Jumawa Membawa Sengsara
KISUTA.com - Senja temaram di Sitihinggil kerajaan Alengkadiraja. Prabu Sumali sedang membahas keinginannya meningkatkan martabat kerajaannya di hadapan permaisurinya Dewi Danuwati yang jelita adik Prabu Danupati Raja Mantili, Arya Maliyawan, Jambumangli adik-adik Prabu Sumali, dan Detya Prahasta, putra sulungnya.
Prabu Sumali: Oeyy hehehe...adikku yang gagah Arya Maliyawan, aku ingin sejenak meninggalkan istana, tapa brata untuk meningkatkan martabat kita. Apakah engkau bersedia menemaniku Dimas?
Arya Maliyawan: Hhuee hehehe..Kakaprabu kita bersaudara hanya bertiga, apapun yang menjadi titahmu, aku selalu setuju saja, karena seperti dawuh ayahanda kita Prabu Suksara, apapun yang terjadi sepanjang kita bersaudara kandung ini rukun, semua akan mudah teratasi..huehehehe..mari aku ikuti kemana kakang akan tapa brata...
Prabu Sumali: Ya adikku..itulah yang membuatku selalu merasa tentram dan bahagia...kerukunan dan kasih sayang kita abadi sepanjang zaman..huehehehe..karena kasih sayang kita itulah, mbakyumu yang cantik jelita ini mau saja diperistri yaksa seperti kakangmu ini huehehehe.
Danuwati: Kakaprabu, Ajining diri dumunung ing lathi, Ajining raga saka busana..saya mengukur seseorang bukan dari wadagnya sinuwun..Paduka raja Gung Binatara, yang ucapannya selalu bisa dipercaya..solah bawa paduka banyak mengedepankan kepentingan kawula dan keluarga, itulah busana indah seorang pemimpin...karena itu, saya ikhlas dan bahagia menjadi istri paduka Kakaprabu.
Prabu Sumali: wuuiiisss...klepek klepek tenan aku.....burung gelatik, kecil gesit badannya, bersuit riuh bersama teman-temannya...Ueeyy, istri cantik,lembut bahasanya, suami mana ngga jatuh bangun karenanya....huahahaha, Danuwati, engkau istri tercintaku, apa yang menjadi keinginanmu titipkan padaku agar sekalian aku mintakan pada dewata...
Danuwati: Kakaprabu, kerukunan paduka dan yayi Arya maliyawan serta Jambumangli adalah anugrah tak terkira, kita memiliki 2 anak, Prahasta dan Sukesi, tolong mohonkan agar mereka selalu rukun sampai anak keturunan mereka saling mendukung dan bersama dalam kebajikan itulah permohonan hamba kakang...
Prabu Sumali berangkat menuju puncak gunung Colmolugma bersama Arya Malyawan untuk bertapa, Kerajaan sementara waktu di serahkan pada adiknya Jambumangli dan putra mahkotanya Arya Prahasta. Begitu khusuknya tapa sang Prabu hingga Batara Brahma diutus Sanghyang Girinata meluluskan segala permintaan Prabu Sumali, yaitu kerukunan anak-2nya, bertambahnya kesaktian dan kharismanya sebagai Raja besar Alengkadiraja.
Masa berganti tahun, setelah kejayaan Alengkadiraja makin bertambah, Prabu Sumali menjadi jumawa, keberhasilannya membuatnya lupa diri, ketika Arya Maliyawan merengek meminta dilamarkan seorang bidadari, Prabu Sumali tanpa pikir panjang mengajak Jambumangli dan Arya Maliyawan menyerbu kahyangan. Mereka berhasil menaklukkan para wasu yang menjaga lereng Jonggringsaloka, dan makin mendekati gerbang Selomatangkep yang dijaga Cingkara Bala dan Bala Upata. Melihat kekacauan ini, Batara Narada segera mengusulkan agar Batara Wisnu bersama Batara Indra dan Batara Sambu bekerjasama mengusir pasukan Alengkadiraja.
Batara Wisnu: Prabu Sumali, engkau raja Gung Binatara yang sesungguhnya menjadi kesayangan para dewa. Mengapa sekarang menjadi tak tahu diri berani menyerang kahyangan?
Prabu Sumali: Babo babo iblis laknat podo gegojegan, Buah kedondong tidak berduri, dewa itu sombong, semua dikuasai sendiri... Batara Wisnu aku hanya mengantarkan adikku Arya Maliyawan meminta seorang bidadari untuk diperistri. Mengapa kalian begitu angkuh menolak permintaan kami...
Batara Indra: Mendapatkan istri seorang Bathari, harus di tempuh dengan laku dan jasa yang layak...bukan dengan paksaan seperti ini, sadarlah Sumali, kembalilah kalian dan jadilah pemimpin yang baik bagi bangsamu...kalau Arya Maliyawan bisa mbabar ilmu dan pengabdiannya, siapa tahu cita-citanya kelak bisa tercapai.
Arya Maliyawan: Wah...keburu tua, kalau aku harus ikut aturan dewa. Sudahlah langsung saja jawab, kami minta seorang bidadari untuk istriku, mau diberikan apa tidak?!!
Pertanyaan Arya Maliyawan itu dijawab dengan tendangan dahsyat oleh Batara Sambu yang tidak tahan mendengar kelancangannya. Batara Wisnu segera berhadapan dengan Prabu Sumali, dan Batara Indra menghadapi Jambumangli. Pertempuran dahsyat terjadi di lereng Jonggring Saloka. Akhirnya pada satu kesempatan terjadilah suara ledakan keras yang timbul dari pecahnya pelipis Arya Maliyawan terkena tamparan Guntur Sayekti dari Bathara Sambu. Arya Maliyawan menggelepar sekarat. Melihat hal ini, Prabu Sumali dan Jambumangli segera menyerah dan mohonkan ampun untuk Arya Maliyawan.
Prabu Sumali: Tobat..tobat Bathara Wisnu ...ampuni kami, aku mengaku salah dan kalah.
Jambumangli: Duuh Bathara Sambu...kasihanilah kakakku...jangan buat dia menderita seperti itu...
Bathara Sambu: Sumali dan Jambumangli....inilah akibat ulah jumawa kalian...belum seberapa kemampuanmu sudah engkau pamerkan melawan para dewa...Arya Maliyawan tidak bisa aku selamatkan, pecahnya pelipis kalaupun hidup akan menjadi cacat...karena itu, saksikanlah, Arya Maliyawan akan aku sabda menjadi bukit yang kokoh, sebagai perlambang kokohnya kesetiaannya padamu Sumali...Bukit Maliawan kelak akan menjadi pertapaan para pertapa sakti yang nggayuh ketentraman, lurus ing budi dan memiliki kesetiaan yang kokoh. Begitu Bathara Sambu selesai mengucapkan sabdanya, perlahan-lahan jasad Arya Maliyawan mengeras, membatu dan membentuk anakan bukit yang kokoh...Bukit Maliawan.
Akibat kesalahannya menyerbu kahyangan, Prabu Sumali dan keluarganya terusir dari Alengkadirja, oleh Bathara Wisnu, mereka di pindahkan ke kerajaan kecil di bawah Alengkadirja yang bernama Panglebur Gangsa. Negri Alengkadirja, diserahkan menjadi negara bagian pemerintahan Lokapala dibawah kekuasaan Prabu Danaraja.
Hari berganti bulan, bulanpun berganti tahun, penyesalan Prabu Sumali yang terpaksa kehilangan kerajaannya karena kesembronoannya belumlah usai. Tetapi sang Prabu kehilangan akal, tidak mungkin merebut tahta Alengkadiraja kembali, karena Prabu Danaraja adalah raja yang Sakti Mandraguna dan masih keturunan langsung dari Bathara Sambu. Saat sang prabu merenung, terbayang wajah putrinya yang jelita Sukesi....Ah ini dia...tiba-tiba terbersit ide di kepala Prabu Sumali, putrinya adalah gadis yang cantik dan pandai, sungguh sepadan jika bersanding dengan Prabu Danaraja, jika perkawinan itu terjadi maka praja Alengkadirja akan kembali padanya tanpa pertumpahan darah.
Prabu Sumali tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya, bergegas dia menuju keputren menemui anak istrinya.
Prabu Sumali : huehehehe...anakku ayu denok dubleng Sukesi...kamu menjadi harapanku, kamulah mustika yang bisa mengembalikan Alengkadirja ketangan Ramamu ini.
Sukesi: Kanjeng Rama, ada apa ini ? tidak ada hujan tidak ada angin paduka datang ke keputren tiba-tiba menyampaikan bahwa ananda mampu mengembalikan Alengkadirja...
Prabu Sumali: hiya hahaha..iya anakku yang cantik...sungguh Rama sangat beruntung memiliki kamu yang sepandai dan secantik ini...hehehe, untung nurun dari ibunya...hyia hahaha..Ngger Sukesi, Prabu Danaraja itu Raja muda sakti mandraguna yang guanteng, cakep, masih muda dan kaya raya...kamu anakku yang cantik kalau kamu bisa berjodoh dengan Prabu Danaraja...bukan hanya akan mendapatkan suami pilihan, tapi juga mengembalikan Alengkadirja pada ayahmu ini...nah...bagaimana ?...ide yang hebat khan?
Sukesi: (sambil mengernyitkan dahinya, sukesi menyibakkan rambutnya yang panjang, lehernya yang jenjang makin menunjukkan kesempurnaan penampilannya sebagai wanita) : Rama Prabu....betapa rendahnya paduka menilai ananda, yang seperti barang upeti persembahan untuk Raja besar. Barang yang dapat dimiliki tanpa usaha, tanpa upaya...serendah itukah nilai Sukesi di mata kanjeng Rama?
Prabu Sumali: Lho..lho..mm..maksudku bukan begitu...Danaraja itu guanteng, cuakep, badannya bagus, Raja di raja...kurang apalagi coba?
Sukesi: Rama...ananda menilai lelaki bukan pada penampilan wadagnya semata...lelaki yang bisa mendampingi ananda adalah lelaki yang selain sakti mandraguna juga harus memiliki ilmu kebathinan yang tinggi.
Prabu Sumali : Wah, kalau cuma sakti mandraguna gampang seleksinya, bisa melewati pamanmu Jambumangli, sudah hebat itu..tapi soal ilmu kebathinan yang tinggi...haduh bagaimana kita bisa tahu...
Sukesi: Ananda mendengar ada ilmu yang bernama Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu...ini adalah sumber kebatinan tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh para resi, brahmana dan dewa. Kalau Prabu Danaraja bisa mengalahkan Paman Jambumangli dan medar ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu...barulah ananda mau menjadi istrinya.
Sukesi adalah sekar kedaton yang sangat sadar diri pada kecantikannya. Lingkungannya sangat memanjakannya, dengan kondisi seperti itu, tertanam di sanubarinya ambisi untuk mendapatkan suami pilihan. Kalau bisa sekelas dewa. Tetapi karena belajar dari kegagalan pamannya Arya Maliyawan yang ingin memperistri bidadari dengan cara yang salah, Sukesi merasa dia perlu menggunakan strategi untuk memenuhi ambisinya.
Setelah percakapan dengan ayahnya, Sukesi mulai bersemedi, menjelajah semesta raya untuk mencari secara batiniah siapakah laki-laki sakti yang bisa medar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.
Ambisi yang berlebihan dari Sukesi ternyata menggoncangkan ratu setra gandamayit. Batari Durga atau Gendeng Premoni, melihat celah melalui kecantikan dan kemolekan tubuh Sukesi ini, dia yakin bisa memperdaya dan menggoyahkan iman manusia, dan menghantarkan prahara di dunia. Saat Sukesi bersemedi pisah raga nganglang sukma, masuklah dzat batari Durga kedalam sukma Sukesi yang melayang-layang mencari insan pemegang ilmu Sastra Jendra Hayuningrat pangruwating Diyu.
Di Pertapaan Giri Jembatan, Resi Wisrawa merasakan hawa panas di pertapaannya. Dupa kemenyan di sanggar pamujan tiba-tiba bergulung-gulung memenuhi ruang sanggar pertapaan dan ditengah-tengah gulungan asap itu tampaklah wajah cantik Sukesi menggoda dengan kain tipis yang hanya dililitkan di tubuh moleknya, meliuk-liuk menggoda kelelakian Wisrawa. Resi Wisrawa kaget, segera di pusatkan pikirannya agar tidak tergoda bayangan wajah cantik itu. Peluhnya bercucuran sejagung-jagung, Wisrawa sadar inilah godaan yang dahsyat, karena kerinduannya akan belaian Lokati istrinya yang tidak diajaknya ke pertapaan.
Peristiwa itu berlangsung beberapa saat. Akhirnya Wisrawa dapat menguasai diri, Begawan ini bangkit dari semedinya. Menyapu peluh yang membanjiri mukanya. Wisrawa melangkah keluar dari pertapaannya. Tampaknya inilah saatnya menengok anak istrinya di Lokapala, semoga bayangan tadi tidak membawa musibah bagi keluarganya. Wisrawa melangkahkan kaki dengan hati was was...perasaan tak nyaman tiba-tiba menyergap hatinya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


