Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Lokati Nyunggi Kawruh

Rabu, 24 Juni 2015

KISUTA.com - Sementara di Jawadwipa, Kerajaan Gilingwesi dikembalikan untuk ditata Sanghyang Brahma, dan Kerajaan Medang Kamulan diserahkan pada Resi Satwata yang menata praja dengan Gelar Prabu Wisnupati, di tanah Hindustan, kerajaan Lokapala, Prabu Lowana dan permaisurinya Dewi Lokawati sedang masgul hatinya. Putrinya yang cantik jelita dan berilmu tinggi belum juga menemukan jodohnya.

Dewi Lokati sang Sekar Kedaton memiliki prinsip, hanya mau menikah dengan laki-laki yang sanggup mengatasi kemampuannya baik dalam ilmu kanuragan maupun ilmu pengetahuan.

Seribu raja muda dan teruna sudah dikalahkan oleh Dewi Lokati, sehingga sayembara yang digelar sang raja pun tidak membawa hasil, akhirnya Sang Raja memasuki sanggar Pamujan untuk memohon bantuannya kepada Canggahnya Batara Sambu dalam komunikasi transcendental.

Batara Sambu: Kaki Prabu Lowana, apa yang merisaukan hatimu hingga engkau mengundangku dari Suwelagiring ke sanggar pamujanmu ini...

Prabu Lowana: Iya eyang, saya bingung untuk mencarikan jodoh ananda Lokati, sudah lebih 1000 raja ksatria gagal mengatasi kesaktian dan kepandaiannya, apakah mungkin anak saya menjadi perawan tua Eyang...

Batara Sambu: Lowana, sejatinya apa yang menjadi keinginan anakmu itu sungguh luhur, karena dalam perkawinan, selayaknya laki-lakilah yang menjadi imam nya, sehingga perasaan tunduk dan takluk wanita pada guru lakinya itu penting...tetapi berhati-hatilah, karena semua itu bukan jaminan kalau mereka tidak bisa merawat dan menjaga hubungan yang sudah di cari dengan susah payah...

Lowana: Ya Eyang,..baru masalah pertama, mengatasi kemampuan putri saya saja, sampai saat ini kami belum mendapatkan sosok yng pas....bagaimana ini?

Batara Sambu: Putrimu adalah keturunan Batara dan Batari yang tekun ngangsu kawruh, kalau calonnya hanya ksatria biasa tentu berat menjalaninya....cobalah undang anak saudara sepupumu Resi Supadma, aku dengar Wisrawa anak Resi Supadma ini adalah teruna muda yang gentur bertapa dan cakap dalam pengetahuan.

Lowana: Ah...iya benar...baiklah eyang akan segera kami undang ananda Wisrawa untuk mengatasi anak hamba Dewi Lokati...

Resi Supadma adalah putra Batara Sambodana atau cucu Batara Sambu, sang Resi memiliki anak yang sangat cerdas dan sakti bernama Wisrawa, jadi sebenarnya antara Wisrawa dan Dewi Lokati masih ada hubungan darah (mindoan). Kedua anak muda elok rupa ini dipertemukan ayah mereka, terjadilah perang tanding untuk memenuhi syarat Dewi Lokati, setelah berjalan 7 hari 7 malam, akhirnya Dewi Lokati menyerah dalam ilmu kanuragan, bukan karena kalah tetapi karena kelelahan secara phisik.

Dewi Lokati: Duh kakang Wisrawa, sudahlah kita hentikan tanding kanuragan ini, aku sudah merasa lelah sekali...aku takluk dalam hal kanuragan denganmu kakang...

Wisrawa: Yayi Lokati..baru kali ini aku menemukan lawan tanding yang seimbang, dan luarbiasanya itu dimiliki oleh gadis jelita sepertimu..Ooo Jagad Dewa Batara, masih selangkah lagi untuk bisa tercapai mendapatkan dirimu. Seandainya itu terjadi Jagad menjadi saksi bahwa Wisrawa orang yang diberi karunia, akan tumpes hina dina bila menyia nyiakan permata sepertimu yayi...

Petir tiba-tiba menyalak di langit yang tadinya cerah, angin bergulung-gulung bagaikan topan menyaksikan sumpah begawan Wisrawa, yang terselip dalam rayuannya pada Dewi Lokati...

Dewi Lokati: Ah...lihatlah sumpahmu di saksikan Hyang Brahma dan Hyang Bayu kakang...hati-hatilah, karena saat engkau langgar sumpahmu azabnya tidak bisa dihindari lagi...

Wisrawa (tersenyum): Aku tidak menyesal adindaku yang jelita, saat ini walaupun aku harus menaklukkanmu, sesungguhnya jiwa ragaku sudah takluk pada indah dan wasisnya dirimu.

Dewi Lokati: Baiklah kakang, untuk menggenapi syaratku...jawablah tebakanku ini..."Dua orang anak dan dua orang ayah pergi berburu rusa. Setiap orang mendapat satu rusa. Setelah berburu mereka pulang. Saat semua rusa dikumpulkan, mengapa hanya ada 3 rusa" (sesaat Wisrawa mengernyitkan dahinya, kemudian tersenyum menjawab).

