Penebusan Wisrawa
KISUTA.com - Negeri Lokapala yang Indah, keraton yang megah di puncak bukit ditata dengan model terasering, sungguh melambangkan kemakmuran dan kemegahan tiada tara. Prabu Danaraja yang tampan, mondar mandir di dalem ageng. Mukanya menunjukkan kegelisahan amat sangat, terbayang perjumpaan terakhirnya dengan sang Ibu, Dewi Lokati sebelum sang Dewi Moksa karena diangkat derajadnya sebagai Bidadari Jonggringsaloka.
Dewi Lokati: Anakku Prabu Danaraja, bisakah engkau luangkan waktumu untuk ibumu ini kulup...
Danaraja: Sumangga kanjeng Ibu...ah tiwas kebetulan sekali karena ananda juga ingin meminta pendapat ibu untuk beberapa hal...
Dewi Lokati: Baiklah anakku..sebelum Ibu utarakan keperluan Ibu, sampaikan dulu pendapat Ibu yang mana yang engkau perlukan?
Danaraja: Kanjeng Ibu...kepergian ayahanda meminang Dewi Sukesi di negri Panglebur Gangsa telah memakan waktu lebih dari 10 purnama. Kalau melihat kesaktian Rama...sepertinya waktu selama itu tidak masuk akal...bagaimana menurut pendapat Ibu?
Dewi Lokati: Anakku...sebelum Ibu mengutarakan pendapat..berjanjilah agar engkau bisa mengendalikan dirimu, menata hatimu dan menggunakan kawaskitaanmu sebagai Raja besar Lokapala...
Danaraja: Hhmm...jadi benar telah terjadi sesuatu pada diri Rama Begawan?
Dewi Lokati: Anakku...apapun yang terjadi, lihatlah perjalanan hidup kita, betapa kemuliaan, kehormatan, dan curahan karunia telah kita nikmati, jauh mengatasi orang lain yang mungkin iri melihat apa yang kita miliki...(Lokati menghela nafas panjang).
Danaraja: Kanjeng Ibu, sudahlah sampaikan pandangan Ibu, ananda merasakan sesuatu yang sangat buruk sudah terjadi...dan ibu sedang menentramkan hati ananda, agar ananda tidak murka...seburuk apakah itu Ibu ? (Danaraja adalah Raja Muda sakti mandraguna, yang selain di didik oleh Dewi Lokati dan Wisrawa, Danaraja juga murid pilih tanding dari Hyang Surya dan Hyang Brahma. Rasa bathinnya tahu ada pengkhianatan di keluarga inti nya, tetapi Raja Muda ini tidak mau mendahului takdir, di ajaknya sang Ibu untuk mengurai masalah).
Dewi Lokati: Ya anakku..tidak ada gunanya ibu sembunyikan noda yang sudah ditorehkan ramandamu, ketahuilah kulup...Ramamu telah jatuh dalam dosa...saat medar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu..hasrat kelelakiannya jatuh pada pesona Sukesi. Ilmu itu di terapkan untuk melengkapi rasa syahwat yang menerjang mereka. Sehingga mereka lupa diri...Ngebleng berhari-hari, berbulan-bulan untuk menikmati nafsu yang menggelegak...dan saat ini, hasil dari permainan kotor mereka, telah lahir 3 anak yang semua lahir sebagai yaksa...adik-adik tirimu Danaraja.
Pyaaaar...Gelas minuman di genggaman raja muda itu pecah teremas tangannya, darah mengucur dari telapak tangan sang raja. Bergegas Dewi Lokati merobek selendangnya dan dengan lembut membalut tangan putranya. Tangannya mengusap-usap punggung Sang Raja.
Dewi Lokati: Danaraja..engkau anakku, Raja Besar Lokapala...sabarlah..tarik nafasmu, berpikirlah lebih jernih anakku.
Danaraja: Jagad Dewa Batara....Begawan pinunjul...Ayah yang seharusnya aku sembah dan aku hormati, bertindak seperti ular najis melepaskan nafsunya...Ooo kanjeng Ibu, kemarahan ananda bukan pada kepercayaan sebagai duta yang di khianati..tetapi luka hati seorang anak yang membanggakan orang tua nya, menganggap orang tua nya sebagai panutan... tetapi di hancurkan oleh kenyataan bahwa Sang Panutan itu bersikap hina, khianat mengejar kenikmatannya sendiri..lupa anak istri....Oooo kanjeng Ibu, apakah Ayah seperti ini masih layak di hormati ? di banggakan ? di jadikan panutan ?...Tidak kanjeng Ibu.. ananda akan menyusul ke Panglebur Gangsa...ananda harus mendengar sendiri dari Rama Begawan mengapa dia lakukan pengkhianatan biadab ini...pada Ibu...pada saya...kurang ajar!!!
Dewi Lokati: Danaraja...kalau engkau bisa lebih bersabar.. sekarang giliran Ibu bicara padamu.
Danaraja (menghela nafas) : Ya kanjeng ibu...
Dewi Lokati: Sebelum pertemuan kita ini...beberapa hari yang lalu, Ibu muja semedi, karena perasaan tidak tentram dengan kepergian ayahmu. Dewata memberikan petunjuk gamblang tentang perselingkuhan ayahmu dengan Sukesi...hhmm, sungguh manusia tidak akan mampu menyembunyikan bau bangkai busuk perbuatannya di hadapan Sang Khalik... menampak hal itu, darah ibu mendidih, dengan kemampuan Ibu, hampir Ibu membuat keputusan melabrak dan mengakhiri hidup mereka berdua...tetapi, untunglah itu tidak terjadi...Batara Narada datang mengingatkan Ibu, agar mampu mengendalikan diri.
Danaraja: jadi para dewapun sudah tahu perselingkuhan ini?
Dewi Lokati: Bukan hanya tahu anakku...para dewa punya andil mendorong perselingkuhan ini.
Danaraja: Apa maksud Ibu?
Dewi Lokati: Kesalahan ramamu yang terbesar sebagai Begawan pemegang ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ‘riya’ kesombongan akan pengetahuan nya yang tinggi, yang ingin di pamerkannya pada Sukesi, gadis muda menarik yang menggodanya. Batara Guru kecewa dengan pengendalian diri ramamu yang lemah, akhirnya diutuslah Batara Kala untuk manjing dan memperkuat nafsu ayahmu, sebagai contoh prilaku buruk umat manusia, yang bisa merusak tatanan jagad seisinya.
Danaraja: Hhmm...apapun itu, salah adalah salah kanjeng Ibu...Batara Kala tidak akan mampu manjing di gua garba kanjeng rama, kalau sebelumnya iman kanjeng rama sendiri tidak sedang goyah...sudahlah...tidak perlu ibu bela...Rama sudah mengkhianati kita...kasih kesetiaan Ibu sudah dikhianati...
Dewi Lokati: Para Dewa juga menyayangkan hal ini...betapa Ramamu kehilangan rasa syukurnya beristrikan Ibu, dan memiliki anak sepertimu...seharusnya kehidupan kita bisa di syukuri...(Lokati menarik nafas panjang)...Batara Narada menyampaikan pesan Hyang Girinata...Ibu layak mendapat anugrah sebagai istri yang setia tetapi tetap di dzolimi suami...Ibu akan diangkat ke Kahyangan Jonggring Saloka sebagai bidadari...Ibu bertanggung jawab mendampingi batari Saraswati...menjaga Ilmu Pengetahuan.
Danaraja: (Sesaat matanya berbinar...tangannya meraih ibundanya, dipeluknya sang Ibu..dipandangnya dengan tatapan penuh kebanggaan)...Kanjeng Ibu...paduka memang layak mendapat anugerah itu...Ananda bisa memahami dan ikhlas melepaskan Ibu sebagai bidadari Jonggring saloka.
Dewi Lokati: Terima kasih anakku...sepeninggal ibu, kendalikan dirimu...maafkan ayahmu...percayalah akan ada petaka yang harus dia selesaikan sejalan dengan perbuatannya...engkau boleh menjumpai ayahmu...tapi tetaplah sebagai Raja Besar yang bisa berbesar hati memaafkan sudarmamu.
Di Taman Panglebur Gangsa, Dewi Sukesi mondar mandir seperti tidak genap pikirannya...rambutnya terurai berantakan, kulitnya kusut tak terpelihara...Sukesi rindu belaian Wisrawa, tetapi Begawan itu seakan larut dalam tapanya. Sejak pertemuannya dengan Lokati di tepi telaga, Wisrawa seperti kehilangan selera pada Sukesi. Bayangan dosa dan tingkah selingkuhnya terus berkejaran mencengkeram penyesalannya. Wisrawa menenggelamkan diri dalam upaya pertobatannya, sudah 3 hari 3 malam Begawan ini khusuk memohon ampunan, sampai muncul bayangan Lokati menggugah kekhusukannya.
Lokasti: Kakang..bangunlah..jumpai Sukesi ajaklah manembah untuk mengurangi kerusakan yang telah kalian perbuat.
Wisrawa: Oo Lokati, ampuni aku Dewiku...sudahlah, aku tidak akan mendekati Sukesi lagi....
Lokati : hhmm Kakang..jadilah ksatria, jangan berlaku pengecut menghindar dari tanggung jawabmu...telah engkau mainkan hasrat Sukesi mereguk kenikmatan madu asmaranya...setelah anak-2mu lahir sebagai yaksa...kau hindari mereka karena semuanya mempertontonkan kegagalanmu mengendalikan diri..seperti itulah laku seorang ksatria ?...sungguh mengecewakan...tidak ada tanggung jawab dan menuntaskan dosa perbuatanmu...Sukesi sekarang owah, tidak tahu apa yang harus di lakukan...tidak adakah upayamu menyelesaikan kerusakan yang sudah engkau mulai kakang?
Wisrawa: Aduuh Lokati..apa yang harus aku perbuat?
Lokati: Ajak Sukesi memangkas kesombongannya, sebagai wanita tiada banding yang bergelut nafsu, hingga tidak memperdulikan moral mengundang suami orang...basuh kerak-kerak kesombongan itu dengan pengertian akan kehinaan...nikmati kehinaan itu sebagai cerminan penyesalan menuju pertobatan...aku akan membantu dengan keikhlasanku...agar, kakang berdua memiliki anak ksatria, sebagai penyeimbang dari anak-2 yaksamu yang akan bersifat perusak.
Wisrawa: Lokati...aku tidak sudi mendekati Sukesi lagi....aku tidak ingin melukaimu lagi Dewiku...
Lokati: Aku sudah tidak bisa terluka lagi kakang....dunia kita sudah berbeda...kita tidak akan pernah bersama lagi.
Dengan gontai Wisrawa bangun dari semedinya menjumpai Sukesi. Diperhatikannya perempuan muda ini...Wisrawa menggelengkan kepalanya, sungguh barulah dia tersadar, betapa sesungguhnya Lokati memiliki kecantikan yang lebih anggun dari gadis muda di hadapannya ini...makin dalam penyesalan Wisrawa, untuk gadis genit ini, dia telah kehilangan mustika luarbiasa dalam wujud Batari Lokati.
Atas doa dan keikhlasan Lokati, Wisrawa membimbing Sukesi untuk memahami dosa-dosa mereka dan pelampiasan nafsu tiada tara yang membuat anak-2 yaksa mereka lahir. Saat membimbing Sukesi itu, Wisrawa merasa ada tarikan yang sangat kuat agar dia menggauli Sukesi..sesaat Wisrawa berontak, namun ketika dilihatnya wajah Sukesi begitu teduh, nampaklah bayangan Lokati tersamar di wajah Sukesi...Wisrawa mendesah, bibirnya terus mendesah memanggil-manggil Lokati sambil melaksanakan Asmaragama dengan Sukesi..hubungan suami istri yang santun, tanpa dikotori nafsu syahwat yang menggelora. Sukesi mendengar desahan Wisrawa, batinnya menangis, sadarlah dia...apa yang selama ini dia nikmati bersama Wisrawa adalah kehinaan sejati. Dibiarkannya Wisrawa membelai tubuhnya dalam kepasrahan wanita yang kalah ambeg.
Delapan purnama berlalu, Dewi Sukesi melahirkan bayi tampan berkulit putih pucat, bayi ini memiliki senyum yang menyejukkan...inilah lambang sifat Mutmainah..sifat bijak dan adil yang akan menyeimbangkan sifat-2 angkara yang sudah dilahirkan sebelumnya...Wisrawa menghela nafas lega...diberinya nama bayi itu Gunawan Wibisana.
Belum sepasar usia Wibisana, angkatan perang Lokapala sudah rapat mengepung negeri Panglebur Gangsa. Pasukan itu dipimpin sendiri oleh Prabu Danapati. Wisrawa sadar inilah saatnya...waktunya sudah tiba untuk menyelesaikan penebusannya...dia harus menghadapi anaknya sendiri.
Wisrawa: Anakku ngger Danaraja...sareh disik kaki...jangan sampai engkau salah langkah. Rama tahu maksud kedatanganmu...dan Rama juga tahu inilah saatnya Rama sudahi petualangan penuh dosa Rama di tanganmu Nak...maafkan ayahmu ini Danaraja.
Danaraja: Hhmm...jadi hanya begitu saja Rama...Begawan pinunjul, menawarkan diri menjadi duta, ternyata berenang di kubangan kotor yang dibuatnya sendiri..seperti TENGU MANGAN BRUTU...bak kutu memakan brutu yang harus di jaganya...sungguh hina dan tak patut...
Wisrawa: Ya anakku...tak habis penyesalan Rama lantunkan atas semua kekhilafan ini ngger...karena itu Danaraja, hunuslah Gandik Kencana pemberian Hyang Brahma...hanya dengan cara itu, aku bisa menuntaskan kekacauan yang aku buat...
Danaraja : Dan aku akan menjadi anak yang durhaka...begitukah Rama berharap?
Wisrawa: Tidak Danaraja...tugasmu ini bukanlah pelampiasan dendam...karena tidak ada dendam antara ayah dan anak...justru, apa yang engkau lakukan adalah wujud tanggung jawabmu sebagai anak kinasihku...menyempurnakan lakuku...agar tuntas penebusanku pada pengkhianatan-2ku..pengkhianatan pada ibumu, padamu dan pada kebajikan itu sendiri...hunuslah Gandik Kencanamu Danaraja...rasakan apa yang akan terjadi...percayalah pada Rama.
Ragu-ragu Danaja menghunus Kyai Gandik Kencana pemberian Hyang Brahma..pusaka sakti Gandik Kencana terlepas dari werangkanya dan menghunjam tubuh Wisrawa. Resi tua itu tersungkur di hadapan Danaraja. Jerit memilukan keluar dari kerongkongan Sukesi, sebelum tubuh Wisrawa jatuh ketanah, dipeluknya tubuh begawan itu dari belakang sambil ditekannya ujung Gandik Kencana yang menembus tubuh Wisrawa ke dadanya...Sukesi mati sampyuh bela pati pralayanya Wisrawa.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


