mereka terkejut dan tidak menyangka terjadi pertemuan ini. Mereka pun saling berpelukan dengan rasa haru setelah puluhan tahun berpisah. Dewi Landep meminta maaf kepada kakaknya karena telah menjadi madu dan merusak hubungan kakaknya dengan Prabu Palindriya. Dewi Sinta bisa menerima dan mengikhlaskan masa lalunya karena Prabu Palindriya yg menjadi pangkal tolak juga sudah menerima azab dengan kematian yang mengerikan. Saat disinggung mengenai putranya yang saat itu sedang di kandung, Dewi Sinta menangis, dan mengatakan bahwa Jaka Wudug putranya telah hilang sejak berusia 2th.

Dewi Landep sangat terkejut mendengarnya, ia menduga kalau Jaka Wudug tidak lain adalah Prabu Watugunung sendiri.

Dewi Landep pun menceritakan awal mula Prabu Palindriya menerima seorang pemuda bernama Raden Raditya yang ingin mengabdi di Kerajaan Medang Kamulan. Prabu Palindriya berniat menjodohkan Raden Raditya dengan Dewi Sriyuwati. Akan tetapi, tiba-tiba datang Batara Narada mencegah hal itu jangan sampai terjadi, karena Raden Raditya tidak lain adalah putra Prabu Palindriya sendiri yang lahir dari Dewi Basundari. Raden Raditya kemudian diangkat sebagai patih di Medang Kamulan, bergelar Patih Selacala, hingga akhirnya ia berhasil menjadi raja Gilingwesi yang bergelar Prabu Watugunung tersebut.

Bergetar hati Dewi Sinta mendengar kisah ini...sebagai bidadari terasalah sekarang prahara yang terjadi di Gilingwesi, mungkin akibat dosa yang dilakukan oleh Watugunung yang mengawini ibunya sendiri. Tinggal satu cara untuk membuktikan itu.

Malam hari di peraduan, Dewi Sinta meminta Prabu Watugung rebah di pangkuannya, saat mengelus kepala Sang Prabu, tersayatlah hati sang Dewi menemukan pithak bekas luka di kepala sang Prabu...ingatannya menerawang mengenang perbuatannya memukul Jaka Wudug dengan centhong.

Dewi Sinta: Kakaprabu, jujurlah ceritakan...mengapa ada luka di kepala paduka ini...

Prabu Watugunung: Ooh..ini luka akibat dipukul centhong oleh ibuku...dulu aku rewel meminta makan, ibuku seorang bidadari cantik bernama Dewi Basundari...sayang hatinya tidak secantik wajahnya...hanya masalah kecil seperti itu dia tega memukul kepalaku dengan centhong hingga berdarah...hatiku sakit sekali, lebih sakit dari kepalaku...bagaimana mungkin seorang ibu tega menyakiti anaknya yang masih kecil seperti itu...aku lari minggat, dan sampai sekarang tidak pernah bertemu ibuku lagi...

Dewi Sinta (mulai tersedu): Kakaprabu...apakah paduka tidak rindu pada ibu paduka...?

Prabu Watugunung: Rindu? Mengapa harus rindu? Dia sudah tega melukai aku seperti itu...hhmm...seandainya aku bertemu ibukupun sudah tidak akan ada cinta di hatiku untuknya..bagiku perbuatannya itu tidak layak dilakukan seorang ibu...tidak aku tidak pernah rindu padanya...

Dewi Sinta: Duuuh jagad dewa batara....

Semalam suntuk Dewi Sinta menangis tersedu dan mulai saat itu tidak pernah mau disentuh oleh Prabu Watugunung. Terbuktilah kutukan Dewi Soma telah melengkapi penderitaannya, dunia telah terbalik perasaan aib dan malu yang teramat sangat menghujam kalbunya...dia seorang bidadari cantik tetapi nasibnya sungguh mengenaskan dikawini anaknya sendiri dan memiliki anak dari putranya itu. Dewi Sinta tahu, inilah saatnya dia dan anak-anaknya harus tumpas, pralaya agar tidak mengotori dunia dengan aib mereka...tetapi bagaimana menyampaikan ini pada Prabu Watugunung?

Karena Dewi Sinta terus menolak disentuhnya, Prabu Watugunung pun marah dan mengancam akan membabi buta membuat sengsara istri-2nya yang lain dan anak-anaknya kalau kehendaknya bermesraan dengan Dewi Sinta tidak dipenuhi. Dewi Sinta sadar, Prabu Watugunung telah menjadi budak syahwatnya sendiri, karena dosa-2 mereka dan sudah menjadi pengikut Batara Kala, sehingga yang tampak dimata sang Prabu adalah diturutinya kemauannya tanpa peduli istri dan anak-2nya mau sengsara atau tidak. Akhirnya Dewi Sinta menyampaikan syarat, bersedia melayani Prabu Watugunung kembali, jika diberi madu 7 bidadari Suralaya. Prabu Watugunung menyetujui permintaan ini dan segera menyiapkan balatentaranya menyerbu Kahyangan Suralaya.

Syahdan Batara Indra di Kahyangan Suralaya menerima kunjungan Batara Guru dan Batara Narada dari Kahyangan Jonggringsalaka. Batara Guru menjelaskan bahwa Batara Indra tidak mungkin bisa mengalahkan Prabu Watugunung yang dilindungi Batara Kala. Satu-satunya yang bisa mengalahkan raja Gilingwesi itu hanyalah Batara Wisnu yang saat ini sedang menjelma sebagai Resi Satmata. Batara Indra mematuhi nasihat tersebut. Batara Guru lalu meminta Batara Narada untuk mencari dan menjemput Resi Satmata. Batara Narada pun mohon pamit dan berangkat melaksanakan tugas tersebut.

Setelah bertemu dengan Batara Narada, Resi Satwata bersedia membantu Batara Indra mengatasi Prabu Watugunung dengan syarat Batara Guru mengampuni dosanya memperistri Dewi Sriyuwati yang sekarang telah berputra dengannya yaitu Raden Srigati. Batara Narada menyampaikan syarat ini kepada Batara Guru dan diterima asalkan Resi Satwata bisa menyelesaikan persoalan rumit di keluarga Prabu Watugunung.

Maka, terjadilah pertarungan sengit antara Resi Satmata melawan Prabu Watugunung. Keduanya terlihat sama-sama kuat dan sama-sama sakti. Prabu Watugunung yang sudah dirasuki Batara Kala dapat mengubah wujudnya menjadi raksasa sebesar gunung dan mengamuk merusak bangunan Kahyangan Suralaya. Resi Satmata pun mengimbanginya dengan bertriwikrama menjadi raksasa yang lebih besar lagi. Dalam pertempuran tersebut, raksasa penjelmaan Resi Satmata berhasil mengeluarkan Batara Kala dan mengusirnya pergi, sehingga membuat Prabu Watugunung kembali ke wujud semula.

Resi Satmata yang telah kembali ke wujud manusia menantang Prabu Watugunung adu kepandaian daripada bertarung tanpa akhir. Prabu Watugunung diminta mengajukan sebuah teka-teki, dan Resi Satmata siap menjawabnya. Jika teka-teki itu bisa ditebak, maka Prabu Watugunung harus dihukum mati. Tapi jika teka-teki itu tidak dapat ditebak, maka Prabu Watugunung boleh pulang dengan membawa tujuh bidadari unggulan.

Prabu Watugunung menerima tantangan Resi Satmata. Teka-teki itu berbunyi: “Supila silapa, supila kupala, kupila supala."

Resi Satmata menjawab bahwa arti dari teka-teki itu adalah: “Wit dhakah woh dhakah (pohon besar, buah besar); wit dhakah woh dhikih (pohon besar, buah kecil); dan wit dhikih woh dhakah (pohon kecil, buah besar).”

Pohon besar buah besar adalah pohon kelapa, artinya jika Prabu Watugunung tewas, maka anak keturunannya tidak boleh dibunuh dan harus dimuliakan.

Pohon besar buahnya kecil adalah pohon beringin, artinya jika Prabu Watugunung tewas, maka istrinya jangan sampai diganggu.

Pohon kecil buahnya besar adalah pohon semangka, artinya kedudukan para arya yang gugur (adik-adik tiri Watugunung) supaya diwariskan kepada anak-anak mereka.

Prabu Watugunung pasrah setelah mendengar uraian Resi Satwata, apalagi setelah dibuka mata bathinya hingga jelas terbaca uraian nasibnya yang mengawini ibu kandungnya sendiri...Prabu Watugunung sadar, tidak mungkin dia meneruskan kehidupannya dengan dosa sebesar itu...tetapi karena menjalani dosa itu bukanlah kesengajaannya, dan terjadi akibat ketidak tahuannya, Watugunung bertobat dan meminta kisahnya diabadikan sepanjang zaman dia rela tumpas beserta keluarganya, tetapi masyarakat harus tahu kisahnya agar tidak terjadi hal yang serupa.

Permintaan ini di penuhi oleh Resi Satwata, Watugunung pralaya oleh Cakra Sudarsana...di saksikan oleh Batara Guru dan Batara Narada, seluruh keluarga Watugunungpun di sempurnakan oleh Resi Satwata (Batara Wisnu) dan mereka di abadikan dalam nama-nama Wuku (Pakuwon) yaitu 30 Wuku yang terdiri atas : Wuku Sinta, Wuku Landep, Wuku Wukir, Wuku Kurantil, Wuku Tolu, Wuku Gumbreg, Wuku Warigalit, Wuku Warigagung, Wuku Julungwangi, Wuku Julungsungsang, Wuku Galungan, Wuku Kuningan, Wuku Langkir, Wuku Mandasiya, Wuku Julungpujud, Wuku Pahang, Wuku Kuruwelut, Wuku Marakeh, Wuku Tambir, Wuku Medangkungan, Wuku Maktal, Wuku Wuye, Wuku Manahil, Wuku Prangbakat, Wuku Bala, Wuku Wugu, Wuku Wayang, Wuku Kulawu, Wuku Dukut, Wuku Watugunung.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya