Kematian Karna
KISUTA.com - Putra Batara Surya itu melepaskan panah api ke arah Arjuna. Panah itu meluncur ke arah Arjuna seperti ular yang menjulurkan lidah bercabang. Persis pada saat itu, Krishna menghentakkan tali kekang dan memutar kereta hingga terperosok ke dalam lumpur.
Panah Karna mendesing. Hampir saja mengenai kepala Arjuna dan mengenai mahkota senapati yang dipakai Arjuna. Mahkota itu tersentak dan jatuh ke tanah. Wajah Arjuna merah karena malu dan amarah. Ia segera pasangkan anak panah di busur Gandewa untuk menamatkan Karna. Dan detik-detik kematian Karna sudah menjelang. Seperti yang telah diramalkan sebelumnya, roda kiri Karna tiba-tiba terperosok ke dalam lumpur. Ia segera melompat dari keretanya untuk mengangkat rodanya.
Teriak Karna: "Tunggu! Keretaku masuk ke dalam lumpur. Kesatria besar sepertimu tidak akan memanfaatkan kecelakaan ini. Aku akan betulkan keretaku dulu dan kita bertarung kembali!"
Arjuna ragu-ragu. Sementara itu Karna menjadi sedikit panik karena kecelakaan kecil itu. Ia menjadi ingat kutukan yang pernah diucapkan kepadanya. Sekali lagi, ia meminta Arjuna untuk bersikap kesatria.
Krishna menyela: “Hai, Karna! Bagus engkau masih ingat hal ihwal sikap kesatria! Ketika dalam kesulitan, engkau baru ingat nilai-nilai kesatria. Tapi ketika kau, Duryudana, dan Dursasana serta Sengkuni menyeret Drupadi ke ruang pertemuan dan mempermalukannya, mengapa engkau melupakan nilai-nilai itu? Engkau turut berperan membantu menipu Dharmaputra, yang memang suka bermain dadu tapi kurang pengalaman. Pada saat itu, di manakah sikap kesatriamu? Apakah engkau bersikap kesatria jika engkau menolak memberikan kepada para Pandawa apa yang menjadi hak mereka setelah mereka menjalani pengasingan selama dua belas tahun di hutan dan setahun menyamar tanpa dikenal orang?
“Apakah engkau melupakan dharma yang kau tuntutkan pada Arjuna sekarang? Engkau bersekongkol dengan para penjahat itu untuk meracun dan membunuh Bima. Engkau diam saja ketika para Kurawa merancang rencana busuk membakar para Pandawa hidup-hidup di istana kayu? Apakah engkau ingat dharma ketika tangan-tangan jahat mempermalukan Drupadi? Bukankah engkau hanya diam dan menyaksikan tragedi itu? Apakah engkau tidak menghina para Pandawa ketika engkau berkata: ‘Suami-suamimu tidak melindungimu lagi, maka carilahsuami lain’? Mulut yang tanpa malu mengucapkan kata-kata seperti itu sekarang memohon-mohon sikap kesatria. Apakah itu kesatria? Apakah artinya sikap kesatria ketika ketika kalian mengeroyok dan membunuh Abimanyu beramai-ramai? Hai, manusia jahat, jangan bicara sikap kesatria karena engkau tidak pernah bersikap kesatria!”
Ketika Krishna mencela Karna habis-habisan dan mendesak Arjuna untuk segera menghabisinya, Karna hanya bisa menundukkan kepala dan tidak bisa berkata-kata. Tanpa suara, ia naik ke atas kereta dan membiarkan roda keretanya terbenam dalam lumpur. Ia segera lepaskan anak panah ke arah Arjuna. Serangan itu hampir saja mengenai Arjuna. Untuk sesaat, Arjuna terhenyak. Dengan cepat Karna memanfaatkan kesempatan itu untuk membetulkan kereta kudanya.
Tapi tampaknya takdir sudah memutuskan dan nasib baik pun menjauh dari kesatria besar itu. Roda itu sama sekali tidak bergeming, meskipun kesatria besar itu sudah mengerahkan seluruh tenaga. Kemudian, dia mencoba mengingat mantra bramastra pemberian Parasurama. Tapi, persis pada saat yang sangat dia butuhkan, seperti yang diramalkan Parasurama, Karna tidak bisa mengingat mantra itu.
Seru Madhawa: “Arjuna, jangan buang-buang waktu. Lepaskan panahmu dan bunuh manusia jahat itu!”
Arjuna ragu-ragu. Tangannya tidak yakin untuk melakukan tindakan yang tidak mencerminkan sikap kesatria itu. Tapi, ketika Krishna berkata: “Arjuna melaksanakan kehendak Yang Mahakuasa dan melepaskan panah yang mengena dan melukai kepala Radheya.
Sang Begawan tidak sampai hati menghubungkan tindakan tidak kesatria ini dengan Arjuna yang merupakan perwujudan keluhuran budi. Krishnalah yang menyuruh Arjuna menghabisi Karna ketika ia berusaha mengangkat roda dari lumpur. Menurut tata krama perang, tindakan semacam itu sama sekali tidak bisa dibenarkan. Siapa yang bisa menanggung tanggung jawab melanggar dharma jika bukan Yang Mahakuasa sendiri?
Pelajaran yang bisa kita petik adalah menghentikan kejahatan dengan kekerasan dan perang adalah tindakan yang sia-sia. Perang yang dimaksudkan untuk tujuan yang baik, perang yang dilakukan dengan tindakan kekerasan fisik hanya akan menghasilkan sekian banyak tindakan jahat lain dan pada ujungnya justru menambah adharma atau kejahatan.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


