Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu
KISUTA.com - Hari yang cerah, Prabu Sumali tampak sumringah menerima kehadiran Resi Wisrawa, yang datang sebagai duta Raja Danareja dari Lokapala.
Prabu Sumali: Ho hoho ho ho..Kanda Begawan, merupakan kehormatan besar bahwa prabu Danareja puteramu, berkenan menunjuk kakanda sebagai duta...
Wisrawa: Yayi Sumali...ya, aku ikhlas mewakili putraku yang masih disibukkan dengan tugasnya sebagai raja besar dari beberapa negara perserikatan di bawah Lokapala.
Prabu Sumali: Kakanda Begawan tentu tahu, syarat memenangkan pinangan ini ada dua. Yaitu mengalahkan Jambumangli adikku dan medar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu...kalau boleh aku tahu Kakang...apa sebenarnya Sastra Jendra Hayuningrat itu?
Wisrawa: Yayi Sumali, ketahuilah Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah suatu ilmu untuk mengenal nafsu-nafsu dari diri pribadi. Nafsu tersebut kemudian dipupuk, dikendalikan dan dikembangkan dibawah kepemimpinan kesadaran yang bersifat jujur dan baik. Jika sudah bisa mengendalikan nafsu tersebut maka itu merupakan kunci memahami “isi indraloka” pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga dada manusia, sebagai pusat Rasa Gaib, bersumber pada Sang Khalik yang Maha Gaib.
Prabu Sumali: Hadiew...mumet, pusing aku kakang...
Wisrawa: Sastra Jendra adalah “benih ilmu seluruh alam semesta” dan sebagai kunci untuk memahami Rasa Sejati … dengan selalu melakukan mawas diri… untuk mengetahui gerak-gerik Nafsu manusia yaitu Amarah, Aluamah, Supiah, dan Mutmainah…
Prabu Sumali pusing mendengarkan pengantar Begawan Wisrawa tentang hakekat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Oleh karena itu dipersilahkannya Begawan Wisrawa melaksanakan persyaratan sayembara.
Sayembara Pertama, mengalahkan Detya Jambumangli berlangsung dengan seru, Jambumangli mengeluarkan seluruh kesaktian dan keahliannya memainkan senjata pusaka. Namun yang di hadapinya adalah Begawan Wisrawa. Resi keturunan dewa yang sakti mandraguna dan sudah menguasai Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Pukulan bak Halilintar Jambumangli di tepis dengan tangkisan yang bagaikan kapas membungkus lembut pukulan dan tamparan itu. Tubuh Resi Wisrawa melenting lincah, mempermainkan buasnya tendangan Jambumangli yang akhirnya seperti kehabisan nafas berhadapan dengan Resi Wisrawa. Tak lama kemudian tamparan Resi Wisrawa di telinga kanan Jambumangli membuat Yaksa itu pingsan tak berdaya.
Di balik tirai Dewi Sukesi memperhatikan pertempuran dengan mata berkilat, sesekali senyum tersungging di bibir mungilnya. Pikirannya melayang, angannya dia lepaskan liar, tubuh Wisrawa yang berkeringat dengan otot tersembul di tangan dan betisnya, menggoda pikiran nakal Sukesi. “Hmm, boleh juga Begawan ini, tubuhnya masih bagus, usianya bahkan membuat penampilannya begitu matang, gurat-gurat kegantengannya menambah nilai keseluruhan sebagai laki-laki pinunjul.” Sukesi terus memainkan angan-angannya.
Dengan kemenangan Wisrawa, Prabu Sumali mempersilahkan Wisrawa manjing ke keputren, untuk medar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, langsung kepada Dewi Sukesi secara pribadi.
Syahdan di Kahyangan Jonggring Saloka, Bathara Guru dan Bathara Narada terlibat diskusi serius menanggapi ulah Sukesi dan Wisrawa ini.
Batara Guru: Kakang Kanekaputra...hawa di Jonggring Saloka ini mulai terasa panas tidak wajar...saya rasa ini karena Wisrawa sudah mulai sembarangan medar sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu...
Narada: Oooeyyy...mbleh gedumbleh...pringweling ditumpuk tumpuk...ora eling marakke bubruk...ya Adi Guru..kaki Wisrawa memang kebangetan..anugrah ilmu kadewatan seperti itu, seharusnya di jaga dengan taruhan nyawa, bukan malah buat ndel-ndelan...dipamerkan untuk mencari pujian..Ilmu sejati itu harus di dapat melalui lelaku, ada prosesnya..Ilmu iku kelakone kanthi laku...kalau mau gampang dapat ilmu seperti Sukesi dan sebenarnya belum siap...we lha malah bubrah Adi Guru...
Batara Guru: Sepertinya mereka perlu tahu bagaimana rusaknya keadaan kalau ilmu diterapkan bukan pada orang yang siap menjalankan ilmu itu...hmm..pada diri Sukesi sudah manjing nafsu Batari Durga, biarlah saya genapi memanggil Batara kala untuk manjing ke sukma Wisrawa...
Awan gelap bergulung-gulung menuju Panglebur Gangsa, tiupan angin tipis membawa hawa anyir masuk ke peraduan Dewi Sukesi, disana Sukesi sedang meloloskan busananya satu persatu, dengan tatapan nanar Wisrawa yang seperti terjerat tak mampu menolak asmara dahana yang merambat meremas nafsunya keadaan ini diperkuat dzat Batara Kala yang mulai manjing disaat kewaspadaan Wisrawa goyah.
Sukesi: kakang...mari lepaskan kendalimu atas Amarah, Aluamah, Suwiyah dan Mu'tamar Jrbtmuinah...terapkan ke ragaku...bukankah engkau sang pengendali...pangruwating diyu...aku keturunan yaksa...sang diyu itu sendiri...ruwatlah aku kakang...(Sukesi meraih tangan Wisrawa, di belai-belaikannya tangan itu ke bagian tubuhnya yang indah...badar seluruh pertahanan Wisrawa...dua anak manusia itu diamuk nafsu syahwat yang menggelora...permainan cinta ala Batari Durga dan Batara Kala, yang membuat nafas mereka menderu, tingkah mereka tak patut di lukiskan).
Di saat dua anak manusia itu sedang terlena di amuk syahwatnya...Detya Jambumangli sadar dari pingsannya, ketika menyadari Wisrawa sudah manjing keputren bahkan masuk ke peraduan Sukesi, Jambumangli mbarang amuk, menggedor-gedor pintu peraduan Sukesi sambil berteriak teriak : “ Wisrawa...kurang ajar kamu, sebelumnya aku menghormati kamu sebagai pertapa agung. Bekas Raja Gung Binatara kekasih dewa...tapi lihat sekarang, ternyata tingkahmu hina seperti laku anjing yang tidak dapat menahan birahi...kemana ingatanmu pada anak istrimu ?...katanya mencarikan istri anakmu..huueiiii, itu kamu gaglak sendiri Sukesi...!!!
"Sukesi !!! perempuan jalang murahan..begawan tua suami orang kamu bukakan kutang...apakah ini harga diri dan kehormatan yang kamu kejar...dasar dua makhluk rendahan...!!!"
Teriakan-teriakan Jambumangli membuat para prajurit membuat kalangan, mereka sadar inilah tantangan hidup dan mati, dari dua jiwa yang memperebutkan Sukesi.
Wisrawa yang baru selesai menunaikan hasratnya pada Sukesi, terbelalak mendengar hinaan Jambumangli, dengan pakaian tak utuh dan rambut riap-riap, Wisrawa merangsek keluar. Tanpa bicara di serangnya Jambumangli dengan tendangan dan tamparan kilatnya. Jambumangli terdesak oleh serangan Wisrawa. Ilmu Jambumangli yang memang kalah jauh dari Wisrawa, membuatnya menjadi bulan-bulanan tendangan Wisrawa. Dengan badan yang sudah lebam semua, Jambumangli terkulai tak berdaya. Saat itu hilanglah semua sifat kapanditan Wisrawa, nafsu amarah sudah mencengkeramnya. Saat Jambumangli sudah tidak berdaya, di cabik-cabiknya raga Jambumangli dengan bengis dan kejam...Wisrawa sudah seperti bukan manusia...Sukesi yang mengintip dari teras keputren hanya dengan berkemben, menyeringai sinis, seakan mengaminkan tindakan Wisrawa, yang dianggapnya membela dia...wanita yang dicintai Wisrawa, tersungging senyum puas di sudut bibir Sukesi. Begitulah nasib orang yang berani menghinanya di tangan Wisrawa.
Kematian Jambumangli dan kekejaman Wisrawa menyisakan duka mendalam di hati Permaisuri Danuwati dan Prabu Sumali, mereka tidak mengira seorang Begawan luhur bisa berprilaku seperti binatang, dan anak perempuan mereka seakan tak punya harga diri..Dewi Danuwati menjerit, rebah pingsan di bopong Prabu Sumali..setelah Dewi Danuwati siuman, dia terus menangis merintih, Prabu Sumali menemaninya dengan setia..menghiburnya dengan bersama-sama berdoa memohon ampunan atas prilaku anak mereka. 3 hari kemudian, permaisuri Danuwati mangkat karena duka nestapanya...bahkan pada saat perabuan jenasah sang Permaisuri, kedua pasangan Wisrawa dan Sukesi tidak juga hadir karena sibuk menjalani hubungan liar mereka dengan alasan mempelajari Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu.
Masa merangkak liar, hari berganti bulan, 9 purnama telah lewat...Dewi Sukesi sudah mengandung besar, dan mulai menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.
Bersama lolong serigala yang bersahut-sahutan Dewi Sukesi melahirkan Gumpalan darah sebesar Gunung Anakan, dari gumpalan darah merah, setelah di bersihkan, muncullah bayi mengerikan yang mukanya terkadang berbayang menjadi 10 muka, dengan warna merah darah, matanya menyorotkan kebengisan, nafasnya menderu seakan memacu ambisinya akan kekuasaan...inilah lambang nafsu Amarah, yang terbawa dalam hubungan asmara liar mereka. Bayi ini diberi nama Dasamuka.
Dari gumpalan darah hitam setelah dibersihkan tampaklah bayi yang besar dengan kuping lebar, mulutnya terus mengeluarkan liur seakan kelaparan terus, warna hitam yang menyelimutinya melambangkan nafsu Aluamah, nafsu kelaparan dan tidak pernah terpuaskan untuk makan dan tidur, bayi ini di beri nama Kumbakarna.
Di antara gumpalan darah tampaklah gumpalan daging yang tangan-2nya memiliki kuku panjang-panjang, kulitnya berwarna kuning melambangkan nafsu Suwiyah, nafsu bersolek, haus pujian dan kekuasaan. Bayi ini diberi nama Sarpakenaka.
Sejak melahirkan bayi-bayinya Sukesi mulai uring-uringan, timbullah kekecewaan melihat penampilan anak-2nya...dia seorang wanita jelita, Wisrawa pun laki-laki rupawan mengapa anak-anaknya bisa sejelek itu.
Kekecewaan Sukesi makin menjadi-jadi, kekecewaan yang akhirnya membawa suasana panas hubungannya dengan Wisrawa.
Senja itu Begawan Wisrawa menepi ke telaga setelah cek cok dengan Sukesi yang tidak mau menyusui bayi-bayinya. Ditingkah semilir angin lamunan Wisrawa tiba-tiba ditepiskan kehadiran bayangan semburat Dewi Lokati di pinggir telaga. Dzat Kala yang masih merasuk di sukmanya berusaha menarik kesadaran Wisrawa, namun kesaktian Dewi Lokati yang hampir sejajar dengan Wisrawa telah menghalau dzat itu hingga oncat dari tubuh Wisrawa. Begawan Wisrawa lunglai di tepi telaga, sayup-sayup didengarnya suara lembut Dewi Lokati.
Lokati: Kanda Resi...apa yang telah kanda lakukan...
Wisrawa: Tobat...aduh tobat Lokati...ampuni aku duhai juwitaku...
Lokati: Hhmm, kanda resi... menawa jengandika kasinungan ngelmu kang marakake wong akeh seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Sang Khalik mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka mau, sira banjur kaya wong seje (owah), malah bisa “aji godhong jati aking” ...inilah yang terjadi kanda...kanda merasa ilmu kanda sudah sedemikian tinggi hingga bisa berbuat apa saja, kanda lupa ilmu itu bukan milik kanda pribadi, ketika ilmu itu di cabut, kita akan seperti orang hilang arah...sungguh dinda kecewa melihat patrap kanda.
Wisrawa: Aku salah Lokati..Ooo akun salah..ternyata aku lemah tergoda perempuan seperti Sukesi, maukah engkau memaafkanku dan menerimaku kembali Ooo Lokati...(suara Wisrawa menghiba meminta maaf).
Lokati: Kanda, mudah bagiku memaafkanmu..jika engkau bisa bertobat dan menunjukkan penyesalan yang tulus...tetapi luka itu sudah menjadi parut...kerusakan sudah mulai engkau ciptakan dengan lahirnya anak-2mu yang membawa dosa-dosa nafsumu....selesaikanlah urusanmu di dunia ini. Aku tidak dapat membantumu, menyelesaikan kerusakan yang engkau mulai...Engkau yang menikmati, engkau pulalah yang harus bertanggung jawab...
Bayangan Dewi Lokati menipis dan akhirnya pudar menyisakan rasa sakit dan lemas di sekujur badan Wisrawa. Penyesalan selalu datang terlambat...Disaat seperti itulah Batara Narada datang.
Narada: Ooeyyy...kaki Wisrawa..bagaimana kaki, sudah puas kamu menikmati keduniawian yang memabokkan...
Wisrawa: Aduh katiwasan pukulun...apa maknanya hingga tadi saya merasa berjumpa dengan kekasih hatiku sesungguhnya Dewi Lokati?
Narada: Ya Wisrawa, perbuatanmu yang durhaka mengkhianati istrimu Dewi Lokati yang begitu setia dan berbhakti padamu, adalah bentuk ke dzoliman...karena itu Sanghyang Girinata, mengangkat jiwa dan raga Dewi Lokati untuk moksa, dan menjadi bidadari di Surga, berdampingan dengan Batari Saraswati menjadi Dewi ilmu pengetahuan. Kebesaran hati istrimu, telah membuatnya di beri kesempatan untuk pamit denganmu...itulah tadi pertemuan terakhirmu dengan Dewi Lokati..yang sekarang sudah menjadi Batari Lokati...
Wisrawa : Jagad dewa batara, duh pukulun bolehkah kelak saya dipersatukan kembali dengan dinda Lokati?
Narada: Hhmm Wisrawa, kerusakan yang engkau timbulkan akibat moral syahwatmu yang tidak terjaga, membuatmu kehilangan kesempatan untuk menjadi Dewa...tetapi, kalau engkau mau bertobat, dan mengakhiri hidupmu sebagai ksatria utama, sambil menyesali kesalahanmu dan memulihkan luka orang-2 yang engkau sakiti termasuk anakmu Danaraja..Sanghyang Girinata akan mengangkat sukmamu sebagai Wasu (manusia setengah dewa), yang kelak akan menitis pada satria utama yang akan menuntaskan pembersihan dosa-dosamu....Pulanglah Wisrawa, bersihkan sanubarimu, dan sanubari Sukesi dari kekotoran syahwat kalian...Ingatlah Dereng nedya pamer utawa riya iku kadhang muncule dadakan kaya-kaya tanpa rinasa ing nalika kita pinuju sesrawungan karo wong liya. Mula prayoga kita tansah waspada ngendhaleni dhiri. Dene kang kinaran dereng utawa nafsu seneng pamer kang gampang dineleng lan sineksen dening wong liya iku aran riya kang pratela utawa ngedheng. Becik kita singkiri. Wondene dereng sajroning laku panembah, arang kang bisa disumurupi wong liya. Luwih-luwih yen lagi kapinuju ana ing papan kang sepi. Sok ngonowa elinga yen Gusti Allah iku tansah ngudaneni...Wisrawa, Nafsu pamer atau “riya” kadang muncul mendadak saat kita bertemu orang lain.Karena itu hendaknya kamu waspada dan bisa mengendalikan diri. Nafsu pamer yang mudah dilihat dan disaksikan orang banyak adalah “riya” yang nyata. Sebaiknya kita hindari. Disisi lain nafsu beribadah jarang dilihat orang lain, lebih-lebih bila kita sedang berada di tempat sepi... Jangan lupa, Sang Khalik tetap dapat menyaksikan, apa yang disembunyikan oleh manusia.
Wisrawa menganggukkan kepala, memahami maksud dan nasehat Narada, dengan tertunduk lesu, wajah kuyu dan langkah gontai Wisrawa kembali ke Panglebur Gangsa.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


