Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Pemenuhan Sumpah Bima

Selasa, 23 Juni 2015

KISUTA.com - Setelah Durna Gugur, para para senapati nala tentara Kurawa mengangkat Karna sebagai mahasenapi. Karna berdiri di atas kereta kuda yang megah dengan Salya sebagai sais. Rasa percaya diri dan kemasyhuran Karna sebagai kesatria membangkitkan semangat tempur pasukan Kurawa. Perang dimulai lagi.

Para ahli perbintangan dimintai nasihat dan para Pandawa menentukan waktu yang tepat untuk bertempur. Arjuna memimpin serangan pada Karna. Bima menyusul di belakangnya. Dursasana memusatkan serangan pada Bima. Ia lepaskan hujan panah ke arah Bima. Bima tertawa kecil menyambut serangan itu. Katanya dalam hati: "Kesempatan initidak boleh aku sia-siakan. Akan kutuntaskan sumpahku pada Drupadi hari ini. Aku sudah menunggu kesempatan ini lama sekali."

Bima terbayang kembali penghinaan yang dilakukan Dursasana pada Drupadi. Amarahnya meluap-luap tidak terkendali. Ia buang semua senjata dan melompat ke kereta Dursasana. Ia terkam Dursasana seperti harimau menerkam mangsa. Dursasana dilemparkan ke tanah dan badannya remuk redam. Sambil mencengkram Dursasana, Bima berteriak: “Manusia jahanam, inikah tangan yang telah menyeret Drupadi? Terimalah pembalasanku. Jika ada yang mau membantunya, boleh saja. Silakan maju.”

Setelah berkata demikian, dia melihat ke arah Duryudana dan ia lemparkan tubuh yang bersimbah darah itu ke tengah arena. Kemudian, dia memenuhi sumpah mengerikan yang dia ucapkan tiga belas tahun yang lalu. Dia hisap dan minum darah Dursasana seperti binatang buas memangsa korban. Laksana orang kerasukan, Bima menari-nari di atas tubuh yang bersimbah darah itu. Katanya: “Aku telah melaksanakan sumpahku! Sumpah yang kuucapkan untuk meremukkan durjana ini telah tuntas. Aku hanya tinggal menuntaskan sumpahku untuk membunuh Duryudana. Upacara korban telah siap. Bersiaplah Duryudana!”

Kejadian yang mengerikan itu membuat gemetar semua yang melihat. Bahkan Karna, sang kesatria besar itu pun kecut hatinya melihat Bima menuntaskan dendam kesumatnya.

Kata Salya kepada Karna: “Jangan menyingkir dari tempat ini. Engkau tidak boleh menunjukkan sikap yang bisa disalhpahami sebagai tindakan pengecut. Ketika Duryudana berdiri gemetaran dan ketakutan, engkau tidak boleh menunjukkan sikap gentar. Setelah kematian Dursasana, bala tentara Kurawa hanya menyandarkan harapan kepadamu. Sekarang engkau harus menanggung semua beban itu. Majulah sebagaimana layaknya kesatria besar. Bunuh Arjuna! Rebut kemenangan yang abadi di muka bumi ini atau mati!”

Mendengar kata-kata itu, semangat bertempur Karna pulih kembali. Dengan mata merah karena amarah dan air mata yang bercucuran, dia perintahkan Salya untuk membawa keretanya menuju Arjuna.

Kata Aswatama kepada Duryudana: “Marilah kita hentikan peperangan ini. Mari kita hentikan permusuhan yang hanya saling menghancurkan ini. Sahabatku, marilah kita berdamai dengan Pandawa. Kita hentikan perang ini.”

Kata Duryudana: “Apa? Apakah engkau tidak mendengar kata-kata yang diucapkan Bima yang keras kepala itu ketika membantai dan menaridi atas tubuh Dursasana seperti binatang buas? Bagaimana kita bisa mengajukan tawaran damai? Mengapa engkau beromong kosong seperti ini?”

Setelah berkata demikian, dia perintahkan susunan pasukan yang baru. Dia perintahkan pasukannya untuk menyerang. Maka, terjadilah pertempuran yang hebat.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya