Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Pandawa Dicela

Kamis, 9 Juli 2015

KISUTA.com - Ketika perang hampir usai, Balarama, kakak Krishna sampai di medan Kurusetra. Ia baru saja selesai berziarah ke tempat-tempat suci. Ia datang persis ketika pertarungan Bima dan Duryudana hampir usai, dengan kekalahan pangeran Kurawa. Balarama melihat bagaimana Bima meremukkan paha Duryudana. Melihat pelanggaran tradisi pertarungan satu lawan satu itu, Balarama amat marah.

Teriak Balarama: "Hai, hentikan! Kalian tidak mengindahkan peraturan perang. Seorang kesatria tidak boleh memukul di bawah perut. Bima ini telah melanggar aturan perang." Dia hampiri saudaranya, Krishna dan katanya: "Engkau melihat pelanggaran itu dan membiarkannya. Tapi, aku tak bisa membiarkan kecurangan ini!" Setelah berkata demikian, ia melangkah maju dan akan menyerang Bima dengan senjata bajaknya. Bajak adalah senjata pamungkas Balarama, sama seperti Krishna yang memiliki senjata cakra.

Krishna khawatir dengan apa yang dilakukan Balarama. Ia segera berlari menghalangi kakaknya yang mendekati Bima. Katanya: "Pandawa adalah sahabat dan kerabat dekat kita. Mereka telah menjadi korban perbuatan jahat Duryudana. Ketika Drupadi dipermalukan di depan umum, Bima bersumpah: 'Suatu hari nanti, aku akan remukkan paha Duryudana dan membunuhnya dengan gada ini.' Waktu itu, ia ucapkan sumpah ini dan semua orang tahu itu. Seorang kesatria wajib memenuhi sumpah yang ia ucapkan. Jangan biarkan amarah mempengaruhi penilaianmu dan salah menilai para Pandawa yang tidak berdosa. Sebelum menyalahkan Bima, sebaiknya engkau melihat dulu kejahatan-kejahatan yang dilakukan para Kurawa pada Pandawa. Jangan menilai suatu peristiwa lepas dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya. Engkau tidak bisa menafsirkan suatu peristiwa dari keseluruhan peristiwa yang melingkupi.

"Jika demikian, penilaian akan keliru. Zaman kaliyuga, yaitu zaman di mana aturan dan tradisi masa lalu tidak bisa diterapkan lagi, telah tiba. Bima tidak bersalah karena ia menyerang orang yang telah berulang kali mengancam nyawanya. Karena Duryudanalah Karna melepaskan tombak dari belakang dan meremukkan busur Abimanyu yang sedang dikeroyok para kesatria Kurawa. Putra Arjuna yang masih belia dikepung sejumlah kesatria Kurawa sementara ia sendirian di medan perang. Setelah busur dan keretanya dihancurkan, Abimanyu dibantai secara keji. Sejak lahir Duryudana telah berbuat jahat dan membawa rakyatnya ke jurang kehancuran. Membunuh orang sejahat itu tentunya bukan dosa. Bima menyaksikan perbuatan-perbuatan jahat sejak lama dan memendam amarahnya sejak tiga belas tahun. Duryudana tahu persis Bima bersumpah untuk meremukkan paha dan membunuhnya. Ketika menantang putra Pandu yang memendam dendam, sama saja Duryudana memberikan kesempatan pada Bima untuk menuntaskan dendamnya. Sekarang, katakan apa kesalahan yang dilakukan Bima?"

Kata-kata Krishna tidak mengubah pendapat Balarama. Meskipun demikian, amarah Balarama sudah jauh berkurang. Ia menanggapi kata-kata Krishna dengan berkata: "Duryudana akan sampai di surga dan tinggal di tempat yang disediakan untuk para kesatria yang gagah berani. Kemasyhuran Bima akan ternoda untuk selama-lamanya. Orang-orang akan mengatakan bahwa putra Pandu melanggar aturan perang ketika menyerang Duryudana. Perbuatan rendah ini akan mencemarkan keharuman nama Bima untuk selama-lamanya. Sebaiknya aku pergi saja." Setelah berkata demikian, Balarama yang gusar segera kembali ke Dwaraka.

Kata Krishna: "Yudhistira, mengapa engkau diam saja?"

Jawab Yudhistira: "Oh Madhawa, aku sedih melihat Bima menginjak-injak badan dan kepala Duryudana yang sedang sekarat. Aku melihat kiamat golongan kesatria. Kami memang disalahkan oleh para Kurawa. Aku tahu persis kesedihan dan amarah yang ada di hati Werkudara dan aku tidak ingin menyalahkannya. Kita telah membunuh Duryudana yang berbuat jahat karena nafsu serakah dan kedangkalan pikir, apa gunanya sekarang memperdebatkan apakah perbuatan Bima etis atau tidak atau kepantasan balas dendam orang yang telah banyak mengalami perbuatan jahat?"

Yudhistira tampak amat gundah. Ketika orang melanggar nurani, pembenaran diri atau alasan pun tidak akan banyak memberikan ketenangan batin. Arjuna yang sangat cerdas hanya diam saja. Dia sama sekali tidak memperlihatkan sikap menyetujui atau menentang tindakan Bima. Namun demikian, banyak orang yang ada di sana mengutuk perbuatan-perbuatan jahat Duryudana. Mereka membicarakan dosa dan kesalahan yang dilakukan Duryudana. Krishna menoleh kepada mereka dan berkata:

"Wahai para kesatria, tidak sepantasnya kita membicarakan kejelekan musuh yang telah kalah dan luka parah. Sebaiknya kita tidak membicarakan kejelekan orang yang sedang menanti ajal. Dia memang dungu dan memilih sendiri jalan kehancuran. Dia terjerumus ke dalam pergaulan dengan orang-orang jahat dan terkutuk. Ayo kita tinggalkan tempat ini."* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya