Duryudana
KISUTA.com - Setelah sia-sia berjuang keras menggalang kembali pasukan yang telah jatuh moralnya, Duryudana mengambil gadanya dan berjalan menuju telaga. Seluruh tubuhnya seperti terbakar. Dia ingin membasahi tubuhnya dengan air. Katanya pada diri sendiri sembari menceburkan diri ke dalam air: "Widura yang bijak tahu apa yang akan terjadi dan ia telah mengatakannya kepada kami."
Apa gunanya kesadaran yang datang terlambat? Setiap perbuatan pasti akan membawa buah yang sepadan. Demikianlah hukum kehidupan.
Yudhistira dan para Pandawa terus mencari Duryudana. Akhirnya mereka tiba di tepi telaga dan menemukan Duryudana.
Kata Yudhistira lantang: "Duryudana, setelah membawa kehancuran pada sanak saudara dan sukumu, apakah engkau akan menyelamatkan diri dengan bersembunyi di telaga seperti ini? Mana keangkuhanmu itu? Apakah engkau tidak tahu malu? Ayo kita bertarung! Buktikan engkau terlahir sebagai kesatria yang tidak takut bertarung dan mati!"
Mendengar kata-kata itu, Duryudana menjawab dengan gagah: "Dharmaputra, aku ke sini bukan untuk menyembunyikan diri. Bukan pula karena takut. Aku ke mari karena kehausan dan sekujur badanku terasa panas. Aku tidak takut mati. Aku juga tidak ingin hidup lebih lama lagi. Apa gunanya bertempur lagi? Dunia ini tidak berarti apa-apa lagi bagiku. Semua orang yang mendukungku telagh tiada. Aku tidak menginginkan kerajaan lagi. Aku serahkan semuanya kepadamu. Nikmatilah kedaulatanmu, tidak akan ada lagi yang mengganggu."
Jawab Dharmaputra: "Alangkah baiknya engkau sekarang. Dulu, katamu engkau tidak akan memberikan sejengkal tanah pun pada kami. Ketika kami mengusulkan perdamaian dan meminta warisan bagian kami, engkau menolak mentah-mentah. Sekarang, engkau katakan kami boleh mengambil semuanya. Kami berperang bukan untuk merebut kerajaan atau tanah. Apakah aku harus menyebutkan semua dosamu? Perbuatan-perbuatan jahat kalian pada kami dan penghinaan yang kalian lakukan atas Drupadi hanya bisa dibayar dengan nyawamu."
Kepada raja tua yang buta itu Sanjaya menceritakan peristiwa itu: "Mendengar kata-kata Dharmaputra yang tajam dan keras, Duryudana langsung bangkit berdiri, keluar dari air dengan gada di tangan."
Ketika keluar dari air, Duryudana yang malang berkata: "Ayo maju, satu per satu! Aku sendirian. Kalian berlima tentunya tidak akan mengeroyokku yang tanpa baju perang dan lemah penuh luka."
Jawab Yudhistira tajam: "Jika mengeroyok satu orang memang tidak dibenarkan, coba katakan bagaimana kalian menyerang dan membunuh Abimanyu? Bukankah engkau membiarkan pasukanmu mengerorok dan menyerang Abimanyu yang sendirian? Dasar mausia jahat! Ketika terpojok tidak berdaya, kau baru sadar dan bicara tentang dharma dan kesatrian. Ayo kenakan baju perangmu. Pilih salah satu dari kami untuk bertarung denganmu! Matilah dan masuk surga atau menang dan jadi maharaja!"
Maka terjadilah pertarungan yang sengit antara Bima dan Duryudana. Api memercik setiap gada mereka beradu. Bima dan Duryudana sama kuat dan tangkas. Pertarungan itu berlangsung lama. Sulit untuk memperkirakan siapa yang akan menang.
Mereka yang melihat pertarungan itu memperlihatkan siapa yang akan menang. Krishna berkata kepada Arjuna: "Bima akan menuntaskan sumpah yang dia ucapkan di ruang pertemuan dan meremukkan paha Duryudana." Bima mendengar pembicaraan itu. Seketika itu juga ia teringat saat-saat Pandawa dipermalukan di depan umum. Dengan garang, dia melompat dan menerjang Duryudana. Dia hantam dan patahkan paha Duryudana dengan sekuat tenaga. Putra mahkota Kurawa itu roboh, lemas tidak berdaya. Tanpa membuang waktu, Bima langsung menerjang tubuh yang tidak berdaya itu. Ia injak kepala Duryudana dengan kakinya yang besar dan berat. Kemudian, ia menari-nari kegirangan.
Teriak Dharmaraja: "Bima, hentikan! Dia telah membayar utangnya. Duryudana adalah putra mahkota dan sepupu kita. Tidak pantas engkau menginjak-injak kepalanya." Kata Krishna: "Tidak lama lagi manusia jahat ini akan mati. Hai anak-anak Pandu, Duryudana dan orang-orangnya telah ditumpas habis. Ayo kita tinggalkan tempat ini."
Mendengar kata-kata Krishna, wajah Duryudana yang semula redup tiba-tiba menyala karena amarah dan kebencian. Ia tatap Krishna dengan pandangan berapi-api. Katanya: "Dengan tipu daya yang kotor, kau membuat para kesatria yang bertempur dengan gagah berani dan sesuai dengan tradisi kesatria dan aturan tewas. Kau tidak mungkin menang dalam pertarungan yang jujur melawan Karna, Bhisma, atau Durna. Apakah engkau tidak merasa malu?"
Saat sekarat pun, Duryudana sama sekali tidak menampakkan penyesalan atas kejahatan-kejahatan yang dia lakukan.
Kata Krishna: "Duryudana, tidak ada gunanya engkau menyalahkan orang lain. Keserakahan dan ambisimu pada kekuasaanlah yang membuatmu menimbun dosa dan kejahatan. Sekaranglah saatnya engkau menuai buah perbuatanmu."
Jawab Duryudana: "Bedebah! Semasa hidup, aku adalah putra mahkota besar, sahabat yang murah hati, dan musuh yang disegani. Semua kesenangan yang diinginkan semua orang dan bahkan oleh raja sekalipun telah kunikmati sepuas-puasnya. Kini, kematian sebagai kesatria adalah kehormatan besar bagiku.
Setelah mati, aku akan segera menggabungkan diri ke surga bersma para sahabat dan saudaraku yang telah menunggu. Sementara itu, kalian akan tetap tinggal di sini. Tidak ada lagi yang kalian tuju dan kalian hanya akan menjadi sasaran kutuk dan caci kaum kesatria. Aku tidak peduli Bima menginjak-injak kepalaku sementara aku terbaring tidak berdaya dengan kaki patah. Apa peduliku? Tidak lama lagi gagak dan burung bangkai akan menyantapku dan hinggap di kepalaku." Ketika Duryudana berkata demikian, para dewa menaburkan bunga dari kahyangan. Memang, nafsu rendah telah membuat Duryudana banyak meninggalkan jalan dharma, tapi tak seorang pun yang akan mempertanyakan keteguhan jiwa putra Dasarata itu.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


