Salya Tumbang, Sengkuni pun Mati
KISUTA.com - Ketika menyaksikan kematian Karna, hati Duryudana amat sedih. Mahaguru Kripa tergerak melihat kesedihan hati Duryudana. Katanya: "Karena ambisi dan keserakahan, kita kalungkan beban yang terlalu berat pada para sahabat. Tanpa mengeluh mereka tanggung beban itu dan mempertaruhkan hidup di medan perang. Sekarang, mereka telah meraih kebahagiaan di atas sana. Dan satu-satunya jalan yang tersisa bagimu adalah berdamai dengan para Pandawa. Tuanku Raja, jangan lanjutkan perang yang penuh kehancuran ini."
Bahkan ketika hati dilanda kedukaan yang dalam, Duryudana masih saja menutup telinga pada nasihat itu.
Kata Duryudana: "Mungkin, dulu itu bisa kita lakukan. Sekarang sudah terlambat sama sekali. Sekarang, perdamaian macam apakah yang bisa kita usahakan antara Kurawa dan Pandawa? Setelah sekian banyak darah tertumpah di anatara kita --darah-darah orang yang kita cintai. Jika sekarang aku menyerah kalah supaya bisa tetap hidup, apa kata dunia? Kebahagaian apakah yang bisa aku rasakan dalam hidup yang hina seperti itu? Kebahagiaan macam apakah yang bisa aku peroleh setelah kematian para saudara dan kerabat terkasih?"
Kata-kata Duryudana itu disambut dengan sorak-sorai oleh pasukan Kurawa. Mereka mendukung sikap Duryudana dan kemudian memilih Salya sebagai mahasenapati. Salya adalah seorang kesatria yang berbadan sangat kuat dan pemberani seperti para kesatria yang telah gugur. Dia pimpin pasukan Kurawa dan pertempuran berlangsung sengit.
Di kubu Pandawa tampuk dipegang langsuoleh Yudhistira. Dia langsung menyerang Salya. Semua orang terkejut melihat Yudhistira yang berbudi pekerti lembut bertempur dengan garang.
Pertarungan berlangsung seimbang selama beberpa saat. Tapi akhirnya, Yudhistira melontarkan tombak ke arah Salya. Tombak itu meluncur cepat dan tepat mengena Salya. Seperti panji-panji yang berserakan di tanah setelah selesai upacara, Salya langsung tumbang, tanpa nyawa, bersimbah darah.
Ketika Salya, kesatria besar terakhir Kurawa tumbang, pasukan Kurawa kehilangan harapan. Putra-putra Destarata yang masih hidup mengeroyok Bima. Mereka menyerang dari segala penjuru. Bima menghabisi mereka semua. Putra Batara Bayu itu menuntaskan amarahnya yang telah dipendam selama tiga belas tahun sejak Drupadi dipermalukan di tempat pertemuan itu. Katanya pada dirinya sendiri: "Hidupku tidak sia-sia karena aku telah menuntaskan dendamku. Sekarang, aku tinggal membunuh Duryudana." Wajahnya menyunggingkan senyum yang dingin.
Sengkuni memimpin serangan pada pasukan Pandawa yang dipimpin Sadewa. Setelah bertempur beberapa lama, Sadewa melepaskan anak panah yang berujung sangat tajam ke arah Sengkuni. Katanya: “Hai, dungu! Inilah hadiah untuk perbuatan-perbuatanmu yang jahat!” Panah itu tepat mengena leher Sengkuni seperti pedang. Kepala Sengkuni, biang semua kejahatan Kurawa, menggelinding ke tanah.
Tanpa pemimpin, pasukan Kurawa kocar-kacir dan berlarian ke sana kemari. Kata Sanjaya kepada raja buta itu ketika menceritakan kekalahan pasukannya: “Demikianlah, pasukan Paduka yang terdiri dari sebelas divisi nacur berantakan. Dari beribu-ribu tentara yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi kita. Sekarang, tinggal Duryudana yang masih hidup di medan perang. Ia tampak kelelahan dan penuh luka.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