Wisrawa: Adindaku yang bijak, tentu saja hanya ada 3 rusa, karena mereka memang hanya ada 3 orang. Si Bapak tua itu punya 2 orang anak, yang salah satu anaknya sudah menikah dan punya anak yang ditinggal dirumah. Dia dan adiknya diajak ayahnya berburu...jadi mereka hanya bertiga.

Dewi Lokati: hhmm...masih ada satu lagi kakang....apa yang banyak dikembalikan tetapi tidak pernah dipinjamkan?

Wisrawa (sambil tersenyum dan mulai berani menyentuh tangan Lokati): Yayi Lokati...itulah ucapan Terima Kasih yang tulus...sebagai wujud adab dan kesopanan, bagi umat yang memiliki kesopanan tinggi, ucapan ini selalu dikembalikan tetapi tidak akan pernah di pinjamkan.

Wisrawa akhirnya berhasil meminang Dewi Lokati, dan pada saatnya mereka di nikahkan dengan perhelatan nikah yang sangat mewah. Kebahagiaan pasangan ini bertambah karena tak lama kemudian lahirlah putra mereka yang diberi nama Wisrawarna atau Danaraja. Kelahiran Pangeran kecil ini sekaligus penyerahan kerajaan Lokapala kepada Wisrawa karena Prabu Lowana memutuskan untuk meninggalkan istana dan menjalani kehidupan religi bersama permaisurinya sebagai Begawan.

Lowana: Wisrawa dan Lokati, aku serahkan Lokapala pada kalian. Jadilah Raja dan Ratu yang bijak...jalankan roda pemerintahan dengan adil. Rakyatmu itu ibarat anakmu...kasihi mereka dan didik dengan baik.

Wisrawa: Sendika dawuh Rama...

Lowana: Untuk cucuku Wisrawarna atau Danaraja, pesanku...Anggegulanga anak tinanduran wijining kadarman, iku angluwihi utama tinimbang winuruk lakuning tatakrama, sarta perdinen anduweni pambegan setya tuhu, iku angluwihi ajining kawasisan...didik dan tanamkan pada anakmu nilai-nila pengabdian, karena itu lebih utama dibanding tatakrama yang sebatas peraturan, dan tanamkan sifat setia yang jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan kepandaian....hati-hatilah memegang pesanku ini Wisrawa...

Wisrawa: Baik Rama Prabu, saya akan menjaga pesan rama prabu dengan taruhan jiwa dan raga saya Rama...

Prabu Lowana dan permaisurinya Dewi Lokawati akhirnya meninggalkan istana menuju kaki gunung Himalaya untuk bertapa.

Sepeninggal Prabu Lowana, Sanghyang Bayu menghadiahkan ilmu Rawarontek kepada Begawan Wisrawa yang membuatnya tidak bisa mati saat jasadnya tertiup angin, sehingga ilmu tersebut makin membuatnya Sakti Mandraguna. Tidak mau kalah dengan Sanghyang Bayu, Sanghyang Indra juga memberikan pusaka Gandik Kencana kepada Prabu Wisrawa, sebagai piandel pusaka kerajaan.

Pangeran Danaraja, tumbuh sebagai pangeran pati yang mumpuni, dididik oleh ayah ibu yang sakti mandraguna dan waskita, di usia muda kemampuan pangeran ini sudah mengatasi para ksatria di sekitarnya. Saat Danaraja menginjak usia 17 tahun, Wisrawa memutuskan untuk madeg kapanditan, melanjutkan tradisi para raja yang meningkatkan ilmunya sebagai brahmana saat keturunannya sudah siap memerintah.

Wisrawa: Yayi Lokati, sudah saatnya kakanda meneruskan laku ini. Kebetulan kanjeng rama Resi Supadma sudah moksa kembali ke kasedan jati dan pertapaan Giri Jembatan dibiarkan ko0song...biarlah kanda menempati pertapaan itu yayi...

Lokati : Duh kakang...anak kita Danaraja baru remaja...ilmu kesaktiannya memang menonjol namun, sudah siapkan dia secara batin dan kebijaksanaan?

Wisrawa: Karena itu, biarlah adinda mendampinginya dahulu sebagai ibusuri...di pertapaan Giri Jembatan, kakandapun akan selalu mengamati...manakala anak kita membutuhkan bantuan kanda...pasti kanda akan membantu istriku...

Lokati: hhmm...baiklah kalau itu yang menjadi keputusan kanda...sesaat aku merasakan guratan masa depan yang berwarna kelabu...hati-hatilah kanda...niatan madeg kapanditan itu sesungguhnya mendekatkan diri kita dalam kepasrahan total pada sang Khalik...tipis perbedaannya dengan keinginan mendapat pujian dari orang-orang disekitar kita....karena kalau ikhlas dan tulus ini tidak menjadi lambaran tindakan kanda.....bunga-bunga dari riya itu bisa mengundang angkara kanda...

Wisrawa: hehehe Lokati, jangan khawatir...apakah engkau masih ragu dengan kemampuanku mengendalikan diri istriku...

Dewi Lokati dan Pangeran Danaraja melepas kepergian Begawan Wisrawa ke Giri Jembatan...jauh di lubuk hatinya Lokati menyimpan was..was...karena terasa olehnya sedikit watak jumawa sudah mulai merasuki suaminya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya