Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Gelora Bahana Suksesi

Rabu, 1 Juli 2015

KISUTA.com - Dewi Sukesi tersenyum di taman istana Panglebur Gangsa, ditemani Limbuk dan Cangik.

Limbuk: Kok senyum-senyum sendiri...ada apa tuan putri...

Cangik: Iya Den Ayu, Tuku ayam neng Kalasan, mulihe nderek ndoro kanjeng... mesam mesem kebablasan, akhire malah gendeng.

Limbuk: Hus...simbok ki kok malah ngece lho...

Cangik: Ya momongan kita ngga ngomong apa-apa malah senyum-senyum sendiri itu maknanya apa hayo?

Dewi Sukesi: Biyung Cangik lan Limbuk, jangan khawatir, aku cuma geli mengingat kejadian kemarin dengan paman Jambumangli...

Limbuk: Ada apa dengan ndara Jambumangli kok membuat tuan putri geli?

Dewi Sukesi: Hhmm...aku tahu sebenarnya Paman Jambumangli punya -perasaan cinta padaku...tapi aku ogah..masa hidupku hanya berakhir bersama yaksa yang bukan raja, brahmana apalagi dewa...Sukesi harus bersuamikan laki-laki pilih tanding sekelas dewa...

Cangik: Walah...walah..nyebut Den Putri...tanpa sadar, paduka ini sudah ketempelan watak jumawa...hati-hati ..Bener luput ala becik lawan begja, cilaka apan saking, ing badan priyangga, dudu saka wong liya, pramila den ngati-ati, sakeh dirgama, singgahana den eling....tuan putri, ingatlah, Benar salah baik buruk juga keberuntungan, atau celaka itu tergantung diri sendiri, bukan dari orang lain, oleh karenanya berhati-hatilah, waspada terhadap segala ancaman...dan ancaman terbesar itu datang dari diri sendiri, ketika ke'aku'an sudah mulai menguasai meninggalkan sikap waspada...

Dewi Sukesi: Ah apa salahnya, punya keinginan dan cita-cita kalau kita sadar punya kemampuan meraih cita-cita itu...

Limbuk: Memangnya cita-cita tuan putri apa?

Dewi Sukesi: Aku memiliki kecantikan dan tubuh molek hampir sempurna, tentu tidak sembarangan laki-laki boleh menyentuhku...kalau bersuamikan dewa menjadi sulit untukku..paling tidak suamiku harus setara dengan dewa...

Cangik (mengernyitkan dahinya, mulai khawatir dengan kesombongan Sukesi) : Lalu apa hubungannya dengan Detya Jambumangli?

Dewi Sukesi: Hihihi...aku mencoba membuktikan, apakah kemolekan tubuhku dan kecantikanku bisa kugunakan meruntuhkan iman laki-laki. Kemarin, saat Paman Jambumangli sedang melatih para prajurit, aku sengaja mendekat ke hadapannya, aku buang saputanganku di hadapannya, dan merunduk mengambilnya perlahan-lahan, aku lirik dia dengan sudut kerlinganku...hihihi...laki-laki seperkasa itu...kelihatan ciut memejamkan matanya rapat-rapat saat menatap belahan dadaku yang berdekatan dengan raganya...(Sukesi terkekeh genit)

Cangik (mulai merasa jijik dengan kegenitan Sukesi): Tobat..tobat..sungguh tidak terpuji den Ayu...itu prilaku yang tercela..kalau den Ayu memang tidak sudi dengan Detya Jambumangli, mengapa harus menggodanya?


Dewi Sukesi: Biyung Cangik, sudah aku katakan...aku harus yakin, bahwa aku punya sesuatu untuk meruntuhkan iman para pria...tidak akan ada pria yang sanggup menolakku. Semalam, aku sudah merapal mantra pegat raga nganglang sukma, untuk coba menjelajah siapa laki-laki perkasa pilih tanding setara dewa...ternyata ada brahmana di gunung Giri Jembatan yang ilmunya sudah putus...sakti dan waskita..sayangnya sudah beristri dan beranak...

Limbuk: Waduuuh Lakor ?? Laki Orang....ya jangan lah tuan putri, dosa itu...

Dewi Sukesi: Dosa apa...? Kalau dia yang tergoda, ya biar dia yang menanggung dosanya...aku akan menikmati apa yang bisa aku raih biyung...

Sukesi benar-benar terperangkap pada nafsu dan ambisinya sendiri, pengaruh batari Durga yang menyusup menggoda sukmanya, sebenarnya tidak akan merasuk jika nurani Sukesi tidak tertutup oleh nafsu yang sudah menguasainya.

Nafas Detya Jambumangli memburu, pikirannya kacau badannya menggigil menahan gejolak jiwanya, permintaan rakandanya Prabu Sumali agar dia mau menjadi jago sabung, untuk sayembara mencari jodoh bagi Dewi Sukesi, seakan memupuskan keinginannya memiliki keponakannya itu untuk dirinya sendiri.

Beberapa saat lalu, lirikan manja, usapan lembut keponakannya yang jinak-jinak merpati seakan menaikkan harapannya, bahwa keponakannya itu juga ada rasa padanya. Jambumangli bertekad mendengar sendiri dari Sukesi, apakah dia sekedar jago sabung, atau masih ada harapan memiliki sekar kedaton itu...

Jambumangli :hueyy...nduk cah ayu...tolong redakan amuk asmara di dada pamanmu ini...ramamu minta pamanmu ini menjadi Jago Sabung untukmu mencari jodoh...kamu tahu kesaktianku...bagaimana kalau tidak usah ada sandiwara, langsung saja kamu ladeni pamanmu ini jadi istri terkasihku...

Dewi Sukesi: Paman Jambumangli...jangan begitu Paman, memangnya Sukesi ini siapa ? gadis yang tak laku ? sampai mencari jodoh saja hanya menyerah mencari dari keluarga sendiri...tidak paman...sayembara itu tetap harus di laksanakan...

Jambumangli: Nduk cah ayu...apa kamu tidak kasihan dengan pamanmu ini...aku ini cinta dan sayang kamu lho...yakinlah bahwa aku sanggup membahagiakan kamu...(Jambumangli mulai mendekat, berusaha meraih tangan Sukesi, tetapi ditepiskan dan Sukesi beringsut menjauh).

Dewi Sukesi: Paman...kalau paman mencintai Sukesi...tentu paman rela Sukesi memiliki suami yang pinunjul segala-galanya...berkacalah paman, apakah kita sebanding ?..tidakkah Paman ingin melihat keponakanmu ini bahagia memiliki suami yang bukan hanya cakap di penampilan tapi juga sakti dan wasis...Paman memang Sakti, tapi bagaimana dengan penampilan dan kawaskitan paman...maaf paman (Sukesi bergegas meninggalkan Jambumangli, yang terbelalak tidak menyangka Sukesi akan menghinanya sedalam itu. Menggelegak darah di tubuhnya, tekadnya pasti...siapapun laki-laki yang mencoba mendapatkan Sukesi akan ajur mumur di tangannya...sampai habis calon, dan Sukesi menyerah padanya).

Di Kerajaan Lokapala, Prabu Danaraja menerima kehadiran ayahnya Begawan Wisrawa yang berkunjung dari Giri Jembatan. Sang Prabu yang bijak ini memberikan kesempatan pada ayahnya dan Ibunya Dewi Lokati untuk melepas rindu sebagai suami istri. 3 hari 3 malam ayah ibunya menenggelamkan diri pada madu asmara di istana utara tempat kediaman Dewi Lokati, baru pada hari ke 4, ayah, ibu dan anak itu berjumpa di dalem pringgitan...

Danaraja: Kanjeng Rama..betapa bangga dan bahagianya ananda, memiliki ayah dan ibu seperti kanjeng rama dan ibu...paduka berdua pinunjul dalam ilmu dan olah bathin...juga selalu asah asih asuh satu sama lain...

Wisrawa: Danaraja...Rama memang beruntung memiliki istri seperti ibumu. Wanita pilihan yang komplit dalam segala hal..terima kasih bahwa engkau telah memberi kesempatan ramamu, mencurahkan kerinduan pada ibumu yang jelita ini..(Sang Begawan memeramkan matanya seakan mengingat kenikmatan yang telah direguknya bersama Dewi Lokati...tanpa sadar, ingatan godaan bayangan Sukesi dengan tubuh molek hampir telanjang di dalam goa pertapaannya, tiba-tiba datang membuyarkan ingatannya..Wisrawa kaget..reflek, dia goyangkan kepalanya...nafasnya mulai memburu. Dewi Lokati adalah wanita sakti yang memiliki kedalaman ilmu bathin. Bahasa tubuh Wisrawa menunjukkan isyarat ada sesuatu yg mengganggu pikiran sang begawan. Lokati mengernyitkan dahinya).

Lokati: Ada apa kanda...tiba-tiba seakan ada sesuatu yang mengganggu ketentraman paduka.

Wisrawa: (seakan dibangunkan dari bayangan yang menggodanya..Wisrawa segera memusatkan ilmunya untuk menutup alam pikirannya, karena dia tahu Dewi Lokati memiliki ilmu untuk membaca pikiran orang)..Ooh..diajeng Lokati, tidak apa-apa..aku hanya membayangkan betapa bahagianya jika anak kita bisa nurun, mendapatkan putri pilihan sepertiku...bukan hanya sekedar cantik jelita, tapi juga pinunjul dan waskita...

Lokati: (tersenyum maklum...Lokati tahu suaminya telah menutup panca indera, berarti ada sesuatu yang disembunyikan Wisrawa yg takut terbuka olehnya) Hmm..kakang, semuanya itu tergantung ijin dan suratan Hyang Widi Wasa...anak kita wajib mengupayakan keinginannya dan sebaiknya kita membantu dan mendukungnya.

Danaraja: Kebetulan sekali, Rama dan Ibu, di kerajaan Panglebur Gangsa, Dewi Sukesi putri Prabu Sumali sedang membuka sayembara pilih jodoh. Syaratnya adalah calon yang terpilih harus memiliki kemampuan kanuragan yang tinggi dan kawaskitan mampu medar Sastra Jendra Hayuningrat.

Senyap seketika suasana dim pringgitan...anginpun lupa bertiup ketika Danaraja mengucapkan kalimat Sastra Jendra Hayuningrat.

Wisrawa: Jagad Dewa Bathara ya jagad pangestungkara...hhmmm darimana Sukesi tahu soal Sastra Jendra Hayuningrat ?..itu adalah ilmu rahasia, ilmu kuno yang tidak sembarang orang memilikinya...untuk mendapatkan ilmu itu, aku harus menempuh laku tapa geni 7 purnama..mengalahkan Begawan Wismamitra...sampai Sanghyang Girinata sendiri mempercayakan ilmu itu sebagai agemanku...dan ilmu itu harus aku jaga kerahasiaannya....hhmm...

Danaraja: Ah, berarti Kanjeng Rama memiliki ilmu itu ?...bisakah Rama mengajarkannya kepada saya, agar anakmu ini sempurna memiliki kemampuan untuk mendapatkan Sukesi ?
Wisrawa: Danaraja, bukannya Rama tidak mau mengajarkan ilmu itu kepadamu...tapi seperti telah aku katakan tadi, ilmu itu adalah ilmu rahasia milik para dewa, yang harus di dapat dengan lelaku yang berat. Kalau cuma medar (menjelaskan) tentu tidak menjadi masalah tetapi mengajrkan, menularkan ilmu itu...sungguh berat akibatnya...hhmm..Rama akan menularkan ilmu Rawarontek..salah satu ilmuku yang terhebat untukmu. Ilmu itu tidak bisa membuatmu pralaya sepanjang masih terkena tiupan bayu, pengapesannya baru terjadi kalau ilmu itu lepas dari tubuhmu...

Danaraja: Aah..terima kasih Rama...apakah tidak masalah Rama turunkan ilmu itu pada saya.

Wisrawa: hahaha...aku masih memiliki ilmu lainnya...tentu saja aman, asal engkau tidak menghadapi Ramamu ini sebagai musuh setelah menerima Rawarontek.

Danaraja: Rama, setelah lengkap memiliki kanuragan, ananda masih belum komplit untuk mendapatkan Sukesi, karena salah satu syaratnya adalah medar Sastra Jendra Hayuningrat...bagaimana ini?

Wisrawa: Danaraja...engkau adalah raja besar...Panglebur Gangsa hanya kerajaan kecil di bawah Alengkadirja yang sudah menjadi daerah jajahanmu. Untuk melamar Sukesi, rasanya tidak perlu engkau sendiri yang turun tangan. Serahkan dan wakilkan pada ayahmu ini...akan aku bawakan Sukesi sebagai permaisurimu.

Prabu Danaraja merasa mantap mendengar janji ayahnya. Sementara Dewi Lokati merasakan ancaman prahara yang akan terjadi. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ilmu rahasia, yang seharusnya tidak boleh sembarangan dibabar atau dikeluarkan terutama bagi jiwa jiwa yang belum siap, jiwa jiwa yang masih dikotori nafsu duniawi, Sang Dewi memutuskan ngebleng masuk sanggar pamujan untuk mengiringi langkah suaminya, berangkat ke Panglebur Gangsa, mewakili anak mereka Danaraja, mengikuti sayembara memperebutkan Sukesi.*

Ira Sumarah Hastuti Kusumastuti - kisuta.com

 


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya